2
Ryu Hasan @ryuhasan
Anggapan umum: keputusan2 moral muncul dari proses yg logis dan legal, berbuat baik berarti menimbang scr teliti argumen2 yg bertentangan.
Ryu Hasan @ryuhasan
Anggapan umum juga bahwa keputusan moral di otak bagaikan seorang hakim yg netral dan tdk berat sebelah. Sayangnya anggapan2 umum ini salah.
Ryu Hasan @ryuhasan
Penjelasan dan argumentasi anggapan2 umum yg dipahami selama ini tentang pertimbangan moral yg tadi itu mempunyai sejarah yg sangat panjang.
Ryu Hasan @ryuhasan
Tokoh2 abad pencerahan, misalnya Leibniz dan Descrates berusaha menjelaskan tentang sistem moral yg terbebas penuh dari perasaan atau emosi.
Ryu Hasan @ryuhasan
Immanuel Kant juga berpendapat bhw berbuat baik hanyalah konsekwensi dari bertindak logis, dan amorailtas adalah hasil dari non-logika.
Ryu Hasan @ryuhasan
Bahkan Immanuel Kant berpendapat lebih jauh, bahwa makin sering kita merenungkan keputusan2 moral, makin bermorallah keputusan2 kita.
Ryu Hasan @ryuhasan
Konsekwensinya: sistem hukum modern skrg ini masih berlandaskan pd asumsi2 kuno, akan membebaskan siapapun yg dianggap ‘rasionalnya cacat’.
Ryu Hasan @ryuhasan
Bagi hukum modern orang yg rasionalnya cacat atau yg secara hukum dinyatakan gila maka yg bersangkutan tidak bisa dihukum.
Ryu Hasan @ryuhasan
Alasannya adalah krn otak rasional dianggap sbg pembeda antara benar dan salah. Seseorg yg tdk bisa menalar berarti dia tdk boleh dihukum.
Ryu Hasan @ryuhasan
Sayangnya, menurut sains terbaru, semua konsep kuno tentang moralitas tadi itu berpijak pada sebuah kesalahahan yang mendasar!
Ryu Hasan @ryuhasan
Neurosains bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan moral, tdk ada yg rasional dlm proses itu. Keputusan moral mirip keputusan estetis.
Ryu Hasan @ryuhasan
Sebagai contoh, saat sampeyan lihat sebuah lukisan, sampeyan pasti bisa langsung tahu apakah sampeyan menyukainya atau tidak.
Ryu Hasan @ryuhasan
Dan kalo ada orang yg minta penjelasan kenapa sampeyan seneng lukisan tersebut, sampeyan baru mencari2 alasannya.
Ryu Hasan @ryuhasan
Argumen2 moral juga demikian, perasaan2 yg pertama muncul, alasan2 logis muncul kemudian, dengan cepat dan saling bersaing.
Ryu Hasan @ryuhasan
Kant dan pengikutnya memandang otak bekerja seperti ilmuwan: kita menggunakan akal budi untuk menciptakan pandangan yg tepat tentang dunia.
Ryu Hasan @ryuhasan
Bagi Kant, moralitas dilandasi oleh nilai2 obyektif, keputusan2 moral mggambarkan fakta2 moral. Sayangnya otak kita tdk bekerja seperti itu.
Ryu Hasan @ryuhasan
Sebenarnya, saat berhadapan dg dilema etika, naluri atau yg srg disebut "alam bawah sadar" sampeyan otomatis menciptakan reaksi emosional.
Ryu Hasan @ryuhasan
Dlm bbrp milidetik, otak sampeyan menghasilkan: "sampeyan tahu mana yg baik mana yg buruk". Inilah yg tdk terjadi pada otak orang2 psikopat
Ryu Hasan @ryuhasan
Insting2 moral tadi itu bkn rasional, tapi menjadi bagian penting dalam menjaga kita untuk tidak melakukan segala macam kejahatan berat.
Ryu Hasan @ryuhasan
Dan insting2 tadi itu tdk mengikuti teori etika Kant. Sirkuit2 rasional di prefrontal cortex baru aktif stlh emosi membuat keputusan2 moral.
Ryu Hasan @ryuhasan
Sirkuit2 rasional membuat manusia jadi punya alasan2 persuasif untuk membenarkan intuisi moral yg muncul akibat aktifitas sirkuit emosinya.
Ryu Hasan @ryuhasan
Di saat prefrontal cortex membuat keputusan2 etis, cara kerja rasionalitas manusia tidaklah seperti saintis, tapi lebih mirip pengacara.
Ryu Hasan @ryuhasan
Pengacara ini mengumpulkan bukti2, justifikasi pos hoc, lalu membuat retorika singkat padat agar keputusan moral nampak punya alasan kuat.
Ryu Hasan @ryuhasan
Hanya saja, alasan2 yg nampaknya kuat tadi itu, sebenarnya hanyalah tedeng aling2, adalah delusi diri yg rapih untuk mendapat justifikasi.
Ryu Hasan @ryuhasan
Dg kata lain, pandangan umum dasar2 moralitas kita, konsesnus filosofis yg bertahan ribuan tahun, sekarang benar2 jadi ketinggalan jaman.
Load Remaining (5)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.