Penodaan Agama, Bupati Purwakarta Dilaporkan

Chirpified
URL www.voa-islam.id Resmi, Bupati Purwakarta Dilaporkan ke Polda Jawa Barat dengan Aduan Penodaan Agama - VOA-ISLAM.COM Senin (30/11/2015) siang masyarakat Purwakarta yang diwakili oleh KH Muhammad Syahid Joban, Ketua Majelis Dakwah Manhajus Solihin melaporkan Bupati Purwakarta ke Polda Jawa Barat.

Giliran Bupati Purwakarta yang dilaporkan

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dilaporkan sejumlah ulama Purwakarta ke Polda Jawa Barat. Dedi dilaporkan karena telah melakukan penistaan agama.

Dedi dilaporkan dengan nomor laporan polisi LPB/983/XI/2015/Jabar tanggal 30 November 2015. Bupati Purwakarta ini diadukan karena dianggap telah melanggar Pasal 156 KUHPidana mengenai kebencian atau merendahkan suatu golongan rakyat Indonesia.

"Laporan ini atas permintaan dari ulama-ulama Purwakarta yang sudah resah dengan prilaku Dedi Mulyadi yang banyak menodai ajaran agama Islam," ujar pelapor, Ustaz Muhammad Syahid Joban kepada Suara Islam Online, Senin (30/11/2015).

Ustaz Joban yang datang bersama anggota DPD Front Pembela Islam (FPI) Jabar itu membawa beberapa barang bukti berupa dua buku berjudul ‘Spirit Budaya Kang Dedi’ dan ‘Kang Dedi Menyapa’ serta satu VCD berisikan kompilasi pidato sang bupati.

Menurut Joban, dalam buku karangan Dedi Mulyadi itu isinya banyak sekali penyimpangan dari ajaran Islam. Misalnya, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa agama adalah budaya, dan budaya adalah agama. Dia menyamaratakan antara budaya dan agama. Padahal dua hal tersebut sangatlah berbeda. Agama Islam bersumber pada wahyu Allah SWT yang memiliki kebenaran mutlak, sementara budaya itu produk manusia.

"Lalu dia katakan orang Sunda itu tidak mengenal simbolisasi penyembahan, maksudnya orang yang bertuhan secara benar itu yang membaktikan dirinya kepada alam, bahkan dia juga menghina Nabi Muhammad Saw dengan menulis; Allah memahami Rasullah sebagai kekasihnya tetapi perlakukan Allah terhadap Rasullah justru mendidiknya dan membiarkan Rasullah sengsara" ungkapnya.

Dalam rekamannya, Dedi juga mengatakan “ketika sampah mulai bersatu dengan dirinya, maka di situ sampah menjadi harum. Kenapa? Karena Allah hadir pada sampah-sampah itu,"

"Dan yang fatal juga dia katakan bahwa zakat itu tidak wajib bagi masyarakat, yang wajib adalah APBD sampai ke masyarakat," tambah Joban.

"Jadi Dedi Mulyadi itu menodai syariat dengan bungkus adat, menodai agama dengan bungkus budaya. Upaya-upaya dia lewat festival, karnaval, perayaan budaya yang dia usung itu hanya sebagai bungkus, padahal isinya mengandung kemusyrikan dan banyak menodai ajaran agama Islam," ucap Ustaz Joban

Pandangan Ulama Sunda lain tentang kebijakan Dedi Mulyadi yang dianggap tidak sesuai dengan adat sunda

Prof Dr KH Didin Hafiduddin

"Itu bukan adat Sunda. Adat Sunda sesuai dengan Islam," kata Prof Dr KH Didin Hafiduddin kepada sejumlah wartawan di Kantor MUI Pusat, Kamis (26/11) saat dimintai tanggapannya mengenai perilaku Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang penuh dengan kemusyrikan.

Menurut mantan Ketua Umum BAZNAS itu, masyarakat Sunda adalah masyarakat Muslim yang religius. Sehingga adat kebiasaan yang terlahir pun sesuai dengan ajaran Islam, bukan kepercayaan yang bersifat mistik.

Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini juga meluruskan makna kearifan lokal (local wisdom) yang disalahartikan dan digunakan sebagai pembenar tindakan kemusyrikan Bupati Dedi.

Menurut Kyai Didin, kearifan lokal bukanlah melakukan tradisi-tradisi yang bertentangan dengan akidah dan syariah seperti yang dilakukan Dedi.

"Kearifan lokal itu bagaimana kita bertindak sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Bukan masyarakat dipaksakan untuk memiliki keyakinan tertentu yang sudah salah dalam pandangan Islam. Kita mengimbau pada Pak Bupati Purwakarta untuk tidak mengartikan kearifan lokal seperti itu," tandasnya

Seperti diketahui, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Alquran

URL www.suara-islam.com Ulama Purwakarta Sebut Bupati Dedi Mulyadi Raja Syirik Purwakarta (SI Online) - Kalangan ulama Purwakarta selama sepuluh tahun terakhir resah dengan kemusyrikan yang meraja lela di wilayah itu. Ketua Manhajus Solihin Purwakarta, KH Muhammad Syahid Joban bahkan menilai gagasan kebudayaan yang diusung Bupati Pu

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "keindahan", tapi untuk "keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali,

URL Komang Putra Makna & Filosofi Kain Poleng Bali Lembaran Sastra Visual ala Blogger Bali

dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali

dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

"Kearifan lokal bukan itu," ujar Kyai Didin yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat itu.
Sumber: SuaraIslam.com

Yang jadi Panutan Dedi Mulyadi Prabu Siliwangi
URL Poskota News Bupati Gianyar Bilang Bupati Purwakarta Prabu Siliwangi Masa Kini - Poskota News PURWAKARTA (Pos Kota) – “Ada Prabu Siliwangi di Purwakarta,” celetuk Robi, satu penonton Festival Budaya Gianyar,Bali-Purwakarta di Alun alun Kiansantang Purwakarta, Jawa Barat. Mulut pemuda berusia 21 tahun itu spontan...
URL JabarNews Lewat Tol Cipali, Bupati Purwakarta Sarankan Sebut Nama Prabu Siliwangi JABARNEWS | Purwakarta - Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), yang belum lama diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi Dodo, kini tengah menjadi perbincangan hangat. Pasalnya, panjang tol 116,75 k...

Bupati Purwakarta Serukan Bima Arya Teladani Prabu Siliwangi, Lho?

“Prabu Siliwangi itu menikah dengan seorang muslimah anak dari seorang guru (syekh) di Karawang. Dari situ bisa diperlihatakan toleransi agama yang tumbuh di tanah sunda. Walikota Bogor harusnya bisa belajar dari situ,” kata Dedi.

Namun Dedi agaknya lupa, di dalam Hukum Islam, seorang Muslimah yang mau diperisteri oleh Non-Muslim itu sebenarnya jatuhnya zina, jadi sama sekali tidak bisa dibenarkan. Dan bagi semua Muslim di seluruh dunia, satu-satunya manusia yang harus dicontoh dan diteladani hanyalah Rasulullah SAW, bukan malah mencontoh non Muslim seperti halnya Prabu Siliwangi.

Nasehat yang mungkin dianggap baik bagi kang Dedi itu, ternyata malah menuai protes warganya
sendiri. Malahan netisen ramai-ramai menyarankan Dedi Mulyadi berkaca dengan kasus aksi pembakaran sejumlah patung wayang golek di Purwakarta pada September 2011.

“Bupati jangan banyak omong, itu hanya bikin malu warga Purwakarta saja. Coba dipikirin bagaimana ihwal pembangunan patung-patung tokoh wayang golek yang menimbulkan kontroversi sejak 2011 itu,” kata Usep Sumarna, warga Plered, yang juga aktivis islam di Purwakarta.

Ia mengimbau Bupati Purwakarta menahan diri untuk tidak berkomentar terlalu jauh yang bukan menjadi tugasnya di Purwakarta.

Menurut Ketua Garda Bangsa Purwakarta ini, sebelum Kang Dedi menasehati orang lain, sebaiknya mengukur diri bahwa potensi konflik di Purwakarta, jauh lebih serius di banding yang terjadi di Bogor.

Sekedar mengingatkan, imbuh Usep, aksi masa umat islam Purwakarta merobohkan dan membakar empat patung, pada Ahad, 18 September 2011 harus dijadikan renungan bagi Kang Dedi. Aksi itu sebagai protes keras terhadap kebijakan Bupati yang tetap membangun patung-patung wayang golekyang berbau klenik.

Fenomena di atas adalah konteks yang perlu dipahami dalam membaca apa yang terjadi di Purwakarta di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi. Dedi seolah ingin menampilkan wajah budaya Sunda yang bukan Islam saja .

Tapi secara adat budaya kearifan local justru menjadi kontroversi manakala patung2 yang ditampilkan malah tidak bisa dianggap sebagai representasi Sunda Wiwitan

Patung-patung tokoh pewayangan yang dibangun Dedi misalnya, tidak relevan dengan mitologi Sunda Wiwitan. Kisah pewayangan berasal dari tradisi Hindu yang tidak dikenal orang Sunda , tapi dikenal lewat orang Jawa, sementara Sunda Wiwitan adalah tradisi keagamaan dan budaya yang tidak hanya bersifat pra-Islam tetapi juga pra-atau non- Hindu.

Apa yang diangkat oleh Dedi sebagai "budaya Sunda" justru tampak lebih mirip dengan budaya Bali alih-alih Sunda. Kemiripan itu bisa dilihat dari motif kain kotak-kotak hitam-putih yang "menyarungi" pohon, bentuk janur kuning, sampai bentuk ikat kepala yang sering dikenakan Dedi lengkap dengan setangkai bunga yang dipasang dekat telinganya.

Dengan kata lain langkah-langkah Dedi di atas dalam rangka menghidupkan "budaya Sunda" justru tidak nyambung dengan budaya Sunda sendiri, terlebih jika dikaitkan dengan sensibilitas urang Sunda yang mayoritasnya Muslim.

URL JabarNews 1000 Patung Metong Akan Mempercantik Purwakarta JABARNEWS | Purwakarta - Kabupaten Purwakarta yang terletak di Provinsi Jawa Barat dikenal dengan Kabupaten terindah. Warna warni pembangunan tata ruang Kota Purwakarta memang berbeda dengan...
Serupa... tapi tak sama...

Comment

No comments yet. Write yours!