0
Joko Anwar @jokoanwar
Di negara yg perfilmannya lebih maju, film-film kualitasnya bahkan lebih rendah dari FTV nggak bisa masuk bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Film-film kualitas rendah ini dapat jatah tayang yg sama dengan film Indonesia lain yang lebih layak tayang bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Akibatnya, di sini film yg jauh lebih layak tayang bioskop musti ngebagi slot tayangnya dengan film yg gak layak tayang.
Joko Anwar @jokoanwar
Akibatnya juga, tak jarang penonton film Indonesia kapok ke bioskop karena nonton film yg lebih layak tayang gratis di TV.
Joko Anwar @jokoanwar
Film yg layak tayang bioskop, selain harus memenuhi standard teknis, production value dan/atau temanya harus bernilai lebih.
Joko Anwar @jokoanwar
‘Production values’ sebuah film adalah elemen teknis dari sebuah film termasuk lokasi, set, property, special effects, dsb.
Joko Anwar @jokoanwar
Biasanya, film dgn production values tinggi, pas nonton bikin kita mikir, ‘wah, mahal nih film’.
Joko Anwar @jokoanwar
Tapi production values yg tinggi gak selalu berarti filmnya mahal. Sutradara yg skill-nya oke bisa bikin film keliatan mahal padahal murah.
Joko Anwar @jokoanwar
Selain production values, film dgn tema cerita, ide, style filmmaking yg spesial juga akan jadi lebih layak tayang di bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Misalnya film ‘Paranormal Activity’ yg murah tapi ngasih pengalaman nonton bioskop yg menakjubkan.
Joko Anwar @jokoanwar
Atau film dengan tema dewasa yang tidak cocok untuk diputar di TV.
Joko Anwar @jokoanwar
Sayangnya, banyak film Indo dgn production values kecil, tema banal, style dan skill filmmaking minim bisa masuk bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Kondisi perfilman seperti ini tidak menciptakan penonton yang sustainable. Penonton yg pengen balik nonton ke bioskop lagi.
Joko Anwar @jokoanwar
Tahun 1990an, kita coba narik penonton ke bioskop dengan judul-judul berlendir, kayak ‘Setetes Noda Manis’, ‘Ecstasy dan Pengaruh Sex’.
Joko Anwar @jokoanwar
Setelah penonton tau bahwa filmnya gak ada seksnya cuman celana dalem nyelip doang, penonton pun gak balik lagi.
Joko Anwar @jokoanwar
Sekarang, kita juga coba narik penonton ke bioskop dgn faktor-faktor di luar storytelling. Entah itu kepopuleran judul, seleb, dsb.
Joko Anwar @jokoanwar
Lihat lah film horor kacangan yang 5 tahun lalu laku kayak kacang, sekarang mulai ditinggal penonton.
Joko Anwar @jokoanwar
Akibatnya, semua film Indonesia, bahkan yg punya production values tinggi dgn tema dan style yg layak tonton, orang males ke bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Praktek ini disebabkan karena tidak ada filtering/kurasi atas film-film yang tayang di bioskop di Indonesia.
Joko Anwar @jokoanwar
Di negara lain, distributor berfungsi juga sebagai ‘penyaring’ film, karena mereka selektif atas film yg mereka distribusikan ke bioskop.
Joko Anwar @jokoanwar
Di sini, produser mendistribusikan film mereka sendiri ke bioskop. Tidak ada perusahaan yg hanya sbg distributor film Indonesia.
Joko Anwar @jokoanwar
Bioskopnya juga nggak enakan mau nolak film. Padahal jangankan soal production values atau tema, secara teknis aja banyak yg gak layak.
Joko Anwar @jokoanwar
Hasilnya, penonton yang beli tiket dengan uang mereka yg hard-earned, cuma dikasih film astrada (asal terang gambar ada).
Joko Anwar @jokoanwar
Bayangin film dgn production values tinggi kayak Pendekar Tongkat Emas harus rebutan slot tayang dgn film, misalnya: youtu.be/nALVyOYecYQ
Expand pic
Load Remaining (14)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.