Kisah Sedih Dwi Josi, 14 th Hidup Tanpa Alat Kelamin & Impian Menjadi Lelaki yg Tertunda...

Dwi Josi sampai selama ini diperlakukan sebagai perempuan
Dwi Josi banyuwangi alatkelamin tanpa kelamin penyimpangan gen kelainan kelamin viralnow
0
detikcom @detikcom
Kisah Miris, Bocah ini Selama 14 Tahun Hidup Tanpa Alat Kelamin detik.id/6coXRM pic.twitter.com/sjSmVi0tgF
Expand pic

Kisah miris dialami Dwi Josi, bocah asal Banyuwangi. Selama 14 tahun, bocah kelas 6 SD ini hidup tanpa punya alat kelamin.
Kondisi ini dikarenakan akibat kelahiran yang tak normal. Dwi Josi dilahirkan tanpa alat kelamin dan usus yang keluar dari perut.
Namun meski mengalami kelainan fisik, anak kedua dari Sumarni (41) ini tetap ceria. Semangatnya belajar di SDN VI Genteng Kulon, Kecamatan Genteng tak pernah kendur.
"Tetap ingin sekolah. Saya pengen jadi dokter karena banyak uangnya," ujar Dwi Josi, saat bercerita pada wartawan di sekolahnya, Selasa (1/8/2017).
Untuk mewujudkan mimpinya tersebut, Dwi Josi belajar dengan giat. Meskipun selama menerima pelajaran sekolah, dirinya tak pernah duduk. Ini dikarenakan Dwi Josi tak memiliki tulang penyangga di bagian belakang. Sehingga, jika duduk berlama-lama Yosi selalu kecapekan.
Jika dilihat sepintas, Josi terlihat sehat. Hanya saja tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Maklum saja, di usia 14 tahun, bobot tubuh Josi hanya 16 kilogram.
Sementara setiap hari, Yosi terus memakai pampers (popok) untuk melindungi ususnya dari iritasi. Selain itu, untuk buang air besar, disalurkan di bagian kanan perut, sedangkan saluran kencing dari lubang kecil di bawah perut.

Jer.. @nganudek
@detikcom Kenapa harus dilihatin muka si anak sih?
kr1sd @p4piKRiS
@detikcom mbok ya nama si anak disamarkan dan tidak dipajang fotonya. Ingat scr psikologis si anak hrs dilindungi lah. sensitif dikit lah min...
sakhaibadilabid @sakhaibadilabid
Bocah Tanpa Alat Kelamin, Dokter: Secara Genetik Dwi Laki-laki - Bocah Tanpa Alat Kelamin, Dokter: Secara Genetik Dwi Laki-laki

Namun, dari hasil pemeriksaan luar medis yang dilakukan oleh Puskesmas Genteng, Dwi Josi berjenis kelamin laki-laki.
"Secara genetik Dwi Josi ini laki-laki. Terlihat dari tulang, bentuk panggul dan tidak menstruasi pada usia segini. Kalau wanita kan menstruasi," ujar dr Yos Hermawan, Kepala Puskesmas Genteng kepada detikcom, Rabu (2/8/2017).
Terkait dengan rencana operasi, kata dr Yos, pihaknya menyerahkan kepada petugas medis RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Karena penanganan seluruh operasi akan dilakukan di Surabaya. Termasuk penentuan kelamin laki-laki atau perempuan diserahkan sepenuhnya kepada petugas medis Dr Soetomo.
"Antara keinginan, spesifikasi dan kemampuan teknis petugas harus ketemu. Kita tahu keinginan Dwi Josi ingin menjadi laki-laki. Tapi keinginan itu saja belum bisa jadi syarat menentukan kelamin," tambahnya.

Keinginan Dwi Josi sendiri menjadi seorang laki-laki...

detikcom @detikcom
Bocah Tanpa Alat Kelamin akan Kenakan Seragam Laki-laki detik.id/6JSJVF pic.twitter.com/ldWOeWsL3B
Expand pic

Kata Psikolog...

"Rencananya besok Senin (7/8/2017) Jossy sudah pakai celana. Karena dia pengennya jadi laki-laki," ujar Mieke, salah satu guru Jossy, kepada sejumlah wartawan, saat berkunjung dirumah Jossy, Minggu (5/8/2017).
Sebelumnya pihak sekolah sudah memberitahukan kepada teman-teman Dwi Jossy, jika dia merupakan siswa berkebutuhan khusus. Dan teman-teman Jossy memahami.

detikcom @detikcom
Keinginan Bocah Tanpa Kelamin Jadi Laki-laki Harus Didukung detik.id/6LkbQi pic.twitter.com/ZT8xd8xAoy
Expand pic

"Manusia itu sudah ditentukan laki-laki atau perempuan. Namun dari kasus ini belum ditentukan karena tidak ada kelamin. Keinginan Dwi Jossy menjadi seorang laki-laki bisa dilihat dari hormon yang ada dalam tubuhnya. Jika memang hormon laki-laki lebih dominan seyogyanya didukung untuk menjadi laki-laki," ujar Betty Kumala F., M.Psi., pakar Psikologi di Banyuwangi, kepada detikcom, Sabtu (5/8/2017).
Dukungan ini, kata Betty, sangat penting untuk membentuk karakter Dwi Jossy dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, Dwi Jossy akan mengalami depresi, tekanan mental dan lebih parah bisa memiliki kepribadian ganda.
"Dukungan ini pertama harus dari keluarga dan lingkungan rumah dan sekolah. Jika dipaksakan menjadi perempuan nantinya muncul kecemasan dan tekanan jiwa. Mengikuti keputusannya akan menjadikan dia lebih percaya diri dan mandiri," tambahnya.

Fitry @RiniFitry
@detikcom Lebih elok kalau foto anak ini kau blurkan, min. Kasihan. :(
David Danzhou @davidreQborne
@detikcom Media besar kok sembarangan aja.. parah cuy.. @tribunnews jga sama, mulai smbarangan

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.