0
Haz Pohan @hazpohan
Bila media berlebihan menakut2i publik bolehlah dikatakan sebagai 'hype' spt headline Jakpos hari ini..
Haz Pohan @hazpohan
Yg dikutip statement Puan, namun judul HL menjadi "Next threat: Scrapping direct presidential polls" dasarnya diakui rumors, gawat nih media
Haz Pohan @hazpohan
Jakpos ini bukan lagi beropini tetapi menggunakan 'hype' marketing strategy to seize public attention: seberapa jauh nilai faktualnya?
Haz Pohan @hazpohan
Kenapa sih media kita suka yg begini2? Bukannya membantu mencari jalan keluar dari upaya membangun sistem dan budaya demokrasi..
Haz Pohan @hazpohan
Lagian, upaya mengganti sistem pemilihan presiden ini tampaknya hanya berdasar 'paranoia' ketakutan berlebihan dan tdk rasional..
Haz Pohan @hazpohan
Memang, setelah keluarnya UU Pilkada, media partisan dilanda ketakutan mengarah paranoia..
Haz Pohan @hazpohan
Media partisan ini pun melakukan insinuasi publik seakan2 UU Pilkada itu 'nightmare' dan akan menghancurkan capaian demokrasi kita..
Haz Pohan @hazpohan
Media partisan bukannya mendidik masyarakat dgn informasi yg balanced, benar dan faktual, tetapi lebih pada 'opini' pemilik industri
Haz Pohan @hazpohan
Saya tahu, banyak kawan2 media yang masih berpegan pada etika jurnalistik yang benar, tetapi tidak berdaya..
Haz Pohan @hazpohan
Mereka tidak berdaya atas 'news policy' yg lebih banyak ditentukan pemilik industri daripada editor in chief..
Haz Pohan @hazpohan
Saya bilang kemarin: exceedingly trespasses the limit set up by the working ethics in journalism.. Kenapa ini terjadi?
Haz Pohan @hazpohan
Dlm 10 thn terakhir ramai diberitakan "the death of news media", pertama karena kemajuan IT kom, sehingga banyak sumber alternatif..
Haz Pohan @hazpohan
Kedua, menguatnya kesadaran publik bahwa monopoli pemberitaan tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mainstream media..
Haz Pohan @hazpohan
Ini terkait dgn tumbuhnya kultur demokrasi; setelah matinya fenomena 'Suara Karya' di mana negara, spt di neg komunis, memonopoli kebenaran
Haz Pohan @hazpohan
Ini disebut sebagai 'official truth' yang pastilah tidak faktual; they print what they wish to read..
Haz Pohan @hazpohan
kemudian, muncul fenomena kedua "independent media' di neg2 berkembang dan Eropa Timur yang membuat menjamurnya media..
Haz Pohan @hazpohan
Sulitnya, 'independent media' ini pada akhirnya terbukti tidak 'independen' banyak muatan kepentingan di sana: poleksosbudekon
Haz Pohan @hazpohan
maka, muncullah 'the third wave' yang berfenomena civic journalisme, di mana masyarakat berinisiatif menyebarkan informasi 'bebas'
Haz Pohan @hazpohan
tetapi, third wave inipun ternyata tidak steril, muncul fenomena 'socmed' independen dan buzzers bayaran, heuheu..
Haz Pohan @hazpohan
Kekuatan industri pers menyadari ini, dan malah 'make use of it' untuk menopang media mainstream yg mulai kepayahan..
Haz Pohan @hazpohan
Muncullah civic journalism di permukaan, tetapi 'profesional' alias tergantung bayaran; maka hilang pula 'kebenaran' itu..
Haz Pohan @hazpohan
Jakpos ini media top berbahasa Inggris, dan menjadi referensi media mainstream internasional ketika menulis tentang Indonesia..
Haz Pohan @hazpohan
Karena itu, 'hype' seperti headline pada hari ini jgn diteruskan lagi deh; ntar pembacanya lari...
Haz Pohan @hazpohan
media ini luar biasa kental fenomena 'to opiniate' alias pembentukan opini, yg sayangnya opini salah, tdk mendidik masyarakat...
Haz Pohan @hazpohan
Ini pernah saya tulis dulu: jika media tidak kembali kepada 'khittah'nya kode etik jurnalistik maka sama dengan menggali kuburan sendiri
Load Remaining (30)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.