3
Nofie Iman @imanomics
Sesuai request dari pemirsa, saya mau lanjutkan kultwit ttg RDS vs invest ke saham secara langsung. Silakan di-mute bila kurang berkenan.
Nofie Iman @imanomics
1. Jujur saja, pertama kali saya invest di saham secara langsung, dulu saya coba dgn cara meniru/mirroring reksadana saham (RDS).
Nofie Iman @imanomics
2. Logikanya waktu itu simpel saja: kalo saya invest dgn komposisi yg sama dgn reksadana A misalnya, maka returnnya juga akan mirip.
Nofie Iman @imanomics
3. Reksadana yg saya contek waktu itu adalah Schroeder Dana Prestasi. Manajer investasinya Michael Tjoajadi. *halo pak!* =)
Nofie Iman @imanomics
4. Ini adalah contoh isi perut RDS Schroeder Dana Prestasi. Kita bisa contek dari sini. http://t.co/GPpmwdPw
Expand pic
Nofie Iman @imanomics
5. Ini adalah contoh isi perut RDS Trimegah Trim Kapital. Sebelas-duabelas dgn Schroeder. http://t.co/zV8hqkzG
Expand pic
Nofie Iman @imanomics
6. Informasi ini bisa diperoleh dari prospektus reksadana. Seharusnya semua calon investor reksadana bisa mendapatkan info yg lengkap.
Nofie Iman @imanomics
7. Tentu realitanya bisa saja beda, krn isi portofolio RDS saya dapat per akhir tahun. Sementara saya mulai invest tidak di waktu yg sama.
Nofie Iman @imanomics
8. Bisa saja ada beda. Entah itu mereka jual atau beli lagi hingga komposisinya berubah. Atau ada dividen dan perubahan struktur modal.
Nofie Iman @imanomics
9. Tapi saya tak terlalu pusing soal itu. Pokoknya coba aja dulu. Modal awal waktu itu Rp 20jt (2002) dgn buka rekening di satu sekuritas.
Nofie Iman @imanomics
10. Sambil jalan, eksperimen investasi saya ternyata hasilnya lebih tinggi drpd return RDS yang coba saya mirroring tadi. *pamer* Kok bisa?
Nofie Iman @imanomics
11. Saat itu saya baru tahu bahwa reksadana punya keterbatasan dlm komposisi portofolionya. Ia tdk boleh hold suatu saham terlalu banyak.
Nofie Iman @imanomics
12. Padahal bisa jadi ada saham tertentu yg capital gain dan dividennya sangat bagus, tapi tak boleh dimasukkan ke portofolio terlalu besar.
Nofie Iman @imanomics
13. Selain itu, kita jg tdk tahu berapa sering manajer investasi melakukan jual/beli (trading) portofolio. Ada yg sering, ada juga yg idle.
Nofie Iman @imanomics
14. Sementara saya termasuk malas. Saya hanya beli di awal sesuai komposisi. Kalaupun dapat capital gain, saya biarkan, tdk buru2 dicairkan.
Nofie Iman @imanomics
15. Pun ketika saya dapat dividen, dana tsb justru saya belikan saham lagi (top up) utk mengisi portofolio. Walhasil makin lama makin gede.
Nofie Iman @imanomics
16. Portfolio turnover ini penting, karena erat kaitannya dgn fee transaksi. Makin sering jual/beli, makin besar pula biayanya. Okesip?
Nofie Iman @imanomics
17. Kalau transaksi jual yg dilakukan menghasilkan capital gain, maka ia jg kena pajak. Makin sering menjual, makin gede PPhnya.
Nofie Iman @imanomics
18. Masalah lainnya adalah biaya reksadana. Anda tentu sudah tahu ada subscription fee, redemption fee, dan selling fee bukan?
Nofie Iman @imanomics
19. Tapi biaya yg saya maksud adlh biaya reksadana itu sendiri: biaya marketing, operasional, juga jasa manajer investasi & bank kustodian.
Nofie Iman @imanomics
20. Berikut adalah detil penjabaran biaya reksadana milik Schroeder. http://t.co/EmWSJTqI
Expand pic
Nofie Iman @imanomics
21. Walaupun masing2 nilainya cuma 1-3%, tapi buat tukang ojek seperti saya, ngaruhnya bisa lumayan. Little things that really count.
Nofie Iman @imanomics
22. Jadi bisa dimengerti bila RDS kita racik sendiri, jarang diutak-atik, dan minus biaya macam2, tentu hasilnya akan lebih ekonomis bukan?
Nofie Iman @imanomics
23. Sejak itu saya fokus ngurus "RDS" sendiri. Saya jg jadi ngerti knp John Bogle & Warren Buffett menyarankan index fund, not mutual fund.
Nofie Iman @imanomics
24. Dan bicara soal investasi saham itu sendiri (bukan main saham ya), sebetulnya tidak sulit. Lebih sulit milih pasangan hidup kok. #eaaa
Load Remaining (39)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.