Chirpstory will close the service later this year. At the end of September, you will not be able to post stories or comments.

ILUSI DEMOKRASI & ELIT PARTAI

Chirpified

Lho kok partai yg dulu saya pilih tiba2 elite nya mau mengkerdilkan(melemahkan) KPK....

Lho kok Partai yg dulu saya pilih elite nya sekarang ikut2an mendukung Donald Trump ....

Lho kok Partai yg dulu saya Pilih sekarang mencalonkan Mantan Koruptor jadi Kepala Daerah.....

Lho kok yang dulu keras tanding saat Pilpres sekarang jadi ikut koalisi....

Itulah Parpol yang diisi oleh Elite yang lebih mengutamakan kepentingan...bla..bla.. ,ketimbang menjaga amanah konstituen saat kampanye dulu

Konsekuensi dari sistem Demokrasi adalah melalui jalur partai politik, sementara partai politik adalah pemegang peran dalam tatanan konsep demokrasi.
Partai politik nantinya akan melahirkan yang disebut dengan elite-elite politik. Elite politik inilah yang akan menguasai pemerintahan dan kelembagaan negara.

Karena parpol adalah prasyarat demokrasi, maka masa depan demokrasi ada ditangan elite parpol, Demokrasi akan berakhir dengan kegagalan bila hanya dengan format mengandalkan partai politik yang dikuasai oleh segelintir para elit partai.
Kecenderungan elite partai adalah untuk mencari dan mendapatkan kekuasaan, karena partai politik manapun pasti didirikan ujung2 nya untuk mendapatkan kekuasaan.

Kepemilikan parpol oleh elit politik menyebabkan tidak adanya upaya yang lebih partisipatif yang dibangun oleh pemilik partai.

Masa depan demokrasi adalah masa depan elit politik, sehingga sering dirasakan demokrasi bukan untuk masyarakat tapi untuk elit politik. meskipun semboyan nya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Bagi para elit politik, demokrasi hanya dijadikan ornamen semata, bukan sesuatu yang substansial untuk di usung. Dan bagi pemilik partai itu adalah hal biasa.

Secara praktik, kepemilikan parpol menyebabkan demokrasi tidak tumbuh secara alamiah. Parpol dibentuk dan dikuasai oleh orang per orang, bukan lagi milik publik atau konstituen.
Kecenderungan Pimpinan Parpol menjadi penentu dalam mengambil keputusan, maka imbasnya pada aturan dan perundangan pemerintahan sangat berpengaruh dan dipengaruhi oleh segelintir elite politik yang pegang peran dalam pucuk pimpinan Parpol.

Ini Dia Elit Politik

Untuk mengetahui siapa itu elit politik, yang harus kita lakukan adalah menelusuri asal-usul mereka. Bagaimana mereka bisa terbentuk, dan bagaimana mereka bisa mengukuhkan diri?

Elit ialah sekelompok kecil manusia yang berhasil memiliki kekuasaan/kedudukan/kehormatan sehingga memiliki pengaruh untuk mengatur/menguasai sekelompok manusia yang lebih banyak yang mendapat manfaat/keuntungan dari tatanan sosial yang terbentuk.

Dari realitas sistem yang ada mereka tumbuh sebagai elit setelah mereka mendefinisikan,pengertian politik itu hanya aktifitas legal formal (sistem), maka mereka harus mengenalkan persepsi ini ke ranah rakyat kebanyakan sebagai tempat meraup dukungan (konstituen).
Setelah persepsi masyarakat awam merasa bisa terwakili dengan persepsi mereka maka disitulah dimana mereka menjelma menjadi elit politik. Kontrol diperoleh setelah penyamaan persepsi antara yang mengendalikan (elit) dengan yang dikendalikan (rakyat) setelah yang mewakili merasa kuasa penuh untuk jadi figur dari yang terwakili(rakyat).

Adapun strata kelas tampak saat aktivis partai duduk di jabatan. Mereka melupakan rakyat dan konstituennya. Ada jurang pembatas antara partai politik dan rakyat. Akibatnya, partai menjadi kelas sendiri dan rakyat juga menjadi kelas tersendiri. Hubungan mesra yang awalnya dibangun antara rakyat dan partai, pupuslah sudah. Diawalnya mesra seolah partai adalah dewa penolong kesengsaraan rakyat, tapi ujungnya disia-siakan juga. Habis manis sepah dibuang. Apa daya rakyat yang tidak memiliki kepekaan politik biasanya diam. Tanpa mampu melakukan perubahan untuk menjebol tembok pembatas kelas.
Kelas elite seolah menjadi kelas tersendiri yang saat menjalankan fungsi dan tugas nya mempunyai program yang sudah dikendalikan partai , dan tidak ada lagi relevansinya untuk mempertimbangkan mendengar suara pemilih(konstituen) yang sudah berjasa mengantarkan nya hingga bisa menjadi elite politik.

Subjek yang elitis dikenali dari perbuatannya yang murni pragmatis dan sikap yang gemar memisahkan diri dari konstituen yang melahirkan mereka. Sikap elitis bisa dibaca dari seringnya pengabaian mereka kepada suara konstituen dan lupa janji2 itu karena derajat hierarki yang dibangun di dalam partai mereka sendiri. Pengurus partai yang jabatannya makin tinggi makin tak tersentuh anggota partai yang berjabatan rendah. Bawahan partai tidak bisa mengkritik kebijakan atasan partai.
Demikian pula dengan kedekatan partai kepada konstituen. Partai elitis akan kaku dan canggung saat harus berhadapan dengan segala permasalahannya, apalagi saat intervensi dari pimpinan partai harus diikuti.

Pada akhirnya konstituen massa akan merasa asing dengan pengurus partai atau calon legislatif yang mereka pilih sebelumnya karena Kepentingan selalu diukur dengan kepentingan ‘pengurus partai’ bukan dengan ukuran ‘kepentingan umat’.
Apa yang diidealkan rakyat pemilihnya ternyata bukan hal ideal bagi partai, bahkan kita tidak tahu idealisme partai samasekali.

Politik di luar aktifitas ala parlemen akan diabaikan walaupun sesungguhnya ada (dianggap tidak legal). Mulailah para elit ini bergentayangan untuk menggolkan program2 partai yang sudah diamantkan pimpinana mereka , jadi yang yang dijalankan adalah amanat pimpinan partai, bukan menjaga amanat konstituen pemilihnya.
Hari-hari berikutnya sudah merupakan rutinitas harian para elit politik yang tidak perlu dicampuri lagi oleh konstituen. Itulah gunanya mekanisme ‘perwakilan’.

Dalam berkoalisi para elit partai juga tidak lepas dari sharing bagi-bagi kekuasaan. Begitu juga yang berlaku dalam pemilihan pimpinan tertinggi negara (Presiden).
Satu kubu berkoalisi untuk memenangkan jagonya untuk kemudian bila menang nanti akan ada pembagian jatah pada partai2 pendukung yang berhasil menang dalam pemilihan.

Kalaupun sekarang ada partai yang diluar koalisi, bukan berarti tidak ambisi dalam kekuasaan, tapi memang karena kebetulan saat pesta politik kemarin kalah sehingga konsekuensi nya harus tidak dapat jatah dalam kue kekuasaan (wajar)

Prilaku sama akan ditunjukan kubu koalisi yang kalah seandainya mereka pada saat pemilihan menjadi pemenang dalam kontes saat itu.

Jadi yaa cuma karena faktor kebetulan kalah saja sehingga tidak dapat jatah pembagian kekuasaan, kemudian terpaksa sementara harus mengambil posisi seolah-olah ber-oposisi.

Yang Tertipu dan yang Menipu

Dalam pemilu tidak jarang (sering) menghasilkan dua kelompok. Yang menipu dan yang tertipu. Mereka yang tertipu adalah rakyat yang datang dan memilih sosok yang ternyata nantinya tidak sesuai dengan harapannya. Sedang sang penipu adalah mereka yang memberikan banyak janji di masa kampanye, namun lupa akan janjinya ketika menjabat.

Mereka yang terpilih sebagai anggota legislatif namun tidak memberikan konstribusi positif pada konstituennya dan baru datang lagi menyapa dan berjanji serta menampilkan foto senyum terindah menjelang tahun pemilu. Lima tahun setidaknya cukup untuk melihat mereka tidak melakukan apa-apa untuk anda.

Jika kenyataannya para caleg yang terpilih ternyata tidak memberikan konstribusi “positif” pada masyarakat, maka gak usah teriak bahwa pemilu gagal karena tidak membawa angin perubahan kepada masyarakat bawah. Apapun hasilnya yaa harus diterima dan dinikmati saja, bukan kah yang milih juga rakyat, ya harus diterima meski begitu adanya,

Dan sekali lagi, akhirnya terjebak pada demokrasi yang bisa main tipu-tipu. Demokrasi yang penuh kemunafikan.

Comment

No comments yet. Write yours!