Cuplikan bab "Mengincar Kepala Watugunung" dari Novel 'Raden Mandasia' karya Yusi Avianto Pareanom

Icip-icip salah satu kandidat dongeng (sekaligus buku) terbaik Indonesia 2016, ketika tahun ini bahkan masih muda? Hell Yeah!
book radenmandasia yusiaviantopareanom sastra BANANA
0
Banana Publisher @bacabanana
Selamat sore, Kawan Banana. Sudah tahu kan, bahwa dongeng #RadenMandasia karya Yusi Pareanom akan segera terbit ('0')9
Banana Publisher @bacabanana
Kapan terbitnya? Bentar lagi kok. Untuk itu, sore ini @bacabanana akan bagi fragmen dongeng #RadenMandasia karya Yusi Parenom ini. Yukkk..
Banana Publisher @bacabanana
Fragmen ini diambil dari bab 'Mengincar Kepala Watugunung'. Yak mari langsung saja menuju #RadenMandasia ~('0')~
Banana Publisher @bacabanana
AKU terbangun dengan mendapati seorang laki-laki tak kukenal duduk di pojok tendaku #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Bangsat, mengapa setelah malam celaka itu setiap kali aku bangun dari tidur selalu saja ada kejutan. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Sekedip kemudian aku sadar: keris, kerambit, dan belatiku berada satu lengan di tempat orang itu duduk #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku menyumpah dalam hati, tapi segera kutahu bahwa kecemasanku berlebihan #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
karena kalau orang itu berniat jahat pasti aku sudah terbangun di alam lain. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Ia melihatku membuka mata kemudian meneruskan lagi apa yang sepertinya sudah ia lakukan sebelum aku mendusin, #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
... yaitu membaca-baca catatan perjalanan yang kubuat. Lancang betul orang ini. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku sudah ingin bertanya kepadanya ketika tangannya mendahului memberi isyarat tak mau diganggu. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku tidak takut tetapi kupikir tak ada gunanya berbantahan. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Hanya saja, dipaksa diam seperti ini membikinku jengkel. Aku menantang matanya. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Anjing, mata itu dingin sekali dan setelah melihatnya beberapa saat mendadak punggungku terasa basah tak nyaman. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku mengira embun dari rerumputan di balik tikar yang kutiduri merembes. Tikarnya kering. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku bangkit, duduk, menenggak air dari kantung kulit kambing dan menunggu seperti orang bodoh. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Ia memandangku lagi dan sekarang aku pura-pura tak peduli. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Tampaknya, diamku justru mengusiknya. Ia meletakkan lontar dan memandangku sungguh-sungguh. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
“Kautahu siapa aku?” “Orang Gilingwesi, pastinya. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Mungkin pangeran, mungkin mata-mata, mungkin tukang pasang ladam kuda #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
... mungkin juga pegawai perpustakaan yang tersesat. Mana aku tahu?” kataku. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Senyum pertama terbit di wajahnya. Tapi, romannya tidak menjadi lebih ramah. #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
“Kau cerewet untuk orang yang baru bangun. Benar-benar tidak tahu aku siapa? Apa kami sedemikian tidak mirip?” #RadenMandasia
Banana Publisher @bacabanana
Aku benar-benar tak tahu siapa yang ia maksudkan dengan ‘kami’. #RadenMandasia
Load Remaining (13)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.