Mengapa Korban Kekerasan Seksual Memilih untuk Bungkam? by @OBR_Indonesia

Ini adalah catatan dari #vdialog pada 9 Februari 2014 di Coffeewar yang membahas tentang mengapa korban memilih bungkam. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari #1BillionRising Indonesia 2014
perempuan sistem perlindungan korban Indonesia seksual kekerasan pemulihan hukum
0
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
kami akan live tweet Vdialog, mengenai mengapa korban kekerasan seksual seringkali bungkam
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
Pembicara kita adalah Penyintas, Pendamping hukum (Estu) dan Pendamping psikologis (Livia)
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
Peserta diharapkan tidak mempublikasikan foto dari Pembicara yang merupakan penyintas, termasuk juga media.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
Pembicara pertama adalah Estu sebagai pendamping hukum.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
seringkali jaksa dan penegak hukum tidak berpihak pada korban.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
setelah laporan maka berkas harus lengkap, baru ke kejaksaan. kejaksaan kemudian akan menelusur bukti dan keterangan saksi dan saksi ahli.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
semua berkas dan bukti kemudian diberikan kepada hakim utk mengambil keputusan.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
Dear riser! Mohon maaf live tweet tdk bisa dilaksanakan beberapa alasan. Nah, skrg kami bakal share hasil diskusinya. Pantau terus!
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
Hampir dalam setiap kasus kekerasan seksual, polisi sering tidak membantu dalam proses penyidikan
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
2. Polisi malah menyudutkan korban dengan pertanyaan2 diskriminatif.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
3. Bbrp Organisasi sudah melakukan pendidikan agar tidak ada lagi pertanyaan2 yg menyduutkan korban dan sgt bias
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
4. Seringkali polisi berdebat soal pasal yang akan dikenakan pada tertuduh, kemudian pasal paling ringan...
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
5. yaitu perbuatan tdk menyenangkan seringkali dikenakan dg hukuman maksimal 1 tahun.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
6. Kekerasan seksual masih menggunakan KUHP (pasal 285, 284), yaitu perkosaan yg hanya bisa digunakan pd perkosaan...
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
7. di luar perkawinan/orang asing, penetrasi penis dan vagina dan jika ada relasi kuasa
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
8. Maksimal hukuman bagi pelaku dari pengalaman pendampingan Mbak Estu dihukum adalah 4 tahun (satpol PP memperkosa anak jalanan)
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
9. Kalau kita coba advokasi ke penegak hukum, itu dampak dari kegiatan2 yg dilakukan kawan2 lain dlm upaya reformasi penegak hukum.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
10. Pembicara selanjutnya adalah mbak Livia (Pulih), saya sudah melakukan penelitian di puskesmas...
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
11. dan menemukan bhw ada pertanyaan yg bisa dijadikan sebagai screening di puskesmas.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
12. Penelitian dilakukan di Jaksel, bekerjasama dg puskesmas awalnya mereka khawatir saat ditanyakan ternyata benar adalah korban kekerasan.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
13. Mayoritas kekerasan yg terjadi adalah kekerasan psikologis dan kekerasan fisik.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
14. Pada salah seorang responden mereka merasa diperhatikan saat ditanyakan soal kekerasan yg terjadi pada korban.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
15. Salah satu pertanyaan yg diajukan pada korban adalah apakah akan melapor kalau menjadi korban kekerasan,
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
16. 65% menjawab hanya akan melapor ke orang terdekat kecuali kalau kekerasan sdh sampai ke anak.
1BillionRising ID @OBR_Indonesia
17. Banyak sekali tantangan dlm pendampingan psikologis, dan #1billionrising ini penting krn ini adalah zero tolerance.
Load Remaining (140)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.