0

Indonesia merupakan salah satu negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Maka sudah menjadi hal yang wajar jika setiap datang bulan Ramadhan, para umat Islam di Indonesia selalu disambut dengan suka cita.

Berbagai cara atau tradisi menyambut bulan suci Ramadhan digelar di berbagai daerah. Masing-masing daerah tentu memiliki tradisi yang berbeda untuk perayaan jelang memasuki bulan Ramadhan 1458 Hijirah. Seperti makan bersama, mandi bersama, silaturrahmi ke rumah orangtua dan ziarah kubur.

Meski berbeda, namun tetap memiliki semangat yang sama, tanpa mengurangi nilai-nilai ke-Islaman-nya. Apa saja tradisinya? Berikut rangkumannya...

Asmara Subuh merupakan kebiasaan yang sudah menjadi tradisi dari masa ke masa. Meski kesannya negatif dengan awalan ‘asmara’ yang dilakukan pada bulan Ramadhan, namun tak sedikit para remaja yang mengaku asmara subuh merupakan ajang ngumpul-ngumpul bergembira. Selengkapnya......

Salah satu tradisi yang tak ketinggalan jelang Ramadhan adalah ziarah. Ziarah kubur ke makam orangtua yang sudah meninggal wajib dilakukan. Tak hanya mendoakan, si anak akan membersihkan makam yang sudah kotor ditumbuhi oleh tanaman-tanaman parasit. Sepertinya tradisi ini tak hanya ada di beberapa daerah saja, pasalnya ada di seluruh daerah Indonesia. Selengkapnya....

Munggahan berasal dari kata unggah, yang berarti naik ke atas. Dalam bahasa Betawi, munggahan adalah hari-hari terakhir sebelum datangnya Ramadhan, dimana anak-anak yang sudah menikah, namun masih memiliki orangtua, sang anak akan datang ke rumah orangtuanya untuk membawakan makanan.

Tak hanya Betawi, namun juga dilakukan oleh orang sunda. Namun bedanya munggahan di sunda yaitu berkumpul sambil menikmati sajian makanan yang disuguhkan. Selengkapnya....

Tradisi Balimau yaitu membersihkan diri dengan berendam atau mandi bersama-sama di sungai atau tempat pemandian. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Minang. Biasanya tradisi ini dilakukan dari matahari terbit hingga terbenam sebelum bulan Ramadhan. Selengkapnya.....

Megibung adalah acara makan bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai tatakannya. Tradisi ini dilakukan kaum muslim jelang Ramadhan di daerah Bali. Selengkapnya.......

Dugderan merupakan tradisi masyarakat Semarang sejak 1881. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari kata “Dug” dan “Der”. Kata Dug diambil dari suara dari bedug masjid yang ditabuh berkali-kali sebagi tanda datangnya awal bulan Ramadhan. Sedangkan “Der” berasal dari suara dentuman meriam yang disulutkan dengan tabuhan beduh. Tradisi ini digelar kira-kira 1- 2minggu sebelum bulan suci datang. Selengkapnya........

Tradisi jalur Pacu merupakan tradisi menyambut Ramadhan bagi masyarakat Riau. Tradisi ini mirip dengan lomba dayung karena memang prosesinya di gelar di sungai-sungai. Tradisi ini hanya digelar satu tahun sekali, dan ditutup dengan “Balimau Kasai” atau bersuci menjelang matahari terbenam hingga malam. Selengkapnya......

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.