1
Pesantren Sidogiri @sidogiri
#NgajiTafsir Surah al-Maidah 51. Silahkan dibaca dengan seksama ya twep. pic.twitter.com/7JWu7v4HDV
Expand pic
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Dalam literatur klasik, ada tiga pendapat mengenai sebab turunnya ayat ini. Sbagian mengatakan ayat ini turun dalam kasus Ubadah bin Shamit
Pesantren Sidogiri @sidogiri
yang tidak mau beraliansi dengan orang Yahudi dan Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik yang bersikeras beraliansi dengan Yahudi
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Ia beralasan takut terjadi hal-hal negatif yang menimpa umat Islam di kemudian hari.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Berbeda dengan Imam as-Suddi yang mengatakan bahwa ayat ini turun ketika komunitas munafik terpecah belah pada saat perang Uhud,
Pesantren Sidogiri @sidogiri
ada yang ingin berlindung di bawah payung Yahudi, ada juga yang menjilat kepada Nasrani.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Lain lagi dengan Ikrimah, ia mengatakan ayat ini turun dlm peristiwa Abu Lubabah bin Abdul Mudzir yang diutus Nabi kepada Klan Quraidzah.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Dari tiga versi tersebut, sejatinya bermuara pada satu titik yakni tidak bolehnya seorang Muslim menjadikan non Muslim sebagai auliya’.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Larangan ini tidak hanya berlaku ketika ayat tersebut diturunkan (dalam konteks peperangan) sebagaimana pandangan sebagian kecil kalangan,
Pesantren Sidogiri @sidogiri
tapi juga menyentuh semua kondisi di mananpun dan kapanpun, baik itu dalam situasi perang maupun kondisi damai.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Hal ini sesuai dengan kaidah ushul: العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
Pesantren Sidogiri @sidogiri
“yang dimaksud adalah universalitas lafalnya bukan spesifikasi sebab turunnya”, demikian menurut Sayid ath-Thanthawi dalam al-Wasith-nya.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Selain itu pula, tiga varian pendapat perihal turunnya ayat tersebut yang menurut sebagian orang dalam konteks “penghiatan”
Pesantren Sidogiri @sidogiri
yang kemudian dijadikan kausa (illat) tidak bolehnya ber-muwalah kalau berkhianat kepada umat Islam.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Mafhumnya kalau tidak berkhianat maka boleh, merupakan konklusi yang terlalu terburu-buru.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Sebab, jika illatnya adalah “khianat” maka segala bentuk relasi antara muslim dan non muslim mutlak boleh ketika tidak berkhianat,
Pesantren Sidogiri @sidogiri
dan tidak perlu ada tiga klasifikasi yang telah diuraikan oleh para ulama sebagaimana yang sudah maklum,
Pesantren Sidogiri @sidogiri
yaitu 1) Membenarkan akidah mereka, ini jelas dilarang, dan pelakunya juga kafir, sekalipun dia tidak berkhianat pada orang Islam.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
2) bergaul dengan mereka secara baik (al-mu’asyarah al-jamilah), ini hukumnya sah-sah saja.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
3) condong kepada mereka (ar-rukun ilaihim) dan membela kepentingan mereka (nushrah).
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Tindakan yang ketiga ini juga dikecam oleh syariat kendati ia tidak berkhianat pada orang Islam dan tidak sampai pada taraf kufur.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Kemudian, terkait makna “auliya” dalam ayat di atas tidak melulu bermakna teman karib atau aliansi,
Pesantren Sidogiri @sidogiri
tapi juga bisa bermakna yang menangani sebuah urusan dengan kata lain pemimpin.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Sehubungan dengan ini, Raghib al-Ishfahani mengurai makna kata auliya’ dalam bukunya Mu’jam Mufradat al-Fadzil-Quran hal. 606.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Beliau mengatakan, kata auliya’ yang merupakan bentuk plural kata wali bisa memiliki varian arti,
Load Remaining (14)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.