1
Calvin Genna @Calvin_Genna
Renungan = Trbukti prnah mngembalikan manusia ke zaman batu, perang nuklir harus dicegah, jangan sampai terjadi lagi pic.twitter.com/xikJKvdEX9
Expand pic

Pesan tersembunyi = Berebut kekuasaan berakibat perang nuklir. Jangan pernah terjadi lagi.

Renungan = Kalau perang nuklir lagi, semakin banyak gurun seperti Sahara, Gobi, dan peradaban manusia akan kembali ke jaman batu.

Kisah Mahabharata bukan meminta kita membuat lagi perang nuklir, tapi mengingatkan akibatnya yang sangat buruk, hilangnya peradaban maju, hilangnya milyaran manusia, kembali ke jaman batu.

Calvin Genna @Calvin_Genna
Vimana dlm MahaBharata lihat lokasi yg ditandai warna merah pic.twitter.com/DE6KSSd7j2
Expand pic

Tercatat dalam MahaBharata penggunaan nuklir dan UFO. Tapi tujuannya bukan supaya kita meniru-niru membuat lagi senjata nuklir dan UFO untuk tujuan perang, karena
Perang nuklir hanya akan menghancurkan bumi sekali lagi, seperti 11.000 tahun yang lalu, air laut naik 80 meter, karena perang nuklir. Kejadian ini disaksikan Shri Krishna, bersamaan dengan naiknya air laut ke lembah di daratan Sunda Besar, sehingga tempat tinggi terpisah dan dinamai Sumatera, Jawa, Kalimantan, Malaya, Filipina. Kenaikan muka air laut terjadi di seluruh permukaan bumi, di India, Persia, Iraq, Arabia, Mesir, Afrika, Laut Tengah, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan. Itulah sebabnya di seluruh tempat yang ada peradabannya waktu itu di seluruh dunia ada legenda tentang bencana banjir besar / tenggelam menurut versi masing-masing.

Calvin Genna @Calvin_Genna
Posisi awak pesawat dalam Vimana dlm MahaBharata pic.twitter.com/tQPJ0Pjbkb
Expand pic

Misteri Perang Nuklir Mahabarata

Benarkah Perang Nuklir Sudah Ada Sejak Zaman Prasejarah?
Dr. Michael Creko membukukan laporan dalam 3 buku yang dicetak tahun 2006
Dr. Rao dari hasil karyanya memperoleh penghargaan “The World Ship Trust Award” dari PBB atas penemuan siklus kehidupan manusia yang memutus teori Darwin.

Kitab Mahabarata mengisahkan konflik hebat keturunan Pandu dan Drestarastra dalam memperbutkan takhta kerajaan.Menurut sumber,kitab ini ditulis pada tahun 1500 SM,dan menurut perkiraan, perang tersebut meletus sekitar 11000 tahun yang lalu.

Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini, diantaranya ada sebuah spekulasi dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang Nuklir!!

Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir?

Masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa pra sejarah dan peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia.

Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Reshi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara). Fakta yang sangat mencengangkan para peneliti tentang Mohenjo Daroo adalah kota tersebut masih utuh tetapi terdapat banyak bukti arkeologis bahwa jutaan para penghuninya atau jutaan manusia-manusianya lenyap dlm waktu bersamaan ! Kota tersebut masih utuh saat penghuninya lenyap semua. Dari barang bukti arkeologis, Radiasi nuklir diduga penyebab hal itu.

Ada peneliti yang menyebutkan, apabila terjadi perang nuklir, manusia punah, tetapi kecoa tetap berkembang biak dengan baik.

Dalam suatu cuplikan cerita dalam kitab Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Vimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh,lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala,dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Vimana-nya itu?

Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai

Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata.

Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 derajat Celcius. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus.

Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan di dalam bangunan juga telah dikacalisasi.

Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik.

Antara lain adalah:

  • Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
  • Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
  • Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
  • Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
  • Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Reshi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
  • Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
  • Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.
  • Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.
  • Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini.

Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama.

Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir.

Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat , daerah yang luas menjadi gurun pasir, gurun Sahara, gurun Gobi, juga es di kutub mencair karena perang nuklir itu, air laut naik 80 meter. 11000 tahun lalu, dan kemudian hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Di antara yang paling menarik dari penemuan-penemuan arkeologi yang dibuat di India dalam beberapa tahun terakhir adalah Dwarka di lepas pantai laut Arab dan Bet Dwarka di Kutch Gujarat.

Penggalian telah berlangsung sejak 1983. Ini adalah dua tempat yang terpisah 30 km satu sama lain. Dwarka berada di pantai laut Arab, dan Bet Dwarka adalah di Teluk Kutch.

Kedua tempat ini dihubungkan dengan legenda tentang Shri Krishna . Ada banyak candi di sini, terutama yang termasuk ke dalam periode abad pertengahan.

Calvin Genna @Calvin_Genna
Kuil yang tenggelam ke dasar laut ditemukan kembali pic.twitter.com/XYfFNXA0f0
Expand pic

Dinilai sebagai salah satu dari tujuh kota paling tua di negara ini, kota legendaris Dvaraka adalah tempat kediaman Shri Krishna. Hal ini diyakini bahwa akibat kerusakan dan kehancuran oleh laut, Dvaraka telah tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya Atlantis, air laut naik 80 meter, sehingga Daratan Sunda Besar terpisah pisah menjadi Malaya, Sumatera, Jawa , Kalimantan dan Filipina yang tadinya satu daratan, sejak 11000 tahun yang lalu terpisah air laut!

Untuk memperluas dan memperdalam penelitian ini, Unicef dan NASA membantu pemotretan dengan citra lansat satelit. Dari hasil riset dan pemotretan yang difokuskan di hulu sungai Gangga, para arkeolog menemukan banyak sisa puing bangunan yang telah menjadi batu hangus.

Batu besar reruntuhan ini ketika dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Ketika dicoba melebur bebatuan tsb, ternyata dibutuhkan suhu minimal 1.800 derajat celcius! Batu biasa dalam keadaan normal tak mencapai suhu ini.

Kecuali pada benda-benda yang terkena radiasi nuklir, baru bisa mencapai suhu yang demikian tinggi. Di pedalaman hutan primitif India, peneliti juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus.

Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batu dalam bangunan juga telah di-kaca-lisasi. Para peneliti heran, selain di India, batu radiasi juga ditemukan di bekas Kerajaan Babilonia Kuno, Gurun Sahara dan Gurun Gobi di Mongolia!

Inilah bukti reruntuhan perang nuklir prasejarah, derajat radiasi masih terekam meski kejadiannya ribuan tahun SM ( Sebelum Masehi ), mengapa demikian ? Karena Unsur radioaktif memiliki waktu paruh atau meluruh yang panjang, ada yang sampai 4,5 milyar tahun, hal ini diukur dengan derajat radiasi dan bobot yg disisakan, ingat peneliti nuklir Marie Curie dll. Pengukuran di jaman sekarang menggunakan unsur radioaktif salah satunya Carbon untuk mengetahui umur barang bukti arkeologis. Batu kaca pada reruntuhan tersebut, semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Diduga kuat perang Bharatayudha adalah perang nuklir yang terjadi antara 11000 tahun yang lalu. Untuk meneliti lebih jauh penyebaran batu radiasi ini, para ahli nuklir PBB akan mengungkapnya dalam program khusus.

Calvin Genna @Calvin_Genna
Kerajaan Dvaraka ditelan laut disaksikan Shri Krishna pic.twitter.com/iQNWJlOFsZ
Expand pic

Penelitian yang dilakukan Dr. Rao di bawah lautan didasarkan petunjuk Weda, bahwa Kerajaan Dwaraka ditelan laut beberapa saat setelah Bharatayudha usai. Kerajaan Dwaraka adalah kediaman Sri Krisna, raja yang pegang kendali strategis di perang saudara ini.

Dalam kitab suci Hindu, ia merupakan jelmaan Dewa Wisnu, pemelihara perdamaian. Keberadaan Dwaraka dilakukan selama 8 tahun, dan baru jelas setelah dibantu citra satelit NASA. Dari sana ditemukan jejak kerajaan tersebut di bawah Teluk Gujarat.

Setelah ada petunjuk pasti, akhirnya Dwaraka berhasil ditemukan dalam keadaan hancur digulung gelombang Laut Arab yang cukup dahsyat. Dari hasil investigasi, banyak temuan berharga indikator kehidupan makhluk 15.000 tahun lalu.

Selain tembikar, ada bongkahan batu besar yang diduga benteng dan dinding istana. Batuan dipenuhi ornamen indah, lonceng kuil dari tembaga, jangkar kapal, pot bunga dari keramik, serta uang emas dan tembaga.

Penemuan logam ini memperlihatkan kepada kita, bahwa peradaban 11000 tahun lalu ternyata sudah tinggi. Tak heran temuan ini mengindikasikan penggunaan senjata pemusnah massal di perang itu.

Bahkan menurut beberapa ahli yang lebih kontroversial malah menyatakan, bahwa pada masa lalu manusia sudah beberapa kali hampir mengalami pemusnahan massal akibat perang nuklir, perang bintang dan perang-perang besar lainnya.

Hingga manusia yang dapat bertahan hidup dan berlindung (survive) hanya tersisa ribuan jiwa saja, lalu mereka kembali ke zaman batu atau “seperti” zaman prasejarah.

Kemudian terus berkembang-biak kembali menjadi jutaan dan milyaran. Lalu terjadi lagi perang besar di bumi yang menyebabkan kemusnahan massal manusia, lalu berkembang-biak lagi, begitu seterusnya selama belasan kali.

Namun tak selamanya perang besar terjadi akibat peperangan antara manusia di bumi. Menurut paneliti yang tertarik masalah Ufology, manusia juga pernah melawan makhluk-makhluk luar angkasa atau alien, dan akhirnya juga menyisakan kehancuran dahsyat di Bumi.

Perlawanan ini juga membuktikan bahwa pada masa lalu peradaban manusia di bumi telah canggih, jika tidak canggih maka tak mungkin ras manusia berani melawan. Tapi akibat kekalahan teknologi yang jauh-jauh lebih canggih, ras manusia kalah namun berhasil untuk bertahan hidup dibawah pemukaan bumi.

Setelah beberapa dekade radiasi di permukaan bumi mulai menurun, merekapun mulai berani kembali ke permukaan dan memulai kembali peradaban ras manusia dari awal.

Menurut peneliti Ufology dan peneliti sejarah peradaban dunia yang kontroversial, peristiwa hampir punahnya ras manusia ini tak hanyak terjadi sekali, namun berkali-kali, dan manusia selalu dapat bertahan hidup walau hanya tersisa ribuan saja dan kembali memulai peradaban baru hingga suatu saat kembali maju dan canggih.

Dari penemuan-penemuan itu, Dr. Michael Creko membukukan laporan dalam 3 buku yang dicetak tahun 2006. Beberapa diantaranya:

Forbidden Archaelogis, The Hidden History of Human Race, dan Human Devolution, yang isinya menentang teori Darwin, tentang evolusi manusia.

Dr. Rao dari hasil karyanya memperoleh penghargaan “The World Ship Trust Award” dari PBB atas penemuan siklus kehidupan manusia yang memutus teori Darwin.

Pada awalnya, kisah-kisah inilah yang dibukukan dalam kitab Hindu dan menjadi kisah yang menarik tentang perang besar pada zaman dahulu kala ini (Armageddon).

Bahkan di Indonesia saat agama Hindu masuk ke Nusantara, cerita perang ini telah menjadi budaya Indonesia terutama di Jawa dan Bali.

Laporan perang ini sering dibacakan di Indonesia hingga kini, salah satunya melalui tradisi Wayang, baik itu wayang orang atau wayang kulit bahkan wayang golek.

Cerita tentang Baratayudha juga dapat dibaca dari buku-buku dari banyak literatur-literatur pengetahuan Hindu.

Di Indonesia, cerita pewayangan seperti Bharata Yudha / Prahara Kuru ksetra (kisah perang di Mahabharata) masih banyak diceritakan langsung secara turun-temurun oleh para orang tua kepada generasi mudanya.

Selain itu, masih banyak pula kakek-nenek dan orang tua dari generasi sebelumnya terus menceritakan kembali kisah menarik ini kepada anak dan cucunya, termasuk di dalamnya tentang kisah perang Baratayudha.

Ada yang menyatakan bahwa kisah itu hanya sekedar mitos atau fiksi kuno belaka.

Tapi itu semua dapat dipatahkan dengan penemuan-penemuan arkeologi dan sejarah yang sama-sama bersinergi dan barang-bukti arkeologis yang tidak dapat dipungkiri lagi.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.