"Bantahan Atas Tuduhan Pelecehan Seksual Terhadap @SafiraMardjono " by @UlinYusron

0
IG: ulinyusron @ulinyusron
Sebentar lagi pleidoi bantahan artikel fitnah akan tayang di blog. Tungguin ya...
IG: ulinyusron @ulinyusron
Dini hari kamu, kamu dan kamu. Bantahanku atas artikel fitnah di Kompasiana & Kaskus --> http://t.co/tAYmahsmhw

(1) Senja Selasa

Tulisan berikut ini adalah bantahan artikel fitnah di Kompasiana dan Kaskus tentang pelecehan yang disebutkan kulakukan kepada Safira Mardjono, public relation Indopasific Edelman. Aku membaginya dalam beberapa tulisan.

Menjelang senja, Selasa, 10 Desember 2013 aku mendapat mention dari follower @initomix. Ia yang pertama kali mengabarkan ada artikel di Kaskus. Tak lama berselang rupanya juga ada di Kompasiana. Kedua artikel tersebut sudah dicabut oleh pengelolanya atas permintanku. Aku sendiri yang menelpon bos Kompasiana dan Kaskus. Begitu membaca artikel tersebut respon pertamaku adalah menelpon Safira. Aku jelaskan ada artikel yang menyebut aku dan dia. Dia kaget. Lalu aku tanya beberapa hal. Tapi pembicaraan terputus karena Safira mengaku sedang meeting dan bilang tiga puluh menit lagi selesai.

Sebelum menghubunginya aku sempat kirim ke Whatsapp link artikel di Kaskus dan dua print screen akun yang menjadi amplifier link artikel tersebut. Salah satu akun intens mengabarkan dan mention ke banyak akun lain adalah @shellaandianty. Dia yang memention ke selebtwit. Kalau melacak time line akun tersebut kita tak akan menemunnya. Time line sudah dibersihkan semua dari unsur tulisan Kompasiana. Bandingkan gambar pertama dan kedua ini:

http://twitpic.com/dokl67

http://twitpic.com/doklbj

http://twitpic.com/doklbj

Setelah selesai meeting Safira mengabarkan ke Whatsappku bahwa dia bisa ditelepon lagi tapi tak bisa lama karena sedang ada deadline pekerjaan. Dalam pembicaraan tersebut Safira menyatakan tulisan itu banyak fitnahnya. Dia juga aku tanya apakah ada perkataan atau bahasa tubuh yang melecehkan. Dia bilang enggak ada.

Akupun minta maaf ke dia jika ada ucapan yang salah atau bahasa tubuh yang salah. Selain itu aku minta maaf telah menyeretnya dan perusahaannya dalam pusaran kasus yang tak jelas. Diapun menanyakan ke aku, kira-kira siapa yang menulis itu. Maka kujawab kalau itu tulisan mau menghancurkan aku. Ini serangan balik dari akun twitnah yang pernah kubongkar. Yang jelas dia menyebut artikel itu banyak fitnahnya.

Kepada Safira akupun menanyakan apakah pernah curhat kepada seseorang, termasuk kepada siapa tweet no mention yang dikutip Merpati Putih itu. Sebab itu akan menjadi petunjuk merunut duduk perkara cerita dan mereka-reka siapa penulis anonim yang menebar fitnah. Tapi Safira tak menjawab dengan terang karena sedang dikejar deadline pekerjaan. Pembicaraan lalu berhenti agar saling mengabari jika ada perkembangan. Jika Safira merasa artikel tersebut fitnah, aku berharap ia membantahnya. Tapi akupun paham situasinya ia tertekan.

Oh ya, aku juga sempat menanyakan kenapa akunnya deactive? Safira mengaku baru mendeaktivasi. Ia mengaku langkah itu dilakukan agar tak ramai karena pasti mendapat banyak mention. Safira drop dan depresi gara-gara artikel fitnah itu. Serangan tulisan itu dengan mudah dapat dibaca bukan hanya ditujukan ke aku tapi juga ke Safira dan Edelman sebagai meja karambolnya. Dua faktor utama yaitu Edelman dan Ulin dengan memanfaatkan Safira sebagai pantulan. Kejamnya penulis Merpati Putih tak pantas diteladani. Lebih kejam lagi adalah akun-akun yang menjadi amplifier dan akun yang ikut membully, mengecam seakan-akan fitnah itu adalah sebuah fakta kebenaran. Sangat disayangkan akun yang membully, tepuk tangan dan gembira ria adalah mereka yang berasal dari partai berbasis agama.

(2) Cerita Dari Singapura

Keberangkatan ke Singapura adalah atas undangan dari sebuah badan promosi wisata Singapore. Badan promosi wisata Singapura itu menggunakan jasa perusahaan public relation Indopasific Edelman untuk mempromosikan wisata Singapura pada khalayak Indonesia. Edelman kemudian mengangkat beberapa buzzer di media sosial untuk mempromosikan Singapura, salah satunya sahabat baikku.

Jadi undangan itu sebenarnya bukan ditujukan ke aku, tapi ke sahabatku. Tapi karena sahabatku tidak bisa berangkat karena ada acara kantor, maka dia bertanya ke beberapa orang, termasuk aku. Tapi dari empat anggota gank kami, tidak ada satupun yang bisa berangkat, maka sahabatku minta aku menggantikan posisinya sebagai buzzer badan promosi wisata Singapura. Selama di Singapore tugasku, hanya mengirim laporan ke sahabatku tersebut, baik dalam bentuk tulisan atau foto. Tidak ada yang salah dengan pergantian orang ke Singapura karena Edelman memang memberikan toleransi orang pengganti.

Maka jadilah aku yang berangkat. Kami berangkat bersama tiga orang pria lainnya yang berasal dari akun WowKonyol, Liputan9 dan NasehatSuper. Rencananya di Singapura kami akan menikmati restoran di Singapura, menonton konser musik Sundown Festival, Super O Seasons (warehouse underground party), dan Starlight Express (Teatrikal musik di Marina Bay Sands).

Berangkat ke Singapura tanggal 16 November 2013 pagi dan pulang 17 November 2013 malam. Pagi itulah kenal dengan Safira. Sebelumnya kami cuma telepon-teleponan. Aku nunggu di cafe di deket terminal 2, lalu ditelepon Safira dan diminta menunggu di KFC. Pada perkenalan itulah jabat tangan. Itulah persentuhan fisik pertama kali dan terakhir. Dua orang kawan sudah datang duluan. Lalu kami berempat menunggu satu kawan lagi. Selama menunggu tak ada percakapan menjurus kecuali soal agenda di Singapura.

Terbang naik pesawat Garuda aku duduk bertiga dengan peserta lainnya, sementara Safira duduk berdua dengan admin Liputan9. Di Singapura rencananya kami semua akan menginap di Studio M Hotel.

Setelah cek in di hotel kami semua istirahat sebentar di kamar masing-masing. Sampai menjelang jam tiga ditelepon Safira ke telepon kamar untuk berkumpul di lobi. Lalu kami makan siang di Peach Garden kawasan Marina Bay Sands. Aku duduk di deket WowKonyol, Safira didepanku duduk di antara admin NasehatSuper dan Liputan9. Selesai makan kami jalan-jalan di Supertree Grove - Gardens By The Bay. Aku sibuk foto-foto dan melihat sekeliling.

Menjelang senja kita berjalan menyeberang sungai menuju Stasiun MRT Marina Bay Sands. Dari sana kereta supercepat itu mengantarkan kita ke Singapore Flyer, lokasi Sundown Music Festival. Di dalam kereta aku duduk di deket WowKonyol. Safira sendiri duduk dekat peserta lain. Lalu tibalah kita di Singapore Flyer. Setelah registrasi yang diurus oleh Safira dengan panitia, kamipun masuk ke lokasi konser musik.

Di dalam arena konser yang pengunjungnya tak banyak itu aku tiduran di belakang sambil menikmati bir dan rokok. Toh duduk di bagian belakangpun masih bisa menikmati sajian penampilan musisi dari berbagai negara di Asia. Aku duduk dekat WowKonyol. Aku ke food court untuk beli cola dan bir. Safira sendiri aku tak tahu di mana. Setelah berbagai musisi silih berganti.

Saat kami tiba di Sundown, konser sudah mulai dengan penampilan RocsTeddy, lalu berturut-turun Yoga Lin, Bosco Wong, Adonia Sao.

Sesudah itu giliran Nidji yang tampil. Penampilan Nidji membanggakan, bikin merinding sebagai orang Indonesia tampil secara prima dan membuat arena festival meriah dengan nyanyian, goyangan dan tepuk tangan meriah. Aku yang sebelumnya cuma tiduran lesehan di lapangan, segera beranjak ke depan menikmati dan memotret penampilan Nidji yang bisa membawa penonton ikutan berjoged.

Capek jingkrak-jingkrak lalu aku ke belakang kembali ke tempat semula. Rupanya Safira yang habis menonton konser di tempat lain duduk sendiri. Lalu aku ke food court lagi untuk beli bir. Tak lupa aku menawarkan Safira kalau mau bir. Akupun membelikannya dengan duit sendiri. Program ini buat aku tak ada manfaat apapun secara materi, seperakpun tak ada honor, kecuali akomodasi, konsumsi makan berat yang dibayari. Aku maklum karena posisiku menggantikan kawan yang tak bisa datang.

Aku sendiri belum pernah menjadi buzzer baik untuk akun bisnis apalagi politik. Nah, waktu aku membelikan bir untuk Safira itu, ia menawarkan untuk menggantinya tapi aku bilang enggak usah. Toh cuma $Sing 8 doang. Diapun mengucapkan terima kasih.

Duduk sebangku sama dia, aku sibuk memantau tapak waktu dan ngetweet. Saat di Singapura itu kasus Jilbab Hitam masih ramai dibicarakan, sejak diposting pertama kali di Kompasiana tanggal 11 November 2013. Sebelum tulisan itu dihapus oleh Kompasiana, aku udah print screen. Jadi saat di Singapura selain jalan-jalan aku masih memantau pembicaraan di tapak waktu tentang Jilbab Hitam. Akupun sibuk search dan mencoba menjawab rasa penasaranku siapa penulis akun Jilbab Hitam.

Sepanjang duduk itu aku dan Safira tak banyak berbicara. Sampai kemudian kawan-kawan lain pada merapat dan berkumpul kembali di satu lokasi. Kamipun akhirnya keluar dari Sundown setelah terdengar pengumuman dari atas panggung. MC bilang kalau sebentar lagi (Pukul 23.00) taksi yang keluar masuk arena Singapore Flyer akan habis. Maka kamipun keluar dari arena.

Kami berjalan kaki menuju antrian taksi di depan Singapore Flyer. Karena jumlah kami tanggung untuk naik di satu taksi, maka taksi dibagi dua. Aku satu taksi dengan WowKonyol dan NasehatSuper. Sementara Safira di taksi satunya bersama admin Liputan9.

Tujuan taksi itu akan mengantarkan kami ke Super O Season, sebuah klub dadakan yang dibuat di sebuah warehouse. Jadi semacam underground party. Pihak event organizer selalu memindahkan acara dari satu tempat ke tempat lain di tiap bulan. Safira yang melakukan registrasi. Lalu EO memberikan kami semua gelang entry ke dalam club.

Tak lama setelah itu kami semua menukarkan kupon tiket dengan bir hitam. Tapi di dalam club yang belum begitu ramai itu terasa sangat dingin oleh semprotan AC. Maka aku keluar ke smoking area di bagian samping. Ternyata di situlah keunikan club itu. Club itu menawarkan cara menikmati musik dengan cara silent disco. Kami mendengarkan musik disko dengan menggunakan earphone. Lucu juga pengalaman ini, pengunjung satu dengan lainnya sibuk bergoyang, tak ada percakapan kecuali saling melihat dan menikmati rokok dan bir. Aku bawa Sampoerna Menthol yang ternyata laris manis diminta EO teman-temannya Safira.

Sama sekali tak ada percakapan apapun dengan Safira selama di Super O Seasons. Aku lebih banyak duduk dan mendengarkan musik yang dipandu DJ yang persis di depanku. Apalagi DJ sedang memutar lagu Get Lucky - Daft Punk yang lagi aku gandrungi. Simak lagu yang keren itu di sini http://youtu.be/h5EofwRzit0. Racikan DJ bule bikin lagu itu lebih menggigit.

Aku sudah terlalu capek setelah siang sampai sore banyak jalan di kawasan Marina Bay Sands, kakiku pegel. Naasnya rokok tinggal sebatang dan di club itu tak menjual rokok. Aku kemudian minta rokok ke WowKonyol. Setelah cukup lama kami di Super O Seasons, aku mengusulkan untuk pulang. Apalagi tempat duduk juga terbatas jadinya banyak berdiri dan baru duduk kalau kosong.

Kamipun pulang menuju hotel dengan cukup capek. Aku satu taksi dengan WowKonyol. Tibalah di hotel dan kamipun langsung ke kamar masing-masing. Aku pengin segera rebahan karena besok pagi-pagi sekalu sudah ada janji dengan kawan AlphaRachman untuk ngobrol tentang beasiswa kuliah di Singapura. Aku langsung masuk kamar setelah cuci-cuci, merokok, baca tapak waktu di dunia kicauan hingga capek sendiri dan tidur sampai pagi.

Kecapekan ini menyebabkan bangun kesiangan. Setelah mandi ala kadarnya karena terburu-buru, aku segera meluncur naik taksi menuju China Town ketemu kawan doktor yang sedang ada proyek penelitian. Aku ngobrol sambil menikmati makanan khas India dan secangkir kopi tarik. Sampailah pukul 11.00 dan kamipun mencari taksi untuk kembali ke Studio M Hotel.

Sesampai di hotel, kawan-kawan rombongan sudah siap check out, maka aku ke atas bersama AlphaRachman untuk mengambil tas sambil menikmati rokok Sampoerna yang tinggal beberapa batang. Kawan Alpha pamitan untuk pulang ke mess NTU, aku check out bersama kawan lain.

Aktivitas selanjutnya di hari kedua di Singapura (17/11/2013) adalah menuju kawasan Marina Bay Sands untuk menikmati sajian musik teatrikal di Starlight Express. Dari hotel taksi kami bagi jadi dua, aku bersama WowKonyol dan NasehatSuper. Safira bersama Liputan9. Rupanya saat di Marina Bay Sands taksi yang aku tumpangi menurunkan di depan pintu Hotel Marina Bay Sands, sementara taksi lain yang ditumpangi Safira berhenti di pintu lainnya. Untuk pertama kalinya aku yang membayar taksi itu sendiri. Pada beberapa kesempatan selalu Safira yang bayar taksi.

Cukup lama rombongan terpisah sampai kemudian Safira pun meneleponku dan menanyakan posisi rombonganku. Sampailah di satu titik, rombongan kami diminta berhenti menunggu rombongan Safira. Sesudah itu kami naik ke loket Starlight Express. Aku minta dibelikan minuman wine dan popcorn.

Karena masih ada waktu cukup lama sebelum show, kita semua menuju tempat makan siang di bagian luar mall Marina. Kami makan dan minum sparkling wine dan makanan Eropa. Safira duduk di depanku, di bagian kanan, sebelahan dengan NasehatSuper. Aku sendiri di dekat WowKonyol dan Liputan9. Ada pembicaraan seru-seruan. Bicara ngalor ngidul sambil menikmati makanan gratis.

Aku sendiri sesekali berdiri di bagian luar cafe untuk menikmati rokok. Kita selalu bersama-sama, berlima dan nyaris tak ada interaksi, impresi dalam kata atau tindakan yang sifatnya personal. Selama di Singapura akupun tak pernah SMS atau WA ke Safira yang sifatnya personal, semua pasti urusan di mana atau jam berapa.

Lalu saat waktunya menonton Starlight Express kamipun masuk. Aku duduk dekat WowKonyol sementara Safira terpisah duduknya, satu bangku di sebelah kananku yang terpisah oleh NasehatSuper. Saat break show, kami kembali ke tempat duduk. Safira sendiri tak kembali ke tempat duduknya. Sampai akhirnya aku dan kawan-kawan bosan dan aku mengajak keluar dari arena teater, untuk menuju cafe tempat tadi kita sempat makan siang.

Di restoran itu pula kami semua menitipkan tas. Aku duduk sama WowKonyol di bagian smoking area dan memesan kopi hitam yang dari segi rasa masih kalah jauh dengan kopi di Indonesia. Safirapun menyusul kemudian dan kita menikmati rokok dan kopi sore itu. Safira duduk di depanku sambil menikmati rokok. Sementara rokokku yang sebelumnya sudah habis, sudah dibelikan WowKonyol. Marlboro Ice yang kusedot persis di dekat Toko LV terapung di Marina itu terasa nikmati sekali di tengah hujan gerimis yang tampaknya sebentar lagi berhenti mengalir.

Kami terlibat obrolan ringan kanan kiri, ngalor ngidul. Senja sudah datang dan saatnya kami melanjutkan agenda. Tujuannya menuju Orchard. Kami naik MRT dari Marina ke Orchard. Aku berdiri dekat WowKonyol sementara Safira di depanku. Begitu sampai di Orchard aku buru-buru menuju Paragon Mall. Toko yang aku tuju adalah ToysRus untuk mencari Solar System pesanan. Aku jalan cepat bersama WowKonyol yang berencana mencari sepatu Nike incarannya.

Mainan yang kucari ternyata tak ada, setelah mendapatkan mainan pengganti yaitu Minnion Dave, Safira SMS mengabarkan menunggu rombongan di Baker’z In. Akupun buru-buru ke sana, ternyata kawan-kawan lain belum pada datang. Akupun pesan es teh manis. Safira duduk di depanku. Sambil menunggu es teh yang tak kunjung disajikan aku mainin twitter via Iphone. Tak ada pembicaraan serius atau modusin apalagi nyepik. Sampai kemudian kawan-kawan lain datang.

Lalu kamipun turun ke lobi menunggu kendaraan van yang sudah dipesan Safira. Kendaraan itu juga yang menjemput kami saat pertama kali tiba di Changi Singapura. Lama juga menunggu mobil penjemputan, aku merokok di bagian luar gedung bersama WowKonyol, sampai saat kendaraan tiba barulah kita semua memasukkan tas ke dalam mobil. Safira duduk di depan, sementara aku di belakang di dekat WowKonyol. Sampailah kami semua di Changi.

Sesudah cek in kita menuju Duty Free untuk beli minuman. Aku yang pertama menyelesaikan transaksi baru Safira dan kawan lainnya. Aku beli Jagger Master, sementara Safira beli Grey Goose Vodka. Lalu kita jalan ke food court dengan maksud untuk cari makan malam. Aku pesan Laksa di Kopi Tiam Changi yang kubayar sendiri. Tak seperti Kopi Tiam di Indonesia yang sudah dikuasai satu merk melalui monopoli Hak Kekayaan Intelektual, di Singapura semua warung boleh menggunakan nama Kopi Tiam sebagai merk dagang. Jangan heran Kopi Tiam Oey milik Pak Bondan Winarno dipaksa ganti nama menjadi Kopi Oey. Kalau kalian sempat makan minum di Kopi Oey coba baca di buku menu ada penjelasan kenapa mereka mengubah nama warungnya.

Selesai makan aku mengajak WowKonyol untuk merokok di smoking room yang disediakan. Tak lama kemudian Safira ikut bergabung. Safira duduk di bangku terpisah. Tak ada pembicaraan mengarah pedekate atau modus selama merokok. Sesudah itu kita pun kembali ke bangku tempat makan untuk kemudian masuk ke terminal. Di terminal tunggu aku duduk sendiri dan lalu menyibukkan diri dengan tersambung twitter.

Sebelum itu kami semua mampir ke counter penjual nomor perdana untuk mengganti SIM Card Singapura yang saat kedatangan dibelikan oleh Safira ke SIM Card Indonesia. SIM Card Singapura itu lalu kuserahkan ke Safira yang mengaku akan dipakai untuk trip Singapore Tourism Boad berikutnya pada akhir pekan ini (13-14 Desember 2013) yang diikuti rombongan selebtwit lain yang lebih banyak. Di ruang tunggu terminal itu kami sibuk sendiri-sendiri sampai kemudian kita berangkat pulang ke Jakarta.

Aku duduk di bagian tengah bangku pesawat, sebelah kiriku ada NasehatSuper dan di dekat jendela ada penumpang lain. Safira duduk di dekat Liputan9 dan WowKonyol. Sampai tibalah kami di Jakarta. Dan berpisah masing-masing. Bahkan kami tak sempat bersalaman. Aku lalu menungu taksi untuk pulang dan tak tahu kawan lain pulang naik apa.

Selesailah perjalanan Singapura yang menyenangkan. Meski lelah tapi mendapat pengalaman baru, gratis pula. Terima kasih Safira dan Edelman yang mengajak jalan-jalan. Sepulang dari Singapura tak ada kontak apapun dengan Safira sampai kemudian muncullah artikel fitnah di Kompasiana dan Kaskus.

(3) Kompasiana, Kaskus dan Tanggung Jawab Media Warga

Selasa (10/12/2013) hari yang sibuk buatku. Dari satu miting ke miting yang lain. Di tengah miting aku justru sibuk memantu tapak waktu. Saat artikel Kompasiana dan Kaskus sudah mulai massif aku menghubungi beberapa pihak yang berkaitan dengan tulisan tersebut.

Pihak yang kuhubungi adalah Kompasiana. Yang pertama kuhubungi adalah bos dan pendiri Kompasiana, Pepih Nugraha. Aku menyatakan keberatan dengan isi artikel tersebut karena isinya fitnah, tak ada validitasnya sama sekali. Artikel itu nirkredibilitas. Lalu kalau banyak orang percaya artikel yang tidak kredibel, maka sebenarnya orang tersebut juga tak kredibel. Secara singkat kujelaskan kronologisnya. Pepih sendiri belum sempat membaca artikel tersebut. Ia berjanji mengeceknya ke admin yang bertugas. Perlu beberapa waktu buat Kompasiana untuk memfollowupi keberatanku. Admin Kompasiana sempat menulis email ke penulis untuk dimintai pertanggungjawaban isi tulisan yang sudah diretweet banyak akun media sosial.

Dalam pembicaraan telepon ke Pepih, secara jelas aku minta untuk dicopot. Artikel fitnah itu tak layak dilanjutkan. Kompasiana tak pantas mengail viewer dari orang yang penasaran dan kepo atas apa yang terjadi. Sementara di pihak lain ada orang yang dirugikan dan tak mendapatkan hak konfirmasi. Akhirnya Selasa malam, Kompasiana mencopot artikel tersebut namun telah menikmati viewer.

Persoalannya isunya terus bergerak menjadi viral effect yang tak bisa berhenti. Ya seperti rumus di dunia internet: “Tuhan bisa menghapus dosa, tapi tidak internet”.

Apakah aku sedang membela diriku sendiri? Kehormatan? Nama baik? Oh tidak! Aku tak sedang membela diriku sendiri tapi membela hak orang yang telah dirampas oleh orang lain melalui tulisan fitnah. Safira dan Edelman dicemarkan. Aku sendiri tak merasa kehilangan kehormatan dan nama baik meski difitnah akun-akun anonim maupun akun riil. Serangan secara pribadi barangkali tak akan berhenti di Merpati Putih, mungkin juga akan terus berlanjut akun akonim lain menguliti kehidupanku.

Buat aku kehidupan offlineku lebih berharga dibanding sejuta fitnah di dunia online. Aku bisa tiada, hilang tak bernama dan tak dikenali lagi. Toh, apa yang saat ini tersisa, pada gilirannya semua juga akan hilang. Persis seperti kata-kata ini: “Makhluk kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” ― Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran.

Nama baik tak perlu diperjuangkan, yang terpenting laku baik. Jika berlaku baik maka dengan sendirinya nama baik akan menyertainya.

Di era media sosial dan keterbukaan informasi seperti sekarang ini, orang bisa dengan mudah melemparkan tuduhan, merangkai cerita seakan-akan fakta lalu melemparkan ke publik dengan maksud meraih dukungan. Ekspresi mendukung adalah dengan membully pihak yang dinyatakan bersalah. Meretweet, memention kepada akun lain dan lainnya. Retweet apapun imbuhan kalimata sebelumnya adalah bentuk endorsement. Sebarannya makin meluas dengan meretweet.

Tuduhan yang penuh dengan unsur dendam kesumat, fitnah dan fakta-fakta palsu bisa dengan mudah meraih dukungan. Orang yang tak tahu duduk persoalan hanya membaca sepotong fakta yang sepertinya humanis akan dengan mudah melemparkan tuduhan. Ya tapi bukankah hidup memang pembuktian dan pengingkaran. Seperti dalam kasus Jilbab Hitam yang memfitnah Tempo dan KataData. Belakangan ketahuan siapa penulis dan motifnya.

Tulisan Jilbab Hitam telah dicopot dari Kompasiana tapi apakah bully dari penduduk twitter bisa dicabut? Tentu saja tidak! Aku menerima ratusan bully yang sebagian besar berasal dari pendukung Luthfi Hasan Ishaq yang notabene pendukung PKS dan orang-orang lain yang sok heroik.

Media sosial adalah pedang bermata dua. Seperti pisau dapur yang bisa untuk membelah mangga namun saat yang sama bisa menjadi senjata memutilasi tubuh manusia. Media sosial bisa memberi informasi akurat, bisa laknat, bisa konyol bisa juga bual.

Media sosial semestinya menjadi alternatif informasi dari media mainstream. Media sosial adalah angkatan kelima pilar demokrasi. Setelah eksekutif, legislatif, yudikatif sudah rontok kredibiitasnya, lalu muncullah media sebagai anjing penjaga dari tiga pilar negara. Sayang media juga sering terseret dalam permainan rusak tiga pilar negara.

Maka keberadaan media sosial adalah pengontrol keempat pilar tersebut. Siapa yang tak geram melihat tiga pilar demokrasi kita kian korup.

Pilar negara modern sebagaimana Montesquie (1748) membaginya dalam Trias Politica yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif, kian hari rusak. Para pejabatnya sibuk memperkaya diri sendiri dengan melanggengkan tradisi kick back dan meminta komisi, wakil rakyat memperdagangkan beleid dan penegak hukumnya memperjualbelikan perkara.



Di tahun 1963 Fred Siebert memperkenalkan pilar keempat demokrasi yaitu pers. Teori baru pilar demokrasi itu dimaksudkan agar media menjadi kontrol atas tiga pilar kekuasaan tersebut. Tapi apa lacur media di Indonesia justru masih banyak yang tidak menjalankan fungsi kontrol. Media justru ikut dalam irama permainan kotor ketiga pilar lainnya.

Masih dengan mudah kita jumpai media sebagai bagian dari pemenangan kandidat, memoles peristiwa buruk menjaid baik, membusukkan peristiwa baik menjadi buruk. Atas nama segepok uang yang tentu saja bukan duit iklan, media massa justru menjadi alat operasi black out sebuah peristiwa penting di negeri ini.

Media jadi pelacur! Begitu tuduhan itu sering kali kita dengar. Upaya pemurnian keempat pilar tersebut harus terus dilakukan. Harus ada yang berteriak secara lantang, baik dari luar maupun dari dalam keempat pilar tersebut, ihwal ketidaknormalan demokrasi. Kita semestinya mendorong ada orang yang bukan saja berkategori baik, tapi juga yang berani, di dalam pilar demokrasi untuk memperbaiki keadaan.

Pilar demokrasi yang rusak itu adalah bagai tumpukan puing yang menggunung: selalu ada bahan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan.
Kita harus percaya kalau polisi, jaksa dan hakim yang berbudi baik itu masih ada. Demikian pula masih ada birokrat pemerintah yang rela makan dari gaji saja tanpa menoleh mencari proyek-proyek haram. Juga masih ada politisi Senayan yang 100% kerjanya untuk memperjuangkan rakyat tanpa tergoda bermain anggaran.

Sementara di ranah media massa, masih ada media yang pegiatnya tidak menjual kolom demi sogokan yang ditilap di balik saku celana sendiri.



Sosmed sebagai Angkatan Kelima Demokrasi
Sebagai bagian kontrol demokrasi kita semestinya bisa membangun angkatan kelima pilar demokrasi. Angkatan kelima itu datang dari media sosial. Angkatan kelima di sini berbeda dengan angkatan kelima seperti usulan Partai Komunis Indonesia yang berisi buruh tani sebagai angkatan baru melengkapi Angkatan Laut, Darat, Udara.

PKI mengusulkan dibentuknya angkatan kelima untuk menghadapi Trikora dan Dwikora. Namun angkatan kelima di sini sebagai alternatif bersuara yang lahir dari jejaring sosial di internet: Twitter, Facebook, Youtube, Linkedin, Google+, blog, petisi online dan lapak media sosial lainnya yang terus bertambah.



Sebagai prasyarat corong perubahan, media sosial di Indonesia cukup memenuhinya. Dalam beberapa peristiwa pergolakan sosial politik, media sosial terbukti ampuh sebagai sebuah gerakan sosial. Ada kasus Prita Muliasari yang menggunakan mobilisasi dukungan melalui Facebook. Gerakan ini terbukti bisa mengubah putusan pengadilan yang sebelumnya memenjarakan Prita.

Demikian pula dalam kasus Cicak vs Buaya Jilid I dan II, kasus rencana penangkapan penyidik Novel Baswedan, dukungan publik melalui Twitter dan broadcast message terbukti ampuh untuk menghadirkan ratusan orang datang ke KPK dan memberi dukungan moral. Dari malam hingga dini hari, ribuan massa menyemut memberi dukungan ke KPK menuntaskan kasus Komisaris Jenderal Polisi Djoko Susilo. Dukungan dahsyat di depan KPK itu tidak pernah kita jumpai di depan kantor kepolisian atau MA sekalipun.



Kisah sukses petisi online yang digalang melalui website www.change.org juga memantik gerakan perubahan. Media sosial sebagai gerakan sosial. Beberapa contoh keberhasilan petisi online yang digalang change.org antara lain: kasus rusaknya jalan raya Muncul Serpong, calon hakim agung Daming gagal terpilih sebagai hakim di MA karena melecehkan korban pemerkosaan, MA pula akhirnya didesak mengeluarkan fatwa yang membolehkan Bupati Garut Aceng Fikri dicopot, kasus korupsi simulator SIM akhirnya diserahkan penanganannya ke KPK, kawasan Rawa Tripa tidak boleh dibakar dan perusahaan sawit PT. Kalista Alam dicabut ijinnya, Satgas TKI pun dibuat minta maaf karena telah melecehkan TKI, Toko Crown di Bandara Soekarno Hatta pun dipaksa mencopot menu sirip ikan hiu kering. Dan banyak contoh keberhasilan lainnya. 



Kini kita tinggal menyusun daftar kebejatan eksekutif, legislatf, yudikatif dan media massa dan menggerakkannya menjadi gerakan sosial melalui lapak media sosial. Apa yang kita lakukan kemarin, sekarang dan nanti dalam menggerakkan gerakan sosial melalui media sosial, tidaklah dimaksudkan untuk mereduksi gerakan massa. Gerakan massa adalah pandu, yang tak bisa digantikan oleh gerakan media sosial. Justru gerakan media sosial bersinergi dengan gerakan massa menjadi kekuatan yang dahsyat. 



Sebagai gerakan maka media sosial membutuhkan persyaratan. Pertama, akun di media sosial adalah akun yang jelas kredibilitasnya dan bersumber dari orang sungguhan. Bukan akun yang belindung di balik nama anonim atau pseudononim. Akun anonim sulit dipertanggungjawabkan akurasinya, karena kita tidak tahu siapa manusia-manusia yang ada di belakangnya sebagai admin. 



Kedua, media sosial sebagai alat advokasi akan berhadapan dengan kelompok atau masyarakat yang tak berwajah (faceless). Bersiaplah untuk menghadapi bullying. Tapi keteguhan dan konsistensi akan melunturkan stigma-stigma negatif tersebut.



Ketiga, gema perubahan sosial akan makin kencang di media sosial bila kita bisa melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki pengikut dalam jumlah besar. Dalam isu-isu publik yang mengguncang kewarasan, tidaklah sulit memobilisasi mereka. 
Poin kedua ini juga dipakai oleh akun-akun anonim yang menebar fitnah dengan memention, syukur-syukur diretweet oleh selebtwit.

Keempat, agar memiliki daya tendang yang dahsyat para pionir gerakan sosial berbasis media sosial itu perlu menggelar rapat-rapat offline untuk merumuskan strategi, taktik, organisasi dan program yang jelas. Tanpa kesatuan gerak, rasanya gerakan sosial ini hanya sebatas masturbasi dan demagogi yang tak bermanfaat bagi perbaikan.



Lagi lagi di tengah ikhtiar kita untuk menjadikan media sosial sebagai gerakan sosial perlu diwaspadai akun anonim yang mendompleng alat-alat media sosial. Akun yang bertujuan menguangkan kicauan, akun yang hanya menebar fitnah, akun yang secara sistematis hendak meruntuhkan kepercayaan publik tersebut harus dilawan bersama-sama. 



Media sosial dipercaya karena dikelola oleh kejujuran dan integritas. Jika media massa dikontrol oleh pembaca, maka media sosial dikontrol oleh audiensi. Sudah saatnya kita mengasah pedang media sosial sebagai pedang tajam yang mengiris ketidakadilan.

Sampai di sini kita menghadapai problem yang tak ringan yaitu soal etika. Singkat kata begini: semua orang bisa main bola, tidak semua orang bisa jadi pemain profesional.

Di media massa, informasi bisa datang dari mana saja, tapi media mengolah informasi melalui proses kerja jurnalistik yang bersandar pada etika yang ketat (UU Pers, KEWI, Kode Etik AJI, Pedoman Media Siber dan lainnya). Bagaimana dengan media sosial? Ia bekerja tanpa ada pagar etika. Inilah problem krusial kita yang harus kita carikan solusinya.

Kembali dalam soal artikel di Kompasiana dan Kaskus tersebut, kita berhak bertanya tentang sandaran pagar etika dan moral. Blog, opini pribadi di sebuah forum seperti Kompasiana atau Kaskus terikat dengan peraturan Pedoman Media Siber yang ditetapkan Dewan Pers dan pengelola media online pada 3 Februari 2012. Blog, comment, forum dalam Pedoman disebutkan sebagai “Isi buatan pengguna (user generated content)”. Inilah nukilan peraturannya di Pedoman Media Siber:

Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)
a. Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.

b. Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.

c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang dipublikasikan:

  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan;
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.

d. Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan butir (c).

e. Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir (c). Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang dengan mudah dapat diakses pengguna.

f. Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan diterima. g. Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b), (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan pada butir (c).

Sangat disayangkan Kompasiana dan Kaskus yang meloloskan artikel yang menebar fitnah. Meski demikian aku apresiasi Kompasiana yang sudah menghapus artikel tersebut. Penghapusan artikel di versi desktop lebih cepat dihilangkan jejaknya, sementara penghapusan artikel di versi mobile lebih memerlukan waktu. Hal itu karena cache mobile version ternyata lebih lama dibanding desktop version.

Selasa malam artikel Kompasiana versi desktop sudah hilang, Rabu pagi diikuti hilangnya artikel versi mobile. Sementara Kaskus baru menghapus artikel Rabu siang, setelah keberatan kusampaikan Selasa malam.

Mari kita iseng sedikit. Sesekali coba membayangkan ada artikel yang ditulis di Kompasiana tapi isinya menyerang Kompas, pemilik Kompas, atau awak Kompasiana. Kira-kira apakah artikel itu akan tayang di Kompasiana? Apakah atas nama ketentuan segambreng yang tertulis di Kompasiana tersebut, Kompasiana menayangkan tulisan itu? Lalu coba iseng lagi, apakah mungkin Kaskus meloloskan tulisan yang menyerang bos Kaskus, pemilik Djarum dan keluarganya? Sesuatu yang akan akan jadi tulisan langka, kalau sampai ditayangkan. Rasanya tidak akan pernah ada.

Nah pengelola blog, jurnalisme warga berbasis UGC tak bisa lagi menikmati lonjakan pembaca dari konten yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Coba lagi kalian bayangkan, ada orang memotret dan menulis dua pria berjalan mesra dengan tangan menggamit di Cilandak Town Square, lalu disebut sebagai pasangan homo. Padahal tidak demikian adanya, mereka berdua bersahabat. Tapi tulisan sampah seperti ini bisa saja lolos di Kompasiana atau forum seperti Kaskus.

Seharusnya media milik warga seperti Kompasiana, Kaskus dan lainnya tidak menjadi keranjang sampah, tapi menjadi bacaan alternatif dari media mainstream yang menurut teori jurnalistik isinya sangat dipengaruhi oleh: ideologi media massa, ekonomi politik, selera pasar, pemilik dan tekanan masyarakat.

Saat media massa warnanya didominasi kemauan pemilik, maka media sosial menjadi alternatif bacaan. Sungguh disayangkan kalau informasi alternatif itu justru disalahgunakan sebagai ajang fitnah dan menebar kebencian.

(4) Siapa Penulis Merpati Putih?

Inilah bagian yang pasti ditunggu-tunggu. Tapi bersabarlah, butuh energi untuk memecahkan teka-teki siapa penulis Merpati Putih di Kompasiana dan di Kaskus. Ada banyak kemungkinan. Kemungkinan pertama: akun-akun yang pernah aku bongkar kebusukannya: TrioMacan2000, LawanMafia, Jilbab Hitam. Bisa saja bukan mereka!

Bisa saja kemungkinan kedua, pejuang sejati atau pejuang dadakan anti kekerasan seksual. Hmmm…yang kedua ini sangat banyak di twitterland, dan memang sudah seharusnya jumlahnya banyak. Tak mudah menemukannya, tapi besok-besok pasti ada informasi dari berbagai sumber yang akan menjadi pentunjuk memecahkan misteri ini.

Membongkar penulis Merpati Putih itu satu hal, tapi hal lainnya adalah menyelamatkan media sosial, jurnalisme warga dari hegemoni akun anonim penebar fitnah kebencian. Merekalah penumpang gelap yang ingin menghancurkan kredibilitas angkatan kelima pilar demokrasi. Tugas yang terakhir ini tak mudah tapi segala ikhtiar bisa kita lakukan.

Di mana fitnah artikel Merpati Putih itu?

Di artikel itu tertulis: “Indopacific pada 16 November kemaren bikin acara semacam training gitu di Singapur dan mengundang beberapa wartawan, termasuk si Ulin ini”. Kelihatan penulis tidak tahu duduk perkara. Fakta awalnya saja keliru, maka fakta-fakta berikutnya adalah mengarang bebas dengan tujuan menebar fitnah dan mencari dukungan simpati publik. Lalu lihatlah kalimat pembuka tulisan tersebut: “Gue temen deketnya…”. Membuat berita bohong memang dimulai dengan kalimat bantahan. Memulai dengan bantahan sejatinya adalah meyakinkan hal yang sebaliknya. berarti bukan teman dekat. Isi tulisan berikutnya tak layak dipercaya.
Tulisan itu menyebut acara di Singapura ada training. Lagi-lagi penulis sok tahu. Acara di Singapura bukan training. Itu acara trip yang dibikin Badan promosi wisata Singapura ! Mengapa penulis menyebut training? Ada dua kemungkinan: penulis mendengar dari ashbabul gosip yang juga dengar dari orang kesekian. Lalu ampailah informasi acara itu ke telinga orang yang bisa memoles kasus dan ditambah faktor dendam kepadaku, maka lengkap sudah pemicu tulisan itu. Kemungkinan kedua: penyebutan acara secara keliru dimaksudkan untuk melindungi beberapa pihak yang terlibat pada acara tersebut. Yang pasti di point ini Safira saat kutelepon pun mengakui kalau artikel itu fitnah.
Di artikel itu seolah-olah aku curhat ke Safira tentang siapa aku. Padahal faktanya tak pernah membicarakan latar belakang dan sejarah pekerjaanku. Kami selalu berlima dan tak pernah duduk berdua. Menempel dengan maksud untuk nyepik, modus tidak pernah ada. Tulisan yang mengudar perjalanan karirku dengan mudah bisa didapat di google. Inilah kombinasi fitnah dan dendam. Lihatlah cara melampiaskan dendam dengan menjadikan perempuan sebagai obyek fitnah. Bukankah itu sama kejamnya dengan pemerkosa. Mungkin mereka mendapatkan kepuasan dari situ? Sayangnya ketika penulis tertawa puas telah berhasil menyebar fitnah pada perempuan, pasti sedang lupa kalau pernah lahir dari rahim perempuan. Menjadikan sebuah isu sebagai bahan fitnah mencerminkan isi kepala penulis.
Tuduhan pelecehan seksual dengan sendirinya terbantahkan dengan penjelasan di atas. Dan sudah kutanyakan langsung ke Safira bahwa ajakan, modus, nyepik itu tak pernah ada. Kami berlima semua orang yang baru kenal di Singapura. Kami itu kemana-mana selalu bersama.

Tulisan ini tidak akan menjawab siapa Merpati Putih secara jelas. Kapan-kapan saja jika ada energi untuk berburu akun anonim. Mari mengurus hidup dan kehidupan dengan karya. Seperti kata Gus Dur: “Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”.

Berkarya apa saja yang penting tetap tegak kepala. Bahkan menjadi gembel atau anak jalanan tak perlu malu. Terima kasih Anak Jalanan - Sandhy Sondoro http://youtu.be/BNMNWns8tMg.

Buat kalian semua semoga kalian menjadi manusia yang bermanfaat.

Untuk Safira dan Edelman, maafkan telah menyeretmu ke dalam pusaran kasus yang tak berujung ini. Artikel di Kompasiana dan Kaskus itu fitnah yang dilakukan akun anonim yang sakit hati sedang menyerang balik.

Akun anonim yang hidupnya dari pekerjaan sebagai tukang spin. Barangkali serangan berikutnya akan muncul, ya itulah risiko hidup. Serangan akan berhenti saat ajal menjemput dan batu nisan telah ditancapkan. Ya kematian hanyalah soal waktu.

Akhirul kalam salam hangat untuk kalian semua, kupersembahkan sajakku buat kalian semua.

Kertas Kesadaran
Jakarta, 12 Mei 2013

Aku mengembara, mengikuti kata hati dan bau parfummu
Jika tak kau temukan lagi jejakku
Carilah nisan tanpa nama di tiap sudut kota dan desa.

Sepeninggalku kelak, engkau akan tahu Akal sehatku tak bisa ditaklukkan oleh sepatu laras, bedil, ratusan tentara dan kekuasaan.

Sepeninggalku kelak, bukalah kertas lusuh yang kusimpan di baju pemberianmu yg kuletakkan di ujung senja
Di sana tertulis: kesadaran bersemayamlah

Aku tulis kata-kata itu dengan darah bibir yang sobek oleh tirani
Simpanlah kertas itu hingga ia hilang di telan waktu.

Jika kata-kata telah menjadi mantera
Ajarkan kepada anak cucumu
Hanya dengan kesadaran kita memiliki harga kemanusiaan

Aku tak mau menjadi pengemis kekuasaan
Menjadi pemulung kursi tak lebih berharga dibanding merangkai puisi bunga dan perlawanan.

Jakarta, 12 Desember 2013 @ulinyusron

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.