Meluruskan Pro dan Kontra Perppu Nomor 2 Tahun 2017 | By @PartaiSocmed

Perppu No 2 Tahun 2017 itu adalah obat. Yg namanya obat memang pahit rasanya tapi diperlukan jika ingin sembuh.
publicpolicy ormas radikal radikalisme ham @Kurawa perppu
0
#99 @PartaiSocmed
Meluruskan Pro dan Kontra Perppu Nomor 2 Tahun 2017 pic.twitter.com/6xX4nnl4oK
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Sebelumnya perlu kami tekankan terlebih dahulu bahwa Perppu No 2 Tahun 2017 ini adalah tentang Organisasi Kemasyarakatan alias ORMAS pic.twitter.com/ELiUO69bc8
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Sebab banyak yg salah paham atau sengaja menyalah pahami seolah Perppu No 2 Tahun 2017 ini sebagai pintu kembalinya otoritarianisme pic.twitter.com/UfezMFABip
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Dengan mengacu pada Pasal 59 yg salah satu pointnya menyinggung tentang penistaan atau penodaan terhadap agama tertentu pic.twitter.com/GO4iUmB8zw
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Memang mudah menggiring opini seolah pasal tentang penistaan agama dalam Perppu tersebut merupakan pasal karet yg bisa jadi alat represif
#99 @PartaiSocmed
Padahal Perppu tersebut spesifik tentang Ormas yg tidak mungkin diterapkan pada individu seperti kasus Ahok contohnya.
#99 @PartaiSocmed
Jadi yg coba dilakukan akun @kurawa adalah memanfaatkan trauma atas kasus Ahok untuk menyerang Jokowi dengan argumen yg tidak nyambung.
#99 @PartaiSocmed
Tapi bagi yg tidak kritis dan tidak tahu kepada siapa @kurawa sekarang mengabdi akan mudah terpengaruh terprovokasi mengecam Jokowi.
#99 @PartaiSocmed
Jelas Perppu No 2 Tahun 2017 itu tidak mungkin bisa digunakan sebagai pasal karet utk membungkam individu krn spesifik ditujukan utk Ormas
#99 @PartaiSocmed
Jadi kekhawatiran yg berlebihan Perppu ini dapat menjadi alat otoritarianisme yg melebihi orde baru spt bahasa lebay @kurawa terbantahkan!
#99 @PartaiSocmed
Sebaliknya, siapa yg wajib khawatir dgn Perppu ini? Jawabannya, Ormas terutama Ormas yg selama ini dikenal sebagai Ormas radikal
#99 @PartaiSocmed
Silakan dibaca baik2 ormas mana sih yg paling terancam oleh poin2 dalam Perppu ini? Apakah ormas pada umumnya atau ormas2 radikal? pic.twitter.com/2rDKhWMG6P
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Lalu jawablah pertanyaan penting ini: Apakah kondisi bangsa ini sedang baik2 saja atau sedang terancam olh radikalisme yg semakin menguat?
#99 @PartaiSocmed
Jika memang bangsa kita dianggap sedang baik2 saja maka jalankan "business as usual". Tidak perlu perppu perppu-an
#99 @PartaiSocmed
Tapi jika memang saat ini bangsa kita sedang terancam keutuhannya oleh makin menguatnya intoleransi dan radikalisme maka kita butuh obat
#99 @PartaiSocmed
Perppu No 2 Tahun 2017 itu adalah obat. Yg namanya obat memang pahit rasanya tapi diperlukan jika ingin sembuh.
#99 @PartaiSocmed
Bahkan jika diperlukan amputasi demi menyelamatkan nyawa pasien maka amputasi pun harus dilakukan tanpa ragu2.
#99 @PartaiSocmed
Persoalannya masyarakat kita ini sering egois dan curang, mau hasilnya tapi tak mau membayar harganya.
#99 @PartaiSocmed
Pingin Indonesia seaman jaman Pak Harto tapi menjerit2 histeris seolah langit akan runtuh hanya karena Perppu
#99 @PartaiSocmed
Lalu marilah kita bicara tentang skala prioritas. Lebih penting mana keberlangsungan bangsa ini atau eksistensi ormas2 radikal itu?
#99 @PartaiSocmed
Jika kita anggap eksistensi ormas2 radikal itu lebih penting dari keberlangsungan bangsa ini maka kita tak butuh Perppu.
#99 @PartaiSocmed
Tapi jika kita menganggap keutuhan NKRI diatas segalanya, maka negara harus memiliki mekanisme bertahan terhadap serangan2 terhadapnya
#99 @PartaiSocmed
Keselamatan dan keutuhan bangsa ini sedang terancam oleh radikalisme dan kebencian. Dan ancaman itu nyata di depan mata kita.
#99 @PartaiSocmed
Mau bukti? Tengoklah di lingkungan kita sendiri. Brp banyak teman2 yg dulu ramah dan menerima perbedaan sekarang jadi asing karena radikal?
#99 @PartaiSocmed
Tengok pula facebook kita. Berapa banyak teman2 yg dulu akrab dan toleran sekarang berubah jadi tak kita kenal karena menjadi radikal?
Load Remaining (14)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.