0
Inkrispena @Inkrispena
1. Relativisme pernah (dan masih) menjadi bagian dari iklim intelektual di Indonesia, khususnya di zaman posmodernisme masih dominan dulu.
Inkrispena @Inkrispena
2. Posisi relativis menyatakan bhw setiap posisi tidak ada yg benar dan tidak ada yang salah. Yang ada hanyalah posisi-posisi yang berbeda.
Inkrispena @Inkrispena
3. Konsekuensinya, setiap posisi hrs bisa mentolerir posisi lainnya. Tdk boleh ada posisi yg mengalahkan posisi lainnya dan menjadi dominan.
Inkrispena @Inkrispena
4. Jika ada satu posisi yang mendesakkan dirinya untuk mengalahkan posisi-posisi lain, maka posisi itu akan dikritik sebagai totalitarian.
Inkrispena @Inkrispena
5. Relativisme seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, relativisme berwatak kritis, karena anti dengan finalitas kebenaran.
Inkrispena @Inkrispena
6. Namun, di sisi lain, relativisme membunuh kritik, karena kritik bersifat evaluatif dan selalu mengandaikan adanya kebenaran.
Inkrispena @Inkrispena
7. Kita hanya bisa mengritik sesuatu sebagai salah jika sesuatu itu tidak sesuai dengan kebenaran yang kita pegang.
Inkrispena @Inkrispena
8. Tanpa memegang suatu kebenaran tertentu, kita tidak akan bisa melancarkan kritik.
Inkrispena @Inkrispena
9. Namun, menganggap ada kebenaran final membuat kita terjebak ke dalam absolutisme dan sikap tidak kritis thd kebenaran tsb.
Inkrispena @Inkrispena
10. Roy Bhaskar, seorang filsuf realisme kritis, berupaya memecahkan paradoks ini dengan membedakan dua konsep relativitas.
Inkrispena @Inkrispena
11. Pertama, konsep “relativisme penilaian” (judgemental relativism). Konsep inilah yg sebelumnya kita bahas dan sebut sbg "relativisme."
Inkrispena @Inkrispena
12. Menurut konsep ini, semua posisi tdk ada yg benar dan tdk ada yg salah. Tdk ada dasar untuk menilai suatu gagasan itu benar atau salah.
Inkrispena @Inkrispena
13. Konsep "relativisme penilaian" ini dikritik dan ditolak oleh Bhaskar. Konsep ini problematik dan membantah dirinya sendiri.
Inkrispena @Inkrispena
14. Jika tdk ada dasar apapun utk mengatakan suatu posisi benar atau salah, lantas knp konsep relativisme penilaian hrs diterima sbg benar?
Inkrispena @Inkrispena
15. Bukankah dengan menerima konsep relativisme penilaian, kita sebenarnya mengakui adanya sesuatu yang benar atau kebenaran?
Inkrispena @Inkrispena
16. Konsekuensi logis dari relativisme penilaian adlh sejenis solipsisme: tdk ada yg benar, kecuali konsep relativisme penilaian itu sendiri
Inkrispena @Inkrispena
17. Konsep relativitas yang kedua adalah konsep “relativitas epistemik” (epistemic relativity). Konsep inilah yg diterima oleh Bhaskar.
Inkrispena @Inkrispena
18. Relativitas epistemik mengakui semua gagasan terbentuk secara sosial-historis. Jd, tidak ada gagasan yg berdiri di luar masy dan sejarah
Inkrispena @Inkrispena
19. Dan karena masyarakat berkembang, maka gagasan yang benar pada saat tertentu, bisa saja tidak benar lagi di saat lainnya.
Inkrispena @Inkrispena
20. Misalnya, jika ada temuan baru yang membantah gagasan yang sblmnya dianggap benar. Ini berarti kebenaran gagasan cenderung sementara.
Inkrispena @Inkrispena
21. Meski gagasan memiliki batasan historis, itu tidak berarti tidak ada kebenaran yang bisa valid pada momen historis tertentu.
Inkrispena @Inkrispena
22. Relativitas epistemik mengakui adanya kebenaran yg bisa berlaku di satu momen historis tertentu, meski keberlakuannya bersifat temporer.
Inkrispena @Inkrispena
23. Krn itu, dari sudut pandang relativitas epistemik, perbandingan antar berbagai posisi dalam satu momen historis tertentu dimungkinkan.
Inkrispena @Inkrispena
24. Namun, karena mengakui batas historis dan watak temporer dari kebenaran, konsep relativitas epistemik tetap menolak finalitas kebenaran.
Inkrispena @Inkrispena
25. Konsep relativitas epistemik sendiri merupakan produk sosial-historis dan hanya bisa diterima di bawah kondisi historis tertentu.
Load Remaining (23)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.