DEMOKRASI MEMILIHKAN, BELUM MENYEJAHTERAKAN

Memang demokrasi memberi kami pemimpin terpilih, tapi belum tentu terbaik, apalagi menyejahterakan!
pilkada demokrasi bisnis pemilu dki
0
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
Saya mencoba menulis kultwit tentang (praktek) demokrasi, tanpa teori muluk tapi hanya dari kejujuran hati, atau keluguan, yang terdalam.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
1. Demokrasi memang telah berhasil memenangkan seorang kandidat; tapi saya tak yakin demokrasi telah memilihkan kita pemimpin terbaik.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
2. Karena demokrasi lebih mewadai popularitas; siapa yang populer maka ia akan dikenal dan pada akhirnya ia yang dipilih.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
3. Tak terlalu penting siapa dia, rekam jejaknya, dan bagaimana visinya ketika maju bertanding dalam kompetisi sebuah jabatan.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
4. Kalaupun toh ada pemaparan visi dan program, saya rasa itu hanya bagian dari bungkus belaka. Karena sifatnya lebih teaterikal dan citra.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
5. Demokrasi seringkali hanyalah cara instan mengisi kepemimpinan yang kosong. Dia tak dengan serius menempa pemimpin secara alamiah.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
6. Maka jangan heran jika pada kesempatan pesta demokrasi khalayak mengelu-elukan seorang kandidat, tapi akhirnya cacat dalam kepemiminannya
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
7. Tengoklah sejarah seorang kandidat yang pernah meraup 60% lebih suara kemenangan tapi minus prestasi dalam masa kepemimpinannya.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
8. Ini karena demokrasi layaknya etalase toko, yang harus selalu tampak indah, tak penting bagaimana kualitasnya.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
9. Lebih runyam lagi jika demi keindahan itu, demokrasi mempercantik diri dengan imitasi-imitasi, sesuatu yang sepertinya bagus tapi palsu.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
10. Maka seperti barang dagangan, seorang kandidat pesta demokrasi perlu dipoles dengan strategi pemasaran atau manajemen bisnis.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
11. Maka larislah para konsultan bisnis demokrasi, para pakar marketing dan komunikasi, juga praktisi periklanan. Semua berusaha menjualnya
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
12. Dan sebagai barang dagangan, kandidat tak lepas dari perhitungan untung-rugi. Maka cukong dan calo berlomba menanamkan saham.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
13. Transaksi dan tawar menawar menjadi lumrah. Sekarang kandidat dihargai berapa dan nanti harus menghasilkan laba berapa?
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
14. Istilah akad pinangan dan balik modal menjadi lumrah dalam bisnis demokrasi. Wani piro lan oleh balilan piro?
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
15. Maka, demokrasi bukan saja tidak memberi jaminan terpilihnya pemimpin yang terbaik, tapi juga tak menjamin baiknya kesejahteraan rakyat.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
16. Memang sepintas pesta demokrasi memutar roda ekonomi, tapi perputaran ekonomi itu lebih hanya di sekitar pengusaha mapan.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
17. Bisnis periklanan dengan segala pendukungnya: biro iklan, media cetak dan elelktronik, juga percetakan dan garmen. Juga lembaga survey.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
18. Rakyat biasa seringkali hanya mendapat jatah bagian kaos atau amplop serangan fajar. Tak seberapa manfaatnya dan kesannya sangat rendah.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
19. Tentu yang menggiurkan adalah harga pinangan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh kendaraan politik. Ini bisnis besar.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
20. Sebagai bisnis demokrasi, tentu tak ada yang gratis. Semua harus balik modal. Maka kita lihat banyak pejabat produk demokrasi jatuh.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
21. Akibat jungkir balik berusaha mengembalikan model, termasuk dengan cara-cara terlarang.
Nurfatoni Mohammad @m_nurfatoni
22. Maka, jangan salahkan jika sebagian kami apatis, ragu, atau tak percaya dengan demokrasi!

Comment

Login and hide ads.