0
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Sederhana saja. Kita diberi 2 telinga dan 1 mulut. Seharusnya kita lebih banyak mendengar daripada minta didengarkan.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Sayangnya, fakta lebih sering tak seindah teorinya.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
“Andi…! Sini kamu! pokoknya ayah nggak mau dengar lagi ada laporan tetangga kalau Andi nakal lagi. Mau jadi apa sih kamu ?
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Dengar ya.. Dulu, waktu ayah masih kecil, nggak pernah tuh Ayah bikin nangis anak orang, nggak suka berkelahi, nggak bikin kisruh..pokoknya.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
nggak macem-macem bla..bla..bla,” ini biasanya rententan kalimat yang biasanya meluncur deras dan sulit dihentikan.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Intinya, sang ayah minta didengarkan terlebih dahulu tanpa memberi kesempatan anak untuk menjelaskan duduk perkaranya.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Atau : “Aduuh Silmi.., gimana sih, coba dengar ya Nak.. Sudah berapa puluh kali Bunda ingatkan.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Begitu pulang sekolah, taruh peralatan sekolahmu di rak belakang, jangan diberantakkan begini.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Itu lagi, sepatunya koq gak dicopot, kan lantainya jadi kotor.. Bunda capek kan..” kata seorang ibu kepada anaknya yang pulang sekolah >
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
> dalam kondisi kesal, mungkin karena ada masalah di sekolahnya.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Tapi sang Bunda tak berusaha mendengar terlebih dahulu, tetapi mengedepankan perspektif “ingin didengar” untuk menyampaikan pesan.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Dalam keseharian, sebagai orang tua, kita cenderung ingin langsung masuk dalam kehidupan anak-anak kita dengan beragam nasihat, >
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
> ingin memperbaiki, dan sebagainya. Tanpa terlebih dahulu berusaha untuk mengenali konteks dan permasalahannya.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Ujung-ujungnya kita ingin dimengerti tanpa lebih dahulu mengerti mereka.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Mendengar adalah pekerjaan mudah. Selama telinga kita berfungsi dengan baik, InsyaAllah tak ada masalah.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Tetapi mendengar dengan penuh perhatian, antusias, tanpa kepura-puraan, belum tentu mudah untuk dilakukan.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Inilah yang disebut sebagai mendengar aktif (active listening). Bukan sekedar mendengar selintas, mendengar sebagian, atau pura2 mendengar
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Ketika orang tua mendengar secara aktif, maka anak akan merasa dihargai.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Mendengar aktif dilakukan dengan memusatkan perhatian pada anak-anak dan isi pembicaraannya, serta memberikan respon yang sesuai.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Anak dibiarkan tuntas mengutarakan isi hatinya dan sedapat mungkin menunda kecenderungan kita untuk memotong atau menginterupsi.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Komunikasi non verbal berupa kontak mata yang berbinar-binar, wajah dan seluruh badan dihadapkan pada si kecil,
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
dan gerakan tubuh yang menunjukkan orang tua antusias memberi perhatian, sangat mendukung aktivitas mendengar aktif.
SDIT Hidayatullah Jogja @sdhidayatullah
Jika anak dalam posisi yang kita anggap bersalah, biarkan ia terlebih dahulu menceritakan duduk perkaranya,
Load Remaining (20)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.