Effendi @eae18
Jadi wartawan, kalau mulainya jadi wartawan harian (cetak), itu terasa sekali ditempa secara mental
Effendi @eae18
Saya sih beri saran ke kawans mahasiswa jurnalistik, ketika terjun ke pers, masuklah ke media harian (cetak). Tentu beda dg media mingguan
Effendi @eae18
Kalau bisa terjun ke media cetak nasional. Media yang punya mekanisme kerja redaksi secara benar. Ada Kompas, Koran Tempo, MI, Republika
Effendi @eae18
Ritme kerja media cetak harian, sangat berbeda dengan media harian. Juga berbeda polanya dengan TV dan Radio
Effendi @eae18
Menulis itu tentu berbeda dengan bicara (TV dan Radio). Tak gampang menuturkan fakta-fakta di lapangan secara baik dan benar
Effendi @eae18
Orang seperti Saur Hutabarat, menulisnya bagus ketika jadi wartawan. Pas jadi pembawa acara di TV, gelagapan. Padahal, SH bicaranya bagus
Effendi @eae18
Jadi kontributor, tentu jadi sarana yang bagus untuk naik jadi wartawan. Tapi risiko kontributor terlalu banyak.
Effendi @eae18
Orang seperti Andy F Noya ketika jadi pembawa acara KickAndy, cukup bagus. Tapi kalau menulis, dia kedodoran. Ini berbeda dg Saur Hutabarat
Effendi @eae18
Ada juga sosok seperti Laurens Tato (dulu suka nulis pidato dan tulisan2nya Surya Paloh). Bicaranya gagap tapi kalau menulis, top dia
Effendi @eae18
Nah Elman Saragih ini contoh yang unik. Wartawan dan pendeta ini, tak trampil menulis n kalau jadi narsum editorial, pun pas-pasan bicaranya
Effendi @eae18
Sampai sekarang, saya berpendapat, kawans infotainment itu tak masuk kategori wartawan. Mereka bekerja di PH dan PH menjual program ke TV
Effendi @eae18
Production House (PH) itu memperkerjakan banyak orang yang bertugas seperti wartawan. Mencari berita. Pihak PH kemudian jual ke TV
Effendi @eae18
Kawans yang bekerja di PH, tak merasakan mekanisme kerja redaksi secara ketat. Polanya sangat berbeda. Saya merasakan dua pola kerja ini
Effendi @eae18
banyak kawans yang bekerja di infotainment, sering tak mengindahkan kaidah jurnalistik. Memaksakan berita secara eksklusif. Abai etika
Effendi @eae18
Infotainment, itu memadukan dua hal, information dan entertainment, informasi dan hiburan. Tapi di Indonesia, beralih jadi murni gosip
Effendi @eae18
Infotainment itu soft news, provides information in a way that is entertaining to its viewer (Branston). Infotainment serius tapi santai.
Effendi @eae18
Jadi kalau sekadar jadi wartawan, hampir penghuni jagat TwitLand, berfungsi seperti wartawan. Orang yang memberi warta. Memberi kabar
Effendi @eae18
Tapi sejatinya, seorang wartawan itu menjalankan peran-peran kenabian. Memberi kabar berita dengan benar dan selaras dengan fakta
Effendi @eae18
Saya melihat beberapa kawan wartawan yang cool tapi berisi. Ada Mas Bre Redana (wartawan senior Kompas) dan Mas @KelikMNugroho (Tempo)
Effendi @eae18
Ada juga Mas Osdar (wartawan Kompas), sangat bernas tulisan2nya, pernah bertugas di istana selama tiga presiden.
Effendi @eae18
Ada kawan baik saya Djadjat Sudrajat. Alumni UI ini, tulisan-tulisan punya kedalaman. Pernah jadi Pemred MI n sekarang masih di medianya SP
Effendi @eae18
Beberapa kawan yang saya sebutkan, sekadar contoh, jadi wartawan itu tak sekadar label. Tak sekadar ingin disebut wartawan. Mereka bernas!
Effendi @eae18
Kenapa mereka, yang saya sebutkan tadi, masuk wartawans bernas? Mereka tak sekadar pandai menulis tapi kemampuan berpikirnya cukup bagus
Effendi @eae18
Wartawan yang tak punya kemampuan berpikir dan berwacana secara baik, itu banyak.Banyak dan banyak. Mereka hanya mengandalkan label wartawan
Load Remaining (6)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.