1
Rumail Abbas® @Stakof
Pada pagi hari tanggal 17 Oktober 1952, sejumlah perwira berkumpul di SUAD. Mereka membicarakan situasi politik.
Rumail Abbas® @Stakof
Dalam situasi ribut itu, di SUAD terdengar suara² yang menunjukkan sikap perwira AD yang benci terhadap politisi di parlemen.
Rumail Abbas® @Stakof
Kebencian perwira² cukup beralasan, karena politisi² ini sudah terlalu banyak mencampuri urusan militer.
Rumail Abbas® @Stakof
Kata-kata "di-naguib-kan" dan "jangan di-naguib-kan" berseliweran di pertemuan perwira AD itu di SUAD.
Rumail Abbas® @Stakof
FYI: di-Naguib-kan, maksudnya seperti Jendral Mesir yang waktu itu mendaulat Raja Farouk.
Rumail Abbas® @Stakof
TB Simatupang kebetulan datang telat ke SUAD. Saat "naguib" ramai disebut², ia lantas memotong pembicaraan.
Rumail Abbas® @Stakof
"Stop!" kata TB Simatupang, "Kritik, ok, maar geen coup (tapi jangan sampai kudeta!"
Rumail Abbas® @Stakof
Bersamaan dengan TB Simatupang yang memotong pembicaraan para perwira di SAUD, jalan² di Jakarta sudah penuh dengan manusia.
Rumail Abbas® @Stakof
Massa membawa poster dan meneriakkan pembubaran parlemen, serta menuntut diselenggarakan pemilihan umum.
Rumail Abbas® @Stakof
Awalnya orang² ini berkumpul di depan gedung dewan perwakilan, kemudian berpindah ke kediaman #BungHatta.
Rumail Abbas® @Stakof
Jam 10 pagi, mereka sudah sampai di depan Istana Presiden, dan kendaraan² lapis baja serta tank menghadapkan meriamnya justru ke Istana!
Rumail Abbas® @Stakof
Siapa yang menghadapkan meriam² itu ke Istana? Kata Rosihan Anwar, Kemal Idris lah yang memberikan perintah!
Rumail Abbas® @Stakof
Apa yang terjadi kemudian? Massa yang menuntut pembubaran parlemen, akhirnya #Soekarno pun keluar untuk menemui mereka.
Rumail Abbas® @Stakof
Membubarkan parlemen, betul, itulah maksud mereka. Saat #Soekarno keluar menemui mereka, teriakan berubah: "Hidup Bung Karno!!!"
Rumail Abbas® @Stakof
Hal ini lho yang membuat Kemal Idris sakit hati karena membiarkan #Soekarno tampil berpidato di depan massa. Targetnya kan bukan gitu.
Rumail Abbas® @Stakof
Kita simak testimoni John D Legge yang menggambarkan situasi itu; saat #Soekarno menemui massa yang menuntut parlemen dibubarkan.
Rumail Abbas® @Stakof
Dengan tenang #Soekarno menuruni tangga, sementara massa sudah berkumpul di pintu pagar Istana Negara.
Rumail Abbas® @Stakof
Sesampainya di sana, #Soekarno berbicara dengan beberapa orang diantara massa. Tanpa sekalipun memerdulikan ancaman meriam di depannya.
Rumail Abbas® @Stakof
#Soekarno kembali, menaiki tangga, dan berbicara langsung dengan seluruh massa yang ada di depannya.
Rumail Abbas® @Stakof
#Soekarno mengerti ketidakpuasan massa terhadap keadaan di parlemen. Ia pun meyakinkan bahwa akan ada perubahan secepatnya.
Rumail Abbas® @Stakof
Kalau kalian meminta parlemen dibubarkan, itu akan segera dilakukan. Maka akan ada pemilihan umum, selanjutnya. ~kata #Soekarno
Rumail Abbas® @Stakof
Kemudian #Soekarno selesai berpidato. Akhirnya memerintahkan massa untuk bubar. Tanpa pertanyaan, mereka pun patuh. Dan akhirnya bubar.
Rumail Abbas® @Stakof
Di pidato itu, #Soekarno mengatakan tak ingin menjadi diktator. Membubarkan parlemen berarti selangkah maju ia jadi diktator.
Rumail Abbas® @Stakof
Sekembalinya ke Istana, #Soekarno menerima dua kelompok senior militer yang menghadap satu² dengan keadaan kumal sehabis demonstrasi.
Rumail Abbas® @Stakof
Mereka setuju dengan usul demonstran bahwa parlemen perlu dibubarkan. #Soekarno menjawab, hal itu tidak mungkin adanya.
Load Remaining (51)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.