1
Prastowo Yustinus @prastow
Tweeps, sedikit berbagi pandangan tentang #UtangNegara yang kemarin ditwit oleh @KemenkeuRI . Sy akan menempatkan dari cara pandang berbeda.
Prastowo Yustinus @prastow
1 Jika diperhatikan struktur APBN, rumusnya Pendapatan Negara-Belanja Negara=Defisit/Surplus. Jika defisit maka ditutup dengan Pembiayaan.
Prastowo Yustinus @prastow
2 Dengan demikian struktur APBN sendiri menempatkan #UtangNegara sbg bagian pembiayaan dan sifatnya sekunder, ketika pendapatan tak cukup.
Prastowo Yustinus @prastow
3 Ada jg istilah Keseimbangan Primer, yaitu Pendapatan Negara dikurangi Belanja Negara tanpa cicilan utang. Ini penting utk analisis.
Prastowo Yustinus @prastow
4 Jika Keseimbangan Primer negatif maka jelas kita tidak mampu bayar utang dari pendapatan, tapi harus menerbitkan utang utk bayar utang.
Prastowo Yustinus @prastow
5 Sejak 2012 Keseimbangan Primer kita negatif, artinya bahkan pendapatan tak mencukupi utk membayar cicilan hutang (trmsk bunga). Parah ya.
Prastowo Yustinus @prastow
6 Nah,APBN disebut defisit jika Pendapatan Negara lebih kecil dibanding Belanja Negara.Defisit dan keseimbangan primer negatif ditutup utang
Prastowo Yustinus @prastow
7 APBN sehat jika Keseimbangan Primer positif,artinya kita mampu bayar utang,dan defisit kita terjaga. Dg logika ini kita paham fungsi utang
Prastowo Yustinus @prastow
8 Jk utang tempatnya di penambal keseimbangan primer yg negatif dan defisit, jelas posisi utang sekunder dlm APBN.Utang sah tp ideologinya?
Prastowo Yustinus @prastow
9 Jgn sampai utang justru jd ideologi, bahwa kita memang melakukan rekayasa laporan keuangan agar dikondisikan harus utang. Ini mentalitas.
Prastowo Yustinus @prastow
10 Jika kita melihat APBN 2015 posisinya keseimbangan primer negatif dan mengalami defisit, maka utang niscaya diperlukan. Lalu analisisnya?
Prastowo Yustinus @prastow
11 Utang berbanding terbalik dg Pendapatan Negara (Pendapatan Perpajakan, PNBP, Hibah). Nah, kita paham kinerja pendapatan kurang bagus.
Prastowo Yustinus @prastow
12 Meski kita apresiasi krn pelambatan ekonomi, penerimaan perpajakan Rp 1.238 T tak cukup sbg sumber pendapatan negara tanpa perlu utang.
Prastowo Yustinus @prastow
13 Persoalannya mengelola dan menjalankan negara itu sepanjang tahun. Program pembangunan butuh cashflow tiap saat. Ini yg jadi persoalan.
Prastowo Yustinus @prastow
14 Sedangkan kita paham penerimaan pajak seret, hingga Sept-Nov bahkan kas kita sangat cekak. Ini sdh sy bahas di kesempatan lain ya.
Prastowo Yustinus @prastow
15 Jadi utang diperlukan krn Pendapatan Negara tak cukup bayar cicilan utang dan membiayai pembangunan shg kita defisit. Batas defisit 3%.
Prastowo Yustinus @prastow
16 Pemerintahan Jokowi memang berjanji mengurangi utang. Itu betul, tp ketika melihat fakta empiriknya, msh butuh utang krn kondisi APBN.
Prastowo Yustinus @prastow
17 Bahkan Kemenkeu cukup berhasil melakukan front-loading, jual SUN agak awal di 2015 shg laku cukup bagus dan mendapatkan dana di depan.
Prastowo Yustinus @prastow
18 Kita berhasil menjual SUN dg harga terbaik saat rupiah msh cukup kuat. Ini berguna utk pembiayaan pembangunan krn pajak yg seret tadi.
Prastowo Yustinus @prastow
19 Tentu saja kebutuhan uang yg besar tak lepas dr keinginan pemerintah ekspansi belanja infrastruktur dan sosial. Konsekuensinya butuh dana
Prastowo Yustinus @prastow
20 Dlm perspektif ini sy melihat kebijakan utang pemerintah msh dlm konteks kebutuhan riil APBN, bukan mentalitas atau ideologi utang.
Prastowo Yustinus @prastow
21 Tentu saja ini tak menjadikan berutang itu baik. Itu tetap perlu dihindari supaya tak terlalu membebani. Kita cek kemampuan bayar kita.
Prastowo Yustinus @prastow
22 Utang yg diukur dg PDB memang msh aman, tp kita sebaiknya jg ukur ke rasio pajak dan kinerja ekspor.Krn bayar utang pakai duit, bukan doa
Prastowo Yustinus @prastow
23 Maka agar tak besar pasak daripada tiang, kita hrs mengukur kemampuan bayar yi dr kinerja pendapatan (pajak, BUMN) & ekspor (sektor riil)
Load Remaining (14)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.