0
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
2. Waktu usia ku masih 3 tahun. Aku sedang asik bermain kelereng di halaman depan rumah sendirian.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
3. Sesaat aku terhenti, melihat banyak orang yang berdatangan masuk ke rumah ku dengan memakai kerudung dan kopiah.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
4. Tanpa merasa terusik, aku melanjutkan bermain kelereng.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
5. Sayup-sayup ku dengar dari dalam rumah suara ibu yang meminta salah satu temanku yang bernama Eko untuk menemaniku bermain di depan.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
6. Usia Eko beberapa tahun lebih tua dari ku. Melihat senyumnya seraya menghampiriku, hatiku menjadi senang karena ada teman bermain.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
7. Ingatan diatas adalah saat dimana ayahku meninggal dunia. Hanya peristiwa itu yang masih jelas tertinggal di dalam pikiran ku.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
8. Bukannya tangisan, atau pun wajah terakhir sang ayah.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
9. Tetapi, ternyata detik itu merupakan awal perjuangan berat yang harus dilalui Ibu ku. Mungkin aku tidak menangis ketika di tinggal ayah.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
10. Namun, air mata ini sering jatuh saat melihat ibu harus bekerja keras demi memberikan kami sesuap nasi.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
11. Beliau harus mencari tempat untuk berhutang bila biaya sekolah kami sudah jatuh temponya.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
12. Tentu saja, tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan dengan gaji Rp. 400.000 per bulan.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
13. Jangankan untuk sekolah, untuk makan saja masih kurang.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
14. Makanya, Tidak jarang kulihat dia terbaring lelah dengan bekas-bekas air mata masih menempel di pipinya.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
15. Aku anak tertua di dalam keluarga. 2 orang adikku masih kecil2. Anehnya, ibu slalu mengutamakan aku daripada adik-adikku yang lainnya.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
16. Baik itu darisegi uang jajan, makanan maupun soal pendidikan. Waktu itu aku masih anak-anak. Dimanja adalah hal yang paling kusukai.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
17. Namun, suatu ketika, ibu menjelaskan kepadaku kenapa dia lebih mengutamakan aku daripada adik-adikku yang lainnya.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
19. ”Budi, Ibu ikhlas banting tulang u/ sekolah kau. Ibu rela mandi darah srta menanggung malu dg berhutang dsn sni aslkn kau bs sekolah.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
20. ..Kau harus ingat satu hal, Cuma dengan sekolah tinggi- tinggilah kau bisa merubah nasib keluarga kito dan nasib orang lain.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
21. .. Kalau kau sukses, kau bisa bantu adik-adik kau.”
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
22. Sebenarnya aku terbengong sj mendengar kata2 ibu itu. Terbengong krn aku jg tidk tahu apkh aku bisa mjd seperti apa yg di harapkan ibu.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
23. Benarkah aku bisa sekolah tinggi? Untuk lulus SD saja hutang ibu sudah menumpuk.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
24. Belum lagi otakku yang pas-pasan. Mau naik kelas 2 SD saja nilai ku merah dua.
Budi Waluyo, Ph.D. @01_budi
25. Andai merah ku ada tiga sudah tidak naik kelas. Apalagi mau membantu adik-adik ku.
Load Remaining (55)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.