20/04/2017 22:47:08 WIB

Netijen Ini Kritik Turis Indonesia Kurang Beretika Di Jepang

Travelling ke Jepang, netizen Indonesia melihat tindakan turis Indonesia lain yang tidak membuang sampah di restoran yang budayanya membuang sampah sendiri
turisindonesia etika Jepang
mrspersona 1154 View 0 comments
Add to Favorite
0
Login and hide ads.
  • sumber halaman facebook Tyas Palar: https://www.facebook.com/tyas.palar/posts/10155453469474411

    Minggu lalu saya akan terbang kembali ke Jakarta melalui Bandara Haneda, Tokyo. Oleh karena hari masih pagi, saya dan ibu sarapan terlebih dahulu di deretan restoran di lantai di atas lantai check-in. Saya dan ibu memilih makan di deretan meja dan kursi publik, bukan bagian dari restoran mana pun. Hal ini memang dibolehkan. Jadi kita bisa memesan makanan dari restoran mana pun di sekitar situ dan membawanya untuk disantap di area publik tersebut.

    Di sekitar kami ada beberapa kelompok turis Indonesia yang juga sedang makan. Saya tidak begitu memperhatikan, sampai saya berjalan ke salah satu restoran untuk memesankan kopi untuk ibu saya. Salah satu rombongan turis Indonesia itu telah pergi, menyisakan meja yang berantakan seperti yang saya foto. Bukannya membuang sampah sendiri ke meja makan dan mengembalikan baki ke restoran awal seperti seharusnya. Mungkin mereka berpikir ini seperti di Indonesia, akan ada pelayan atau petugas yang membersihkan. Padahal tidak ada. Sampai lebih dari setengah jam kemudian ketika saya dan ibu akhirnya meninggalkan tempat tersebut, tidak ada yang membereskan meja mereka. Karena memang sebetulnya tidak ada petugasnya. Dan padahal, meja rombongan ini hanya beberapa meter jauhnya dari deretan tempat sampah!

    (Kemarin-kemarin selama di Jepang, apa mereka tidak memperhatikan seperti apa seharusnya berperilaku di Jepang? Apa sibuk foto-foto untuk Instagram saja?)

    Dan perhatikan deh.. rombongan turis ini bahkan tidak merapikan peralatan makan bekas dan sampah mereka ke atas baki. Teman saya, seorang mahasiswi Indonesia yang belajar di Jepang dan bekerja sambilan sebagai pramusaji, mengeluh, "Yang seperti ini paling merepotkan, bikin lama, karena pelayan harus membereskan dulu ke atas baki."

    Calon orang yang duduk berikutnya juga kesulitan untuk sekedar meminggirkan saja baki-baki tersebut, karena kalaupun baki dipinggirkan, tetap ada sampah yang bertebaran di atas meja. Walhasil, meja-meja itu tidak digunakan orang sampai saya dan ibu pergi.

    Masih ada hal dahsyat yang terjadi sesudah itu. Di samping saya dan ibu, duduk dua laki-laki Indonesia. Sudah berumur Pak, Bu, lebih tua dari saya. Bukan anak kecil yang masih harus diajari. Mereka rupa-rupanya mau pindah ke meja lain di mana teman mereka, seorang perempuan, duduk. Salah seorang laki-laki itu berdiri, melangkah menjauh, meninggalkan serpihan sampah berupa robekan kertas pembungkus sedotan, bon, dan entah apa lagi di atas mejanya.

    Saya panggillah dia, “Mas, tempat sampahnya di sana.”
    Dia berputar menghadap saya, dengan senyum mengejek berkata, “Terus kenapa? Nanti juga ada yang beresin!”
    Laki-laki dewasa Pak, Bu, punya uang untuk jalan-jalan ke Jepang, bereaksi begitu!

    Tapi kalau dia kira saya bakal kalah, dia keliru. Saya tetap menunjuk sampah di meja yang ia tinggalkan, “Nggak ada yang beresin. Lihat itu dari tadi meja-meja itu nggak ada yang beresin.” Karena ada ibu, saya masih tahan deretan kata-kata yang ingin saya berondongkan kepadanya.

    Akhirnya ia kalah, memunguti dan membawa sampahnya, tetap dengan wajah tidak rela.

    Lalu pindah mejanya ke mana? Ke meja di samping tempat sampah! Kok ya tadi mau bawa sampah sendiri saja susah betul ya padahal ternyata pindahnya ke situ? Benar-benar ‘malu-maluin’.

    Kenapa ya, banyak orang Indonesia, kelas menengah dan berduit sekalipun (yang dalam harapan kita tentunya lebih terdidik dan tahu adat), yang susah tertib? Padahal tertib itu sesungguhnya memudahkan bagi diri kita sendiri dan juga semua orang. (Dalam kasus makan di tempat publik ini, orang berikutnya dapat langsung menggunakan meja dalam keadaan bersih. Bayangkan kalau ini terjadi pada kita, sedang kesulitan cari meja untuk makan, eeeeh semua meja kotor dan berantakan!)

    Sering menghina atau menertawakan turis Mainland yang kelakuannya 'barbar'? Awas, bisa-bisa turis dari negara kita menjadi 'turis Mainland' berikutnya, jorok dan tidak tahu aturan. Yuk, tetap jaga ketertiban dan kebersihan di mana pun kita berada. Yes, termasuk di Indonesia sendiri! Jangan tunggu ke negara lain baru tertib dan taat aturan!

  • kata netter lain:

    Suzhee Odink
    Mungkin krn tdk tahu dan terbiasa di indonesia tiap tempat makan pasti ada yg nantinya bersihin meja dan mungkin dipikirnya sama resto dimana2 pst ada pelayan yg bersihin, jujur saya juga baru tau setelah baca ini, terima kasih sudah berbagi pengalaman. Buat bekal kalo ada rejeki berlibur ke jepang

    Sri Indah Iya..kemarin sy plg melalui Narita ad serombongan ibu" anak" n bapak" menunggu boarding..bukan main berisiknya teriak2 manggil anaknya ngotot"an bicara..pdhal d stasiun kreta setiap hr jutaan org tdk ada suara kecuali suara petugas n suara melangkah cepat..pd dasarnya para turis Indonesia sdh bangga bisa ke LN tp tdk mw belajar budaya n kebiasan warga setempat..lihatnya mallluuu😕

    Ririz Noorrahmi
    Sebenernya McD di Indonesia juga kan ga ada petugas khusus untuk bersihkan baki bekas pelanggan katna udah ada tempat sampahnya. Dan betapa mudahnya buang sampah di McD itu karna semua pakai kertas dan plastik dan pakai baki juga tapi ya kok masih susah sih buang sampah sendiri 😟

    Rahma Khairina
    Ini kejadian nya sama persis kaya waktu IKEA baru buka pertamakali di Indonesia, IKEA yg di negara asalnya self service, tp org2 Indonesia mungkin ga terbiasa ya dgn yg namanya self service, yah maklum aja mbak disini apa2 dr kecil udh terbiasa di layani (di Indonesia tiap rumah hampir selalu ada yg namanya ART) jadi yaa seperti itu deh output nya, itulah salah satu faktor yg menghambat negara Indonesia utk bisa menjadi negara yg maju dan mandiri

Comment

All Categories

Category related to Politician