Politik : BUSUK Vs BUSUK

Chirpified

--Politisi: BUSUK versus BUSUK--

Saat ada ajang saling bongkar antara kebusukan , harusnya kita mendukung agar semakin jelas siapa sesungguhnya mereka.

Mereka politisi busuk yang sedang terjebak dalam permainan pantas juga meresakan permainan politik diantara mereka.

Siapapun yang jadi target bila memang benar pada dasarnya sasaran tersebut mempunyai track record sebagai politikus busuk , maka biarlah terbongkar.

Mungkin kali ini dia yang jadi sasaran , besok sang lawan juga bisa mengalami hal sama jadi sasaran.

Biarlah mereka para politis busuk itu saling bongkar , pengamat dan penonton jangan sok jadi pahlawan membela satu kubu.

Apalagi jadi akun caper yang sok jadi pahlawan berlaga netralitas , pdhal sesungguhnya terkesan membela.

Bahwa sesungguhnya kebusukan diantara mereka juga bisa terbongkar bila diantara mereka ada yang membongkar. Tanpa itu orang awam sulit men-deteksi.

Sesungguhnya masyarakat awam juga tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan mereka ,bila tidak ada permainan saling jegal diantara politisi tersebut.

Adu kuat diantara kubu yang saling mendukung dan membela demi mempertahankan dan memperebutkan kekuasaan, itu sudah menjadi permainan para politisi di Negeri ini.

Hasil demokrasi nyatanya hanya memunculkan kubu-kubuan antara yang lagi menikmati kekuaasaan dengan yang ingin memperebutkan kekuasaan.

Yang lagi menikmati kekuasaan tidak ingin kekuasaan nya di goyang , apalagi sampai dirampas.
Begitu juga yang diluar kekuasaan , sebisa mungkin ingin mengambil dan merebut kekuasaan.

Banyak faktor yang diluar ingin merebut kekuasaan: bisa karena dendam atas kekalahan , atau tidak tahan ber lama-lama diluar kekuasaan.

Kita melihat pertarungan para elit dalam kegaduhan tidak lebih karena keserakahan dalam memperebutkan kekuasaan.

Rakyat adalah istilah klise bagi mereka yang hanya dibutuhkan pada saat pemilu. Selanjutnya rakyat cukup jadi penonton permainan elite Parpol yang sedang mabuk kekuasaan.

Mereka inilah para komunikator politik yang teridentifikasi dalam peran-peran sebagai kaum pemilik modal, para politikus busuk, para birokrat yang berlumuran dosa korupsi, serta para politisi yang “berselingkuh” dengan para pemilik modal besar.

Mereka saling berebut pengaruh, saling menjatuhkan satu dengan yang lain dan rakyat yg tidak tahu apa-apa cukup jadi penonton.

Rakyat juga tidak tahu apakah yang sedang diperjuangkan, apakah nasibnya.., atau kepentingan hanya segelintir elite partai.

Oleh para elit partai rakyat jadi ikut terkotak-kotak dan menjadi pelanduk ditengah pertarungan dua gajah yang bertarung.

Dua gajah yang bertarung tidak peduli kalau ditengah diantara mereka ada pelanduk yang terinjak-injak dikarenakan pertarungan perebutan kekuasaan.

Tidak peduli soal Benar-salah , Halal-Haram , Pragmatisme kekuasaan adalah yang paling depan diperjuangkan.

Disatu sisi mereka bergandengan tangan membela karena pertemanan (satu kubu).

Disisi lain seribu satu cara dihalalkan demi mempertahankan jabatan agar tidak beralih ketangan lawan.

Standar ganda dalam melihat perkara bukan hal aneh bagi para elite partai. Jangan lagi bicara Benar-salah atau Halal-Haram, Itu bukanlah hal yang dipertimbangkan.

Praktek kubu-kubuan ini dijadikan modal untuk pertarungan dalam menetukan suatu perkara , bahkan persoalan yang lebih besar sekalipin.

Berdalih suara Mayoritas dijadikan pokok pengambil keputusan , maka faktor pengelompokan , pertemanan , dan kubu2an menjadi sangat dominan.

Paham mayoritas demikian hanya menghitung jumlah kepala, tetapi tidak mempertimbnangkan isi kepala; hanya menghitung jumlah orang, tetapi tidak mempertimbangkan pokok persoalan.

Karena kebenaran itu tergantung dari suara mayoritas , maka perkara yang salah bisa jadi benar bila mayoritas suara mengatakan benar.

Begitu juga sebaliknya perkara yang salah bisa jadi benar bila mayoritas mengatakan benar.

Jadi Benar atau Salah tidak lagi dilihat berdasarkan konsep Kebenaran yang hakiki selayaknya kebutuhan manusia sebagai hamba untuk mengikuti Kebenaran.

Kalau mau mencari Benar-Salah , maka jangan pernah sekali-kali berpatokan pada prilaku para elite politik.

Karena Benar-Salah versi para politisi adalah bersiafat variatif yang kemungkinan nya banyak dan selalu disesuaikan dengan kepentingan.

Dampaknya akan membuat masyarakat bingung , tersesat, dan terjebak pada pola pemikiran pragmatism yang dimainkan oleh elite partai (Politisi Busuk).

Maka biarlah yang Busuk Vs Busuk , agar semakin terbongkar kebusukan diantara mereka.

Dan Rakyat jadi tahu siapa sesungguhnya para Politisi Busuk itu !

Comment

No comments yet. Write yours!