2
IG : @ini.sleman @IniSleman
Raja yg rela "dimarahi" rakyatnya, Raja yg rela ditilang, & Raja yg menolak namanya diabadikan sbg nama jalan pic.twitter.com/3GNib9SIc1
Expand pic
IG : @ini.sleman @IniSleman
Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang yang tidak menyukai kultus individu.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Sebelum wafat, beliau berpesan agar namanya tidak dipakai untuk nama jalan, juga tidak ingin ada patung dirinya terpajang.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Pernah suatu kali, Sultan Hamengku Buwono IX pulang dari Jakarta ke Yogyakarta menyetir sendiri mobilnya.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Di jembatan Krasak, ratusan orang menunggu, menyambut kepulangannya.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Namun, Sri Sultan Hamengku Buwono IX justru tancap gas karena tidak ingin dielu-elukan masyarakat.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Beliau juga tidak menolak ketika ditilang di Pekalongan oleh polisi yg bernama Royadin. Tak ada arogansi
IG : @ini.sleman @IniSleman
Sekarang, jangankan pejabat, orang touring saja berasa raja jalanan
IG : @ini.sleman @IniSleman
Ketika itu, sekitar tahun 60an, Royadin sedang bertugas mengawasi lalu lintas saat ada sebuah mobil yg melawan arus
IG : @ini.sleman @IniSleman
Royadin segera menghentikan mobil itu. "Selamat pagi, bisa ditunjukan rebowes," kata Royadin. Rebowes adalah surat kendaraan saat itu.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Pengemudi mobil itu membuka kacanya. Royadin hampir pingsan melihat siapa orang yg mengemudikan mobil itu.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Ternyata yg di dalam mobil Sri Sultan Hamengku Buwono IX! "Ada apa pak polisi?" kata Sultan
IG : @ini.sleman @IniSleman
Sedetik Royadin gemetaran, tapi dia segera sadar. Namun dia punya pribsip, semua pelanggaran harus ditindak.
IG : @ini.sleman @IniSleman
"Bapak melanggar verboden," katanya tegas pada Sultan. Royadi mengajak Sultan melihat papan tanda verboden itu. Namun Sultan menolak
IG : @ini.sleman @IniSleman
"Ya, saya yg salah. Kamu yg pasti benar. Jadi bagaimana?" tanya Sultan.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Pertanyaan sulit utk Royadin. Di depannya berdiri sosok Raja, pemimpin & pahlawan Republik. Dia hanya polisi muda berpangkat brigadir.
IG : @ini.sleman @IniSleman
"Maaf, Sinuwun terpaksa saya tilang," kata Royadin.
IG : @ini.sleman @IniSleman
"Baik, brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal," jawab Sultan.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Royadin heran, tidak ada upaya Sultan menggunakan kekuasannya untuk minta damai atau menekan dirinya.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Dengan tangan bergetar, Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Royadin baru sadar setelah Sultan berlalu. Dia menyesal, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Ingin rasanya dia mengambil kembali surat tilang Sultan dan menyerahkan rebowes mobil Sultan yang ditahannya. Tapi, semua sudah terlanjur.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan.
IG : @ini.sleman @IniSleman
Nama Royadin diteriakkan berkali kali dari ruang komisaris. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar.
IG : @ini.sleman @IniSleman
"Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berfikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Siapaaa?...
Load Remaining (29)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.