0
The Son Of Papua @arandamawei
Generasi baru Indonesia, "lempar Tangan sembunyi Batu". Pintar sekali tuduh menuduh cari kesalahan & playing victims.
The Son Of Papua @arandamawei
1. Siapakah yg mengajarkan kita demikian? Dengan mudah jawabannya adalah Org-orang yg menjadi panutan kita.
The Son Of Papua @arandamawei
2. Loh salah siapa coba? Salah kita sendiri kan gak bisa menggunakan logika, sehingga dengan muda ikut drama ini?
The Son Of Papua @arandamawei
3. Betul, itu adalah salah kita sendiri krena kemampuan kita dalam mnggunakan logika dan nalar sangat rendah. Akhirnya mudah termakan isu.
The Son Of Papua @arandamawei
4. Tapi kita juga gak sepenuhnya salah, kesalahan kita adalah menjadikan org yg suka lempar tangan sembunyi batu tersebut sebagai panutan.
The Son Of Papua @arandamawei
5. Mengapa di sebut lempar Tangan sembunyi Batu? Karena mreka memukul memakai alat tapi alat tersebut tidak nampak. Bisa di pahami kan?
The Son Of Papua @arandamawei
6. Karena alat tersebut tdk kelihatan, akhirnya kita merasa benar dan saling menuduh dan saling membenarkan posisi kita masing-masing.
The Son Of Papua @arandamawei
7. Mirisnya lagi, ketika kita sedang asik saling tuduh dan membenarkan aegumen kita. Mereka yg mnjadi sutradara drama ini ketawain kita
The Son Of Papua @arandamawei
8. Dalam hatinya, sutradara tersebut mngatakan betapa pintar2 nya artisku dan bodohnya penonton ku.
The Son Of Papua @arandamawei
9. Dan ketika penonton mulai pintar dan malas melihat drama tersebut, lalu disitu dia memainkan peran victim nya.
The Son Of Papua @arandamawei
10. Artis2 nya dia salahkan, lalu di pecat satu persatu. Kemudian sebagai korban nya dia menuduh kesalahan ada di pembuat scriptnya.
The Son Of Papua @arandamawei
11. Pada akhirnya si penulis scriptnya yg menanggung kesalahan, dan pihak PH nya yg menanggung kerugiannya.
The Son Of Papua @arandamawei
12. Si sutradara bebas dari tuntutan karena menaruh kesalahan pada org yg membuat script & artis-artis nya.
The Son Of Papua @arandamawei
Apakah kita udah mati rasa, buta hati, mata dan logika? Sampai kapan hei bangsa Indonesia? Sampai kapan mau ikut drama penistaan agama ini?
The Son Of Papua @arandamawei
Mencari pembenaran itu berbeda dengan mencari kebenaran, pembenaran dapat mematikan kebenaran. Sebuta itu kah Nurani dan insting kalian?
The Son Of Papua @arandamawei
Darah ganti darah, nyawa ganti nyawa? Menghasilkan apa? Menghasilkan kebencian & dendam yg akan di turunkan dari generasi ke generasi.
The Son Of Papua @arandamawei
Ya Yuhan? Kapan kamu menegur bangsa ini? Kapan Engkau mau menyatukan kami? Atau udah di usahakan ya? Kami saja yang bebal dan tdak melihat?😥
The Son Of Papua @arandamawei
Buat apa kebebasan berekspresi jika hanya menjadi penyebab pecahnya bangsa? Kebebasan menjadi masalah? Hanya bangsa bodoh yg melakukannya.
The Son Of Papua @arandamawei
Hanya burung yg lahir dalam sangkar yg bisa menyangka bahwa kebebasan adalah suatu kejahatan.
The Son Of Papua @arandamawei
Mereka membela agama di hiasi dengan kata-kata yg penuh kebencian? Kata kasar, ancaman dan makian. Itu kah bela agama? Dngn mnjadi berdosa?
The Son Of Papua @arandamawei
Jika demikian adanya, maka lebih baik seorang preman yg dermawan di banding menjadi seorang pemuka agama yg korup dan jahat.
The Son Of Papua @arandamawei
Ketika bangsa lain sudah mau pindah ke planet lain, kita masih macet di masalah yg seolah-olah kita terlalu bodoh untuk menyelesaikan nya.
The Son Of Papua @arandamawei
Masalah yg dari jaman batu masih kita jadikan topik utama, apa itu? AGAMA...!!! Prdaban lain mnggunakan agama buat maju, kita kbalikannya.😬
The Son Of Papua @arandamawei
Yang bikin kita tambah terlihat dummy lagi, dr masyrakat gak berpendidikan sampe profesor ikut bicara dan mengompori masalah ini.
The Son Of Papua @arandamawei
Dan yg paling gak masuk akal, adalah negara di bawah kendali pemerintah tdk mampu mengendalikan masalah ini. Ada apa dengan pemerintah?
Load Remaining (16)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.