0
Rumail Abbas® @Stakof
Muawiyah, dalam pandangan Sunni, melakukan ijtihad yang salah. Namun Sunni tidak lantas mengafirkannya. Karena Muawiyah sahabat Rasul.
Rumail Abbas® @Stakof
Tapi Gusti Allah memuliakan para sahabat. Sesalah²-nya Muawiyah, beberapa keturunannya diangkat Allah sebagai “Wali Quthb Al-Ghaits”.
Rumail Abbas® @Stakof
Umar ibn Abdul Azis, misalnya, adalah “Wali Quthb Al-Ghaits”. Cucu Muawiyah: Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah, juga “Wali Quthb Al-Ghaits”.
Rumail Abbas® @Stakof
Allah menutup kekurangan Muawiyah dengan memilih di antara keturunannya sebagai “Pasak Bumi (Wali Quthb Al-Ghaits)”
Rumail Abbas® @Stakof
Itu karena sahabat menjadi orang beriman pertama, mendukung, berjuang bersama Kanjeng Nabi secara langsung. Mereka hadir di sana.
Rumail Abbas® @Stakof
Penerus risalah Njeng Nabi setelah sahabat adalah tabi'in yang dalam peradaban Sunni disebut: “Salafuna Al-Salih” (bukan Salafi).
Rumail Abbas® @Stakof
Kemudian sampai di tangan ulama-ulama, yang karena gelombang terakhir (setelah sahabat-tabi'in-salaf) menjadi “Pewaris Para Nabi”.
Rumail Abbas® @Stakof
Kanjeng Nabi sendiri yang mengatakan: “Ulama-ku seperti nabinya Bani Israil (ulama`i ka al-anbiya bani Isra`il)”.
Rumail Abbas® @Stakof
Ada kisah menarik dari Imam Yahya bin Hasan. Suatu ketika menuju baitullah bersama kafilah dari Tarim, Yaman.
Rumail Abbas® @Stakof
“Terjalnya” perjalanan ke Mekah, dilanjutkan ke Madinah. Salah seorang “member” kafilah ada yang meninggal. Al-Imam Yahya menghampirinya.
Rumail Abbas® @Stakof
Berbisik di telinganya, Al-Imam Yahya berkata: “Kau mau kuajak ziarah ke Jaddana (kakekku) SAW. Kalau mau mati, nanti saja setelah ziarah.”
Rumail Abbas® @Stakof
Seketika orang itu hidup. Dan setelah di Madinah, ajal pun menjemput.
Rumail Abbas® @Stakof
Dari kejadian ini lahirlah sebutan “Bin Yahya” bagi keturunan Al-Imam Yahya bin Hasan. Seperti Habib Luthfi Bin Yahya Baalawy, misalnya.
Rumail Abbas® @Stakof
Ulamanya Kanjeng Nabi Muhammad seperti Nabinya Bani Israil. Contohnya seperti tadi; menghidupkan orang mati.
Rumail Abbas® @Stakof
Apa harus melulu seperti itu? Ternyata tidak. Dan keperluan karomah ternyata menyesuaikan “mukhotob”-nya.
Rumail Abbas® @Stakof
Karomah dari bahasa Arab “karamatan”. Di lidah Jawa jadi: Keramat. Mau seperti apa, ia tetap berarti “penghormatan”.
Rumail Abbas® @Stakof
Dalam arti “Karamatan li `ummati Sayyidi Muhammad (penghormatan bagi umat Kanjeng Nabi)”.
Rumail Abbas® @Stakof
Di depan orang awam, kekeramatan seperti ini akan jadi “kalam”: “Pantesan ada mukjizat, wong ulamanya saja punya keramat.” Itu saja.
Rumail Abbas® @Stakof
Tahu sendiri lah bahwa “kalam” bersifat “tidak menimbulkan pertanyaan (lagi) bagi pendengarnya.”
Rumail Abbas® @Stakof
Itu baru auliya`, bagaimana dengan sahabat? Dan lagi, bagaimana dengan kanjeng Nabi?
Rumail Abbas® @Stakof
Di kisah²nabawiyah, nyaris tidak banyak keterangan ada kekeramatan seperti `auliya pada Sahabat Nabi. Menghidupkan orang, misalnya.
Rumail Abbas® @Stakof
Apakah Sayid Umar mampu menunjuk orang mati lantas hidup seperti Sayid Abdul Qadir Jailany? Tidak ada ceritanya!
Rumail Abbas® @Stakof
Apakah Abu Bakar mampu seperti Nabiyullah Uzair yg menghidupkan hewan mati ratusan tahun; hal yg pernah dilakukan Habib Abu Bakar Alatas?
Rumail Abbas® @Stakof
Nyatanya tidak! Hal ini karena sahabat tidak perlu itu. Dan sangat tidak membutuhkannya.
Rumail Abbas® @Stakof
Meskipun lebih banyak risalah karomah para auliya`, namun Sahabat tidak akan pernah bisa “lebih rendah” dari mereka.
Load Remaining (16)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.