0
Pasarwarga @pasarwargacom
"Di Indonesia, Tak Ada yang Pribumi!!!" - a-r pic.twitter.com/zwOgrPMJ2p
Expand pic
Pasarwarga @pasarwargacom
Kutipan ini adalah milik George Santayana, filsuf asal Spanyol, yang meletakkan pondasi dasar filsafat klasik Amerika di tahun 1905.
Pasarwarga @pasarwargacom
Kutipan ini kemudian disampaikan kembali oleh Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris di masa Perang Dunia I,
Pasarwarga @pasarwargacom
yang begitu menekankan pentingnya memahami sejarah, agar peristiwa-peristiwa buruk di masa lalu tidak kembali terulang di masa kini & nanti.
Pasarwarga @pasarwargacom
Sejarah itu layaknya kutukan bagi mereka yang tak bisa mempelajari makna di dalamnya.
Pasarwarga @pasarwargacom
Sejarah juga menjadi satu kata kunci untuk memahami pola pikir dan paradigma masyarakat Indonesia kontemporer.
Pasarwarga @pasarwargacom
Sudah berulang kali pelabelan antara pribumi & non-pribumi dibenturkan, menggelindingkan bola salju sentimen kolektif terhadap suatu etnis,
Pasarwarga @pasarwargacom
khususnya etnis Tionghoa, menimbulkan budaya amuk massa yang juga berlangsung secara turun temurun.
Pasarwarga @pasarwargacom
Menilik dari sejarah, interaksi bangsa Nusantara dengan Tionghoa sudah terjalin sejak masa kerajaan Jawa Kuno.
Pasarwarga @pasarwargacom
Catatan paling awal tentang kedatangan bangsa Tionghoa di Nusantara tercatat di abad ke-5 Masehi oleh Fa Hsien,
Pasarwarga @pasarwargacom
seorang biksu Buddhis Tionghoa, yang tiba di Pulau Jawa setelah menempuh perjalanan menyusuri Jalur Sutera hingga tiba di India dan Ceylon.
Pasarwarga @pasarwargacom
Meski demikian, polemik keberadaan Tionghoa baru bermula di kisaran abad ke-16 M, ketika Belanda datang ke Jayakarta...
Pasarwarga @pasarwargacom
(sebelum Batavia, yang saat ini dikenal sebagai Jakarta) & membangun hegemoni kekuasaan di Nusantara yang namanya diubah mjd Hindia Belanda.
Pasarwarga @pasarwargacom
Adalah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, kamar dagang Belanda, yang menangkap sinyal peruntungan ekonomi dari relasi mutual...
Pasarwarga @pasarwargacom
dengan orang Tionghoa yang sudah sejak lama menetap dan memulai usaha perekonomian di Batavia.
Pasarwarga @pasarwargacom
Belanda mencatat di antara tahun 1680 dan 1740, jumlah populasi Tionghoa mencapai 20 persen dari total penduduk Batavia,
Pasarwarga @pasarwargacom
dan Belanda memanfaatkan keberadaan mereka sebagai patron kerja dan kaki tangan yang disebut sebagai “kapitan Cina”.
Pasarwarga @pasarwargacom
Para kapitan bertanggung jawab untuk mengumpulkan hasil rempah dan perkebunan orang-orang lokal.
Pasarwarga @pasarwargacom
Peran kapitan Cina sgt pnting bg Belanda, krn pd saat itu Belanda hrs brsaing monopoli komoditas lada hitam dr prkebunan Banten dg Portugis.
Pasarwarga @pasarwargacom
Kedekatan orang Tionghoa dengan Belanda serta adanya peluang ekonomi telah menarik minat migrasi besar-besaran bagi orang-orang Tionghoa...
Pasarwarga @pasarwargacom
yang masih berada di daratan Tiongkok untuk datang ke Batavia, hingga jumlah populasi Tionghoa di Batavia berlipat ganda dengan cepat.
Pasarwarga @pasarwargacom
Belanda mewaspadai jumlah populasi orang Tionghoa yang sudah melampaui jumlah populasi Eropa di Batavia,
Pasarwarga @pasarwargacom
dan kemudian Belanda mencoba menerapkan sistem kuota keimigrasian untuk mencegah gelombang migrasi dari Tiongkok.
Pasarwarga @pasarwargacom
Tetapi sistem tersebut tidak efektif menghentikan arus migrasi dari kapal-kapal yang telah banyak berlabuh.
Pasarwarga @pasarwargacom
Bagi Belanda, keberadaan orang Tionghoa sangat dibutuhkan untuk memudahkan distribusi kolektif hasil perkebunan dan usaha lainnya.
Load Remaining (40)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.