Share Pandangan ttg Artikel NY Times: The story of how the Arab world came apart | by @_dedizhu |

Chirpified
international
0
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Jadi ceritanya, saya mau share thought dikit terkait reportase yg di-share Gus @sahaL_AS Tadi siang. twitter.com/nytimes/status…
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Namun sebelum memulai, perlu dipisahkan terlebih dahulu terkait deal-deal politik (dan energi) yang pasti ada dibalik setiap konflik.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Artikel tersebut sangat panjang. Gue sendiri menghabiskan total sekitar 3 jam untuk membaca reportase tersebut sampai tuntas.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Lama. Tapi *worth it if u have the spare time*. Krn kita tidak dibawa menyelami konflik di TimTeng menggunakan kacamata ipoleksosbudhankam,
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Melainkan dari sudut pandang para warga Timur Tengah itu sendiri. Ya, sudut pandang mereka yang hari ini masih bertahan hidup.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Ada Laila Soueif (60 th, Mesir), seorang ibu dan janda dari keluarga yang senantiasa kritis kepada pemerintah Mesir sejak jaman Mubarak.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Ada Wakaz Hassan (22 th, Irak), seorang buruh pekerja bangunan yg jadi petarung ISIS (skrg tahanan). Karena gajinya yang besar ($400/bln).
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Lalu ada dokter Azar Mirkhan (41 th, Iraq/Kurdistan), yang lagi cuti untuk menjadi pejuang Pesh Merga untuk menghadang ISIS.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Majd Ibrahim (24 th, Suriah), seorang pengungsi dari Stalingrad-nya Suriah. Salah satu yang kisahnya paling mengharukan (menurut gue).
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Khulood Al-Zaidi (36th, Irak), pejuang kemanusiaan yang cinta dengan negerinya, namun justru diincar nyawanya.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Dan juga ada Majdi El-Mangoush (30 th, Libya), desertir dari akademi tentara. Takdir membawanya lebih jauh terlibat dalam revolusi di Libya.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Reportase ini tidak menutup mata akan fakta sejarah seabad yang lalu, yaitu tindalan Imperialis Inggris dan Prancis paska PD pertama.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Namun bukan itu yang jadi bahasan utamanya. Justru rentetan kisah ke-6 orang yang tadi telah disebutkanlah yang menjadi topik utama.....
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
..... dalam usahanya untuk membahas lebih lanjut mengenai faktor yang lebih berperan dalam konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Ada beberapa bagian artikel yang bagi gue cukup memberikan kesan yang mendalam. Berikut di antaranya.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Bagian tulisan ketika sebelum Majd resmi menjadi pengungsi Suriah. pic.twitter.com/JhkaybN9nA
Expand pic
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Sekilas pandang mengenai petualangan Turki dalam konflik Timteng. Dari sudut pandang mantan petarung ISIS. pic.twitter.com/CPd3kDFBSD
Expand pic
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Usia si pemuda baru 19 tahun ketika memutuskan jadi anggota ISIS. Dan sudah diperintahkan untuk mengeksekusi beberapa tahanan :(
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Jir. Umur 19 gue lagi galau2an kuliah, ini disuruh bunuh orang :(((
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Dan sebuah epilog yang apik. Meski dari sudut yang agak2 orientalis yaa... pic.twitter.com/FAxhLXYBZA
Expand pic
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Tapi kalimat inilah yang sebenarnya perlu dipatrikan oleh warga negara kita yang relatif aman ini. pic.twitter.com/b3KuEgfjSf
Expand pic
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Apakah sudut pandang yang dikemukakan oleh @nytimes dalam reportase tadi terlalu menihilkan peran barat? Saya rasa tidak.
Optimistic Nihilist Prompto @dedizhu_
Karena memang yg dikedepankan adalah isu eksklusivisme golongan.
Load Remaining (5)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.