0
Pesantren Sidogiri @sidogiri
Selanjutnya, apakah hizib sama dg mantra? Atau apakah hizib itu termasuk khurafat yg akhirnya menjadi terlarang? Ikuti kultwet selanjutnya!
Pesantren Sidogiri @sidogiri
1. “Seandainya hizibku dibaca di Baghdad, maka kota itu tak akan jatuh.” Imam Abul Hasan asy-Syadzili menegaskan soal keampuhan Hizbul Bahr.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
2. Bagi kalangan tertentu, boleh jadi pernyataan beliau itu dianggap terlalu mengada-ada.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
3. Bagaimana mungkin sebuah bacaan doa dapat menghalau gelombang serangan tentara Tartar yang begitu tangguh.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
4. Kalau dilihat dengan kalkulasi lahiriah, sepertinya pernyataan asy-Syadzili memang terlalu mengada-ada.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
5. Namun, perlu juga diketahui, bahwa urusan hizib bukanlah urusan lahiriah. Hizib adlh doa yg ketajamannya tak bisa dikalkulasi dg akal.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
6. Sebagai sebuah doa yg didapat seorang waliyullah dari ilham, maka sgat mungkin doa itu memiliki sisi-sisi keluarbiasaan.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
7. Seperti yg biasa dilihat sebagai karamah para wali. Sebagaimana pula, kemenangan Muslimin di Perang Badar yg di luar kalkulasi lahiriah.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
8. Hizbul Bahr, konon dikarang oleh Imam asy-Syadzili di Laut Merah. Saat itu, beliau sedang berlayar menaiki sebuah kapal.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
9. Di tengah Laut Merah, angin tiba-tiba berhenti. Kapal tak bisa bergerak selama beberapa hari.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
10. Namun, tak berapa lama kemudian, Imam asy-Syadzili melihat Rasulullah datang dengan membawa berita gembira.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
11. Rasulullah menuntun asy-Syadzili membacakan sebuah doa. Syahdan, dengan tiba-tiba angin datang dan kapal bisa bergerak kembali.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
12. Hizib yang dikarang oleh para tokoh sufi, memang tidak seperti penulisan karya-karya ilmiah.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
13. Hizib ditulis dg pengalaman spiritual yg mendalam. Hanya melibatkan kekuatan hati, hampir tak melibatkan ketajaman pikiran sama sekali.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
14. Dalâ’ilul-Khairât yg luar biasa mengakar dlm tradisi wiridan hingga saat ini, ditulis oleh Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli
Pesantren Sidogiri @sidogiri
15. Dalâ’ilul-Khairât lahir sama sekali bukan krn kegelisahan intelektual beliau saat itu, tp murni getaran spiritual yg menguasai hatinya.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
16. Konon, Syekh al-Jazuli hendak melaksanakan salat. Datang ke sumur, tak ada timba yang bisa dibuatnya untuk mengambil air wudu.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
17. Syekh al-Jazuli kebingungan. Tiba-tiba, seorang gadis kecil yang tidak ia kenal datang menghampiri. “Siapa engkau?” tanya gadis itu.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
18. Al-Jazuli perkenalkan dirinya. “Oh, ternyata Tuanlah yg dipuji olh banyak orang. Tp, knp masih bingung tuk mendapatkan air sumur ini!?”
Pesantren Sidogiri @sidogiri
19. Gadis kecil itu meludah ke dalam sumur. Sungguh aneh, airnya naik sampai ke permukaan.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
20. Syekh al-Jazuli terperangah. Beliau langsung berwudu dari air itu, lalu bertanya, “Nak, apa yg membuat engkau bsa mencapai derajat ini?”
Pesantren Sidogiri @sidogiri
21. “Banyak bersalawat kpd Nabi yg apbla beliau berjalan di darat, maka binatang-binatang liar menjadi begitu jinak,” jawab gadis kecil itu.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
22. Berangkat dari pengalaman itu, Syekh al-Jazuli bersumpah untuk menulis sebuah kitab kumpulan salawat.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
23. Dan, dari pengalaman spiritual itu pula muncul karya agungnya Dalâ’ilul-Khairât.
Pesantren Sidogiri @sidogiri
24. Cukup banyak syekh-syekh sufi yang menyebarkan karya al-Jazuli ini kepada murid-murid mereka.
Load Remaining (30)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.