David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Terus terang saat ini bangsa indonesia yg merasa dirinya "pribumi" pasti terpanggil untuk menunjukan sikapnya sebagai warga pribumi.
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Siapapun dia mau warga kaya atau miskin tanpa pilih bulu bila sudah sampai kepada titik "sikap" pasti jiwa dan raganya bergelora.
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Jujur saja sebenarnya para pejabat2 tinggi kita dimanapun berada diseluruh pelosok tanah air pasti tdk.akan bisa menyembunyikan "sikap"nya.
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Hanya mereka terhadang oleh statusnya sebagai abdi negara "namun kalau ditanya hati kecil mereka semua, mrk juga tau kalau pribumi terjajah"
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Sebagai warga pribumi mereka juga tidak.akan bisa menutup.matanya apabila 95 % bidang perekonomian dan perdagangan berada ditangan"cina"
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Kalau melihat kembali sejarah kebelakang persoalan monopoli dan penguasaan perekonomian indonesia oleh bangsa asing sdh dimulai pada 1950
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Kegelisahan bangsa pribumi indonesia atas monopoli dan penguasaan bidang ekonomi dan perdagangan yg dilakukan oleh banga asing cina wkt itu.
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Memang setelah kita meredeka dari belenggu penjajahan belanda dimana wkt itu kita masih dilanda oleh rasa euporia kemerdekaan
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Kita nilai hal itu wajar saja terjadi, hanya bangsa kita lupa dan lalai apabila setelah itu kita kembali diintip.oleh satu penjajahan baru
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
"penjajahan baru atau apa yg disebutkan oleh BUNG KARNO Neokolonialisme tsb"perlahan2 terus merangkak dan merayap dari dalam NKRI
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Ketika bangsa asing cina masuk dan berduyun2 ke indonesia sebagai pedagang kelontong dan distributor mrk betul2 telah menguasainya.
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Pada tahun 1950 silam "bangsa asing cina" sudah menguasai pedangangan kelontong atau eceran mulai kabupaten/kota dan kecamatan
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Watak imperialis dan kapitalis bangsa asing cina ini.betul2 eksklusif memonopoli bisnis dan perdagangan kala itu tanpa memikirkan pribumi
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Mereka betul2 ketika itu memegang kendali perekonomian indonesia dari tangan pribumi secara monopoli lewat perkumpulan mereka
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Ternyata kegelisahan itu mulai terjadi dimana para pedangang2 pribumi sudah terpijak.dan bermatian perlahan2 akibat dominasi mrk tsb
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Maka tak terhindarkan lagi keributan pun pecah "gerakan anti cina" terjadi dipelosok tanah air dengan meletusnya petistiwa cibadak di jabar
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Dengan meletusnya peristiwa "anti cina" tsb membuat pribumi murka tidak sedikit toko.dan warung pedagang cina tutup dan dirusak pribumi
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
menyikapi peristiwa ini akhirnya pemerintahan orde lama mengeluarkan sebuah kebijakan PERPRES NO 10 tahun 1959 melalui MENDAG,
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Peraturan presiden no.10 tahun 1959 yg ditandatangani oleh menteri perdagangan Rahcmat mujorisero tsb berisi sejumlah larangan
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Isi pepres no. 10 tahun 1959 tsb "melarang semua bangsa asing berusaha dibidang perdagangan eceran ditingkat kabupaten kebawah
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Kepada semua bangsa asing waktu itu diwajibkan untuk mengalihkan usaha perdagaangan mereka kepada WNI/PRIBUMI"luar biasa"
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Akibat kebijakan PP 10 1959 tsb dinilai kontraversial.akhirnya memicu kerusuhan dimana2 ditandai dengan eksodus besar2an "org cina"
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
Kebijakan membela pribumi ini semuanya tidak terlepas dari peran aktif sang pendobrak pribumi "Assat datuk mudo" kala itu
David Ridwan Betz @davidridwanbetz
ASSAT DATUK MUDO sudah melihat apabila monopoli dan dominasi "kapitalis cina" tdk membuka jalan bagi bangkitnya pedagang2 pribumi asli
Load Remaining (25)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.