MEMBUKA KOTAK PANDORA REKAMAN SETYA NOVANTO || By @PartaiSocmed

Chirpified
#99 @PartaiSocmed

MEMBUKA KOTAK PANDORA REKAMAN SETYA NOVANTO pic.twitter.com/xt4p45n1XB

03/12/2015 13:11:39 WIB
Expand pic
#99 @PartaiSocmed

Kotak Pandora berasal dari mitologi Yunani, yg pesannya mirip2 dengan kisah buah apel Adam dan Hawa

03/12/2015 13:15:01 WIB
#99 @PartaiSocmed

Intinya perasaan penasaran (curiosity) kita bisa jadi bumerang yang akan merugikan kita jika kita tak mampu mengendalikannya

03/12/2015 13:18:14 WIB
#99 @PartaiSocmed

Sebab keterbatasan pikiran kita seringkali tak mampu memprediksi kemungkinan2 yg akan terjadi. Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya

03/12/2015 13:21:24 WIB
#99 @PartaiSocmed

Dan kita seringkali terlalu pongah menganggap bisa mengontrol situasi sesuai apa yg kita inginkan, tanpa memberi ruang pd kemungkinan2 lain

03/12/2015 13:23:33 WIB
#99 @PartaiSocmed

Namun kenyataannya, ketika kotak pandora terlanjur dibuka maka segalanya sudah terlambat.. pic.twitter.com/MsH9mCz16t

03/12/2015 13:25:10 WIB
Expand pic
#99 @PartaiSocmed

Alih2 mendapatkan 'jin' baik yg kita inginkan, secara tak sadar kita juga ikut membebaskan 'jin-jin' jahat.

03/12/2015 13:27:42 WIB
#99 @PartaiSocmed

Kesimpulannya, ketika kotak pandora sudah terlanjur dibuka maka situasi berikutnya tak bisa dikontrol lagi sesuai keinginan kita

03/12/2015 13:30:47 WIB
#99 @PartaiSocmed

Membuka rekaman Setya Novanto adalah membuka Kotak Pandora.

03/12/2015 13:32:11 WIB
#99 @PartaiSocmed

Beberapa hari sebelum rekaman dibuka kami sudah menyinggung soal kotak pandora ini di TL.

03/12/2015 13:33:50 WIB
#99 @PartaiSocmed

Mengapa demikian? Sebab dengan dibukanya percakapan utuh tersebut kita dihadapkan pada situasi yg tidak terkontrol. Menarik bukan? 😊

03/12/2015 13:35:39 WIB
#99 @PartaiSocmed

Dan yg lebih menarik adalah kita dihadapkan pada akal sehat kita sendiri dan kita ditantang untuk menyikapinya

03/12/2015 13:37:07 WIB
#99 @PartaiSocmed

Mendengar percakapan tersebut kita kita ditantang untuk menyikapinya sebagai berikut:

03/12/2015 13:38:24 WIB
#99 @PartaiSocmed

1. Memahami bahwa percakapan tersebut adalah percakapan para makelar, sehingga tidak layak dijadikan pegangan. Apalagi dipercayai.

03/12/2015 13:39:39 WIB
#99 @PartaiSocmed

2. Bersikap munafik dengan hanya mempercayai sebagian informasi yg kita anggap menguntungkan/menyenangkan saja

03/12/2015 13:41:04 WIB
#99 @PartaiSocmed

3. Memahami bahwa percakapan tersebut dilakukan oleh orang2 top yang tentu saja informasinya bisa dijadikan pegangan

03/12/2015 13:42:25 WIB
#99 @PartaiSocmed

Pilihhan yg sulit bukan? Tapi harus kita akui bahwa kita sudah menentukan pilihan diatara ketiga opsi tersebut. Iya apa iyaa..? 😆

03/12/2015 13:44:02 WIB
#99 @PartaiSocmed

Sekarang marilah kita lakukan 'braintsorming' dengan melihat konsekwensi2 dari masing2 pilihan tersebut

03/12/2015 13:45:24 WIB
#99 @PartaiSocmed

Opsi pertama, jika percakapan tsb hanya dianggap sbg percakapan makelar yg sedang usaha, mk apapun dlm percakapan tsb tak layak dipercayai

03/12/2015 13:51:16 WIB
#99 @PartaiSocmed

Termasuk juga tuduhan terhadap SN dan pernyataan2 yg menyangkut presiden dan lain2

03/12/2015 13:52:23 WIB
#99 @PartaiSocmed

Opsi kedua, kebanyakan dari kita memilih opsi ini. Kita secara munafik menerima informasi yg menguntungkan dan menampik yg merugikan

03/12/2015 13:54:01 WIB
#99 @PartaiSocmed

Sebagai contoh, pendukung Jokowi akan menerima kata2 dalam rekaman yg merugikan SN namun menolak kata2 yg merugikan Jokowi

03/12/2015 13:55:34 WIB
#99 @PartaiSocmed

Opsi ketiga ini yg paling mengerikan. Jika kita mempercayai apa yg dibicarakan dalam rekaman maka ini ngeri2 sedap

03/12/2015 13:57:41 WIB
#99 @PartaiSocmed

Sebab kita juga harus percaya bahwa Presiden Republik Indonesia berada dibawah pengaruh Luhut

03/12/2015 13:59:43 WIB
#99 @PartaiSocmed

Kita juga harus percaya terjadi kecurangan dalam pemilu yg memanfaatkan aparat negara. Ngeri tidak tuh?

03/12/2015 14:01:18 WIB
Load Remaining (3)

Comment

#SwingVoters @SugiKawuloAlit 05/12/2015 19:16:17 WIB
@bang_dw: nah kan, gw bilang jg apah, terlalu pandai para pemimpin negeri ini membuat kegaduhan kegaduhan, ttapi mereka tak terlalu pandai untuk menyimpan sebongkah kedustaan diri, ingak~ingak becik ketitik olo ketoro @PartaiSocmed.
0