0
Erie Sudewo @ErieSudewoID
1. Orang egois itu tak langsung merugikan, cuma “nyebelin”. Dia tak peduli pada lingkungan. Asyik dengan dirinya, seolah tak ada orang lain
Erie Sudewo @ErieSudewoID
2. Ego punya kakak. Siapa? Serakah alias tamak. Beda dengan ego, tamak itu sudah ambil hak orang lain. Posisinya rugikan orang lain
Erie Sudewo @ErieSudewoID
3. Ego pun punya adik. Siapa? Kikir alias pedit. Orang yang tamak, tandemnya kikir. Tamak dan kikir jadi saudara tak terpisahkan. 11 12 lah
Erie Sudewo @ErieSudewoID
4. Korupsi itu karena serakah. Serakah itu halalkan segala cara. Maka hasil korupsi itu pasti haram. Tak ada korupsi yang halal
Erie Sudewo @ErieSudewoID
5. Sense of belonging itu baik. Cuma bagi koruptor, sense-nya terlampau tinggi. Barang orang lain pun ingin dimiliki | #GanasnyaSerakah
Erie Sudewo @ErieSudewoID
6. Dalam kehidupan sehari-hari, tamak dan kikir terwujud pada perilaku rentenir. Di zaman Soekarno, mereka dinamakan “lintah darat”. Kini?
Erie Sudewo @ErieSudewoID
7. Dalam manajemen, jika ego, tamak dan kikir dikelola profesional, hasilnya industri hulu hilir. Dengan korporasi “wajah bengis jadi indah”
Erie Sudewo @ErieSudewoID
8. Komunikasi pun jadi tricky. Karyawan tambang cuma 2.000 orang, tapi sudah berani teriak: “Kami bangun Indonesia” | #GanasnyaSerakah
Erie Sudewo @ErieSudewoID
9. Lha, gali dan olah tambang sudah tugasnya. Bagi hasil juga tak imbang. Berapa biaya operasional, royalty dan pajak untuk Indonesia?
Erie Sudewo @ErieSudewoID
10. Bisa kita tahu transparan-nya? Yang pasti, terbesar dibawa ke luar Indonesia. Yang kita khawatirkan, jangan-jangan lebih dari 70% laba
Erie Sudewo @ErieSudewoID
11. Negeri ini minim prestasi. CSR yang tak seberapa pun, PR-nya diangkat membahana. Biaya PR bisa berkali-lipat dibanding dana CSR-nya
Erie Sudewo @ErieSudewoID
12. Dulu singkatan CSR = Corporate Social Responsibility. Kini CSR lebih menjadi Corporate Social Reporting | #GanasnyaSerakah
Erie Sudewo @ErieSudewoID
13. Artinya, laporan CSR jauh lebih dahsyat ketimbang programnya. Seperti iklan Fuji film tempo dulu: “Lebih indah dari warna aslinya"
Erie Sudewo @ErieSudewoID
14. Serakah dan kikir itu menyatu. Saat dorong konglomerat sebagai lokomotif, kita minta terapkan strategi trickle down effect (TDE)
Erie Sudewo @ErieSudewoID
15. Metode TDE itu begini. Ibaratkan ada gelas kosong. Lantas isi dengan air. Ketika penuh, air pun tumpah dan merembes ke sekitarnya
Erie Sudewo @ErieSudewoID
16. Arti rembesan, itulah yang diminta negara menghidupkan usaha kecil di sekitarnya. Strategi yang dipilih negara sudah baik dan benar
Erie Sudewo @ErieSudewoID
17. Ini pas dengan nasihat bijak yang mengatakan: “Tidak mungkin batu besar bisa tegak berdiri tanpa ditopang batu-batu kecil lainnya”
Erie Sudewo @ErieSudewoID
18. Ternyata TDE cuma indah di atas kertas. Pada prakteknya yang terjadi adalah trickle up effect (TUP). Bagaimana itu? #GanasnyaSerakah
Erie Sudewo @ErieSudewoID
19. Saat air penuh dan hendak tumpah, ternyata bibir gelas ditinggikan. Hendak tumpah lagi, bibir gelas ditinggikan. Terus terus dan terus
Erie Sudewo @ErieSudewoID
20. Bibir yang ditinggikan itu, tak lain adalah anak perusahaan sendiri. Dibangun untuk perbesar skala bisnis dan perusahaan mereka sendiri
Erie Sudewo @ErieSudewoID
21. Konglomerat di kita pun fantastis perkembangannya. Ratusan perusahaan dalam satu holding dibangun dalam periode 80 hingga 90-an
Erie Sudewo @ErieSudewoID
22. Pemerintah tak tanggung-tanggung. Tambah lagi dengan kebijakan Pakto dan Pakdes. Persilakan mereka buat bank. Pesta pun tak terkendali
Erie Sudewo @ErieSudewoID
23. Bayangkan membuat perusahaan sendiri, tapi dengan dana dari tabungan masyarakat. Maka “sempurnalah kekacauan bisnis di Indonesia”
Erie Sudewo @ErieSudewoID
24. Ada pengusaha HPH, yang luas hutannya 3 x luas kerajaan Inggris. Lha jangan bandingkan lagi dengan luas Brunei apalagi Singapura
Load Remaining (16)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.