Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

Moral : Rasional atau Estetis? By @ryuhasan

Chirpified
2
Ryu Hasan @ryuhasan

Anggapan umum: keputusan2 moral muncul dari proses yg logis dan legal, berbuat baik berarti menimbang scr teliti argumen2 yg bertentangan.

05/07/2016 07:54:08 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Anggapan umum juga bahwa keputusan moral di otak bagaikan seorang hakim yg netral dan tdk berat sebelah. Sayangnya anggapan2 umum ini salah.

05/07/2016 07:56:55 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Penjelasan dan argumentasi anggapan2 umum yg dipahami selama ini tentang pertimbangan moral yg tadi itu mempunyai sejarah yg sangat panjang.

05/07/2016 08:01:58 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Tokoh2 abad pencerahan, misalnya Leibniz dan Descrates berusaha menjelaskan tentang sistem moral yg terbebas penuh dari perasaan atau emosi.

05/07/2016 08:04:38 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Immanuel Kant juga berpendapat bhw berbuat baik hanyalah konsekwensi dari bertindak logis, dan amorailtas adalah hasil dari non-logika.

05/07/2016 08:07:31 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Bahkan Immanuel Kant berpendapat lebih jauh, bahwa makin sering kita merenungkan keputusan2 moral, makin bermorallah keputusan2 kita.

05/07/2016 08:09:00 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Konsekwensinya: sistem hukum modern skrg ini masih berlandaskan pd asumsi2 kuno, akan membebaskan siapapun yg dianggap ‘rasionalnya cacat’.

05/07/2016 08:12:27 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Bagi hukum modern orang yg rasionalnya cacat atau yg secara hukum dinyatakan gila maka yg bersangkutan tidak bisa dihukum.

05/07/2016 08:13:54 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Alasannya adalah krn otak rasional dianggap sbg pembeda antara benar dan salah. Seseorg yg tdk bisa menalar berarti dia tdk boleh dihukum.

05/07/2016 08:15:31 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Sayangnya, menurut sains terbaru, semua konsep kuno tentang moralitas tadi itu berpijak pada sebuah kesalahahan yang mendasar!

05/07/2016 08:21:17 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Neurosains bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan moral, tdk ada yg rasional dlm proses itu. Keputusan moral mirip keputusan estetis.

05/07/2016 08:26:47 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Sebagai contoh, saat sampeyan lihat sebuah lukisan, sampeyan pasti bisa langsung tahu apakah sampeyan menyukainya atau tidak.

05/07/2016 08:30:31 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Dan kalo ada orang yg minta penjelasan kenapa sampeyan seneng lukisan tersebut, sampeyan baru mencari2 alasannya.

05/07/2016 08:32:36 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Argumen2 moral juga demikian, perasaan2 yg pertama muncul, alasan2 logis muncul kemudian, dengan cepat dan saling bersaing.

05/07/2016 08:35:44 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Kant dan pengikutnya memandang otak bekerja seperti ilmuwan: kita menggunakan akal budi untuk menciptakan pandangan yg tepat tentang dunia.

05/07/2016 08:38:16 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Bagi Kant, moralitas dilandasi oleh nilai2 obyektif, keputusan2 moral mggambarkan fakta2 moral. Sayangnya otak kita tdk bekerja seperti itu.

05/07/2016 08:41:33 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Sebenarnya, saat berhadapan dg dilema etika, naluri atau yg srg disebut "alam bawah sadar" sampeyan otomatis menciptakan reaksi emosional.

05/07/2016 08:44:15 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Dlm bbrp milidetik, otak sampeyan menghasilkan: "sampeyan tahu mana yg baik mana yg buruk". Inilah yg tdk terjadi pada otak orang2 psikopat

05/07/2016 08:49:40 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Insting2 moral tadi itu bkn rasional, tapi menjadi bagian penting dalam menjaga kita untuk tidak melakukan segala macam kejahatan berat.

05/07/2016 08:51:39 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Dan insting2 tadi itu tdk mengikuti teori etika Kant. Sirkuit2 rasional di prefrontal cortex baru aktif stlh emosi membuat keputusan2 moral.

05/07/2016 08:56:15 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Sirkuit2 rasional membuat manusia jadi punya alasan2 persuasif untuk membenarkan intuisi moral yg muncul akibat aktifitas sirkuit emosinya.

05/07/2016 08:58:24 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Di saat prefrontal cortex membuat keputusan2 etis, cara kerja rasionalitas manusia tidaklah seperti saintis, tapi lebih mirip pengacara.

05/07/2016 09:02:06 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Pengacara ini mengumpulkan bukti2, justifikasi pos hoc, lalu membuat retorika singkat padat agar keputusan moral nampak punya alasan kuat.

05/07/2016 09:06:20 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Hanya saja, alasan2 yg nampaknya kuat tadi itu, sebenarnya hanyalah tedeng aling2, adalah delusi diri yg rapih untuk mendapat justifikasi.

05/07/2016 09:08:45 WIB
Ryu Hasan @ryuhasan

Dg kata lain, pandangan umum dasar2 moralitas kita, konsesnus filosofis yg bertahan ribuan tahun, sekarang benar2 jadi ketinggalan jaman.

05/07/2016 09:11:42 WIB
Load Remaining (5)

Comment

No comments yet. Write yours!