0
Eliya @eliya_mkom
Bicara soal Pilkada atau Pilpres ada fenomena baru yg muncul paska kekalahan ahok dalam pilkada DKI 2017. Mau nyimak gak tuips fenomena ini.
Eliya @eliya_mkom
Pilkada DKI membelah bangsa ini menjadi 2 bagian, ini akibat tindakan ahok yang gunakan isu Al Maidah utk menang, ternyata berbuah penjara.
Eliya @eliya_mkom
Semua paham, semua tahu, strategi itu awalnya ditujukan utk memenangkan pertarungan, sudah dites berkali kali, ahok yakin banget menang.
Eliya @eliya_mkom
Ternyata senjata makan tuan, dipikir air beriak tanda tak dalam, ketemunya, air tenang menghanyutkan, dalam menenggelamkan. Kasihan ahok.
Eliya @eliya_mkom
Senjata makan tuan inilah yang memicu reaksi, aksi dan reaksi ini menciptakan fenomena baru, belah dua bangsa, kubu pro ahok dan kontra ahok
Eliya @eliya_mkom
Bahasa frontalnya, pro penista agama dan kontra penista agama. ahok hanyalah lambang, krn pendukungnya juga meneguhkan prinsip yg ahok itu.
Eliya @eliya_mkom
Dalam pertarungan opini, pro ahok berjibaku gunakan segala cara mencari pembenaran apa yang dilakukan ahok, tak peduli hina agama sendiri.
Eliya @eliya_mkom
Tak terasa pergulatan beberapa bulan benar benar menancapkan dalam pikiran dan hati para pendukung ahok, jadi sesuatu yg amat diyakini.
Eliya @eliya_mkom
Pro ahok bukan hanya para buzzer, tapi termasuk para tokoh dan parpol pendukung, termasuk pemerintah yang mempertontonkan dukungan pada ahok
Eliya @eliya_mkom
Gimana gak mendukung ahok, menkumham yg mengurusi tentang hukum antarkan ahok ke penjara mako brimob, pakai selfie segala, dipertontonkan.
Eliya @eliya_mkom
Belum lagi aparat yang terus menerus melakukan kriminalisasi terhadap ulama yg dianggap miliki peran penjarakan ahok dikasus penistaan agama
Eliya @eliya_mkom
Jadi sudah jelas bahwa terbelahnya bangsa jadi 2 ini, disebabkan kelompok pro ahok, yg aktif beraksi, kontra ahok cuma bereaksi, aksi-reaksi
Eliya @eliya_mkom
Fenomena baru terkait Pilkada dan Pilpres adalah, soal memunculkan calon dan kandidat yg akan diusung, berubah dibanding era era sebelumnya
Eliya @eliya_mkom
Dulu kalau mau munculkan nama, selalu di detik detik terakhir, agar tidak dikriminalisasi, di black campaign hancurkan elektabilitas.
Eliya @eliya_mkom
Dikekinian, jika yg mengusung calon itu adalah pro ahok, akan mengalami nasib dibuly habis, elektabilitas merosot, bahkan bisa gagal nyalon.
Eliya @eliya_mkom
Contoh fenomena pro ahok nyalon ini adalah RK, dicalonkan mendahului waktu dan kandidat lain, RK dibuly habis, elektabilitas merosot, ancurr
Eliya @eliya_mkom
Karena yang nyalonkan RK parpol pendukung ahok yg jadi terpidana kasus penistaan agama, bahkan RK beberapa kali keluarkan statement pro ahok
Eliya @eliya_mkom
RK terbawa suasana, krn yang nyalonkan parpol pendukung ahok, mau tak mau menyampaikan visi, misi dan statement mirip mirip ahok. Tak sadar.
Eliya @eliya_mkom
Otomatis publik yg masih tergiang ucapan ahok di pulau seribu langsung antipati pda RK, elektabilitas merosot, mungkin batal nyalon. Kasihan
Eliya @eliya_mkom
Berbeda dengan tokoh atau kandidat yang didukung oleh pihak kontra ahok, tokoh seperti ini akan langsung dikriminalisasi oleh penguasa.
Eliya @eliya_mkom
Kriminalisasi gaya lama, dicarikan kesalahan dosa masa lalu, bahkan bisa jadi masalah sepele seperti yang dialami oleh Samad, administratif
Eliya @eliya_mkom
Kriminalisasi oleh penguasa ini justru menyebabkan tokoh atau kandidat tsb mendapat simpati dan dukungan dari publik, elektabilitas meroket.
Eliya @eliya_mkom
Yang di alami hari tanoe adalah contoh tokoh yg dikriminalisasi penguasa, justru mendapat simpati dan dukungan dari publik. Gratisan lagi.
Eliya @eliya_mkom
Pro ahok boleh saja menuduh bahwa yang bersimpati pada hari tanoe, merupakan buzzer bayaran, yakin itu tak benar, yakin itu gretongan.
Load Remaining (27)

Comment

bolavada @bolavada 07/07/2017 04:05:38 WIB
FREEBET dan FREECHIP, BONUS DAN CASHBACK Ubah Keberuntungan Kamu Menjadi Pundi Pundi Uang Yuk chat aku di BBM: D*8*9*C*C*5*1*5 Line: B*o*l*a*v*a*d*a* FB: B*o*l*a*v*a*d*a*
Login and hide ads.