Ojek from Hell

Pengalaman @ismanhs naik ojek, yang harusnya ke Kedoya, sampai nyasar ke mana-mana.
4
Isman HS @ismanhs
Tadi pengalaman naik ojek paling keren sepanjang hidup saya; menunjukkan bahwa Tuhan memang Mahahumoris.
Isman HS @ismanhs
Dari Central Park, saya naik ojek ke MetroTV di Kedoya. Harusnya saya sudah curiga saat pengojeknya menelengkan kepala, "Kedoya?"
Isman HS @ismanhs
Dan perlu dicatat bahwa saya ini orang Bandung yang buta arah. Boro-boro di Jakarta, di Bandung aja suka nyasar.
Isman HS @ismanhs
Tapi sebuta-buta arahnya saya, tetap bakal curiga kalau perjalanan yang biasanya 15 menitan, gak sampai juga dalam 30 menit.
Isman HS @ismanhs
Dan sang pengojek ini ngotot. Udah saya bilangin, "Saya gak tahu arah." Masih nanya, "Lewat atas atau bawah, Bang?" "Lewat jalan."
Isman HS @ismanhs
Saya nggak bercanda waktu jawab itu. Karena kayaknya sang pengojek itu entah mantan off-roader atau anti-mainstream.
Isman HS @ismanhs
Dari awal aja udah nerobos taman. Lewat gang. Tembus terowongan, yang ada peringatannya, "Awas kepala!" Harus nunduk.
Isman HS @ismanhs
Kemudian, dan ini serius, dia bawa motornya naik jembatan penyeberangan. Empat puluh derajat elevasi.
Isman HS @ismanhs
Kalau ada bapak-bapak jerit histeris, cuman ada dua kemungkinan: naik ojek semacam ini atau penggemar JKT48.
Isman HS @ismanhs
Setelah 30 menit perjalanan seperti itu, otak saya baru kembali restart untuk nanya, "Bener ini ke Kedoya, Bang?"
Isman HS @ismanhs
Dan si Abang ojek jawab, "Oh, benerin aja kalau salah ya, Mas." ... ... ...Lu pikir koreksi ujian?
Isman HS @ismanhs
Akhirnya dia berhenti untuk nanya. Dua kali. Sampai akhirnya dia mencapai pencerahan, "Oh, Kedoya nyang itu!" Jelas bukan pertanda baik.
Isman HS @ismanhs
Ternyata saya dibawa ke Pancoran, saudara-saudara, yang kalau di peta Jakarta itu udah di halaman berbeda dengan Kedoya.
Isman HS @ismanhs
Sang Abang ojek beberapa kali minta maaf. Terus nanya, "Abang buru-buru gak?" Ini, adalah pertanyaan berbahaya.
Isman HS @ismanhs
Kalau ada pengojek nanya, "Buru-buru gak?" jawablah "Ya," hanya jika kita merasa amal baik udah lebih banyak daripada buruk.
Isman HS @ismanhs
Karena begitu saya jawab, "Ya," saat itu juga dia ngebut, dan saya sadar saya menghabiskan seluruh tabungan karma saya untuk selamat.
Isman HS @ismanhs
Lebih keren lagi, begitu sampai daerah Palmerah, sang Abang ojek bilang dengan jumawa, "Udah deket, Mas. Santai!"
Isman HS @ismanhs
...Dan dengan timing yang sangat hebat, mesin motornya padam. Blebekbekbek. Dia cengengesan, "Abis bensin, Mas."
Isman HS @ismanhs
Jadinya kami jalan mencari SPBU terdekat. Saya sampai foto sang Abang ojek sebagai bukti kekerenan. http://t.co/0cb5QaBz
Expand pic
Isman HS @ismanhs
Dia gak enak sendiri, "Tunggu di sini, Mas. Nanti saya jemput." Saya pun menunggu. Di pinggir jalan Jakarta. Pake helm. Dan jaket.
Isman HS @ismanhs
Saya cuma berpikir, "Ini akan lebih pol kalau hujan." Dan air rintik-rintik pun turun. "Oke, saya gak ngomong lagi deh."
Isman HS @ismanhs
Untungnya sebatas rintik-rintik saja. Tidak bikin basah. Tapi cukup untuk bikin saya merasa bodoh. Mahahumoris; bukan kejam.
Isman HS @ismanhs
Akhirnya sang Abang ojek kembali, dan kami melanjutkan perjalanan. Masih dengan gaya off-road dan anti-mainstream-nya.
Isman HS @ismanhs
Saya pernah menulis, "Saya bermimpi akan dunia tempat saya bisa naik ojek tanpa perlu bilang, 'Kayaknya kita menghadap arah yang salah.'"
Isman HS @ismanhs
Saya kayaknya mengucapkan itu tiga kali. Cuman tiga kali. Tapi menjeritkannya sebelas kali.
Load Remaining (10)

Comment

Login and hide ads.
Login and hide ads.