15/Feb/2014 07:48:13 AM PST
nun maiyah kenduri cinta indonesia cak mocofat syafaat maiyahan +

Cak Nun : Rupiah dan Dajjaliyah

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.
Click here to add to Favorites.
0


  • Tulisan ini tidak mengupas soal gejolak rupiah. Saya belum gendheng. Bukan saja karena bukan ahli ekonomi. Bahkan benar-benar saya tidak mengerti ekonomi. Pahamnya saya kasih duit dua ribu rupiah, dapat sebungkus rokok.

    Yang saya lakukan justru menyodorkan sejumlah paket kepada sampeyan, koen, peno, ndiko, riko, panjenenganipun maupun awakmu, untuk dirasani, digunjing-gunjingkan di warung, didiskusikan, kalau sempat.

    Kalau tidak ya biarkan saja, wong diskusi sampeyan-sampeyan ini tidak akan memperkuat atau memperlemah kekuatan bargain rupiah terhadap dolar maupun terhadap mata uang kerajaan Ratu Bulkis sekalipun. Meskipun sampeyan diskusi sampai mblenek dan bengok-bengok sampai tenggorokan mencolot, rupiah akan tetap dengan iramanya sendiri, di mana kaitannya dengan sampeyan hanyalah bahwa sampeyan ini terkena akibatnya. Di negeri dan di dunia ini sampeyan bukan subjek, melainkan objek. Sampeyan jadi subjek hanya dalam menentukan hal-hal remeh-remeh, serta dalam kosmos mimpi sampeyan sendiri.

    Hanya saja saya jamin rupiah tidak akan sampai ke posisi mata uangnya Ashabul Kahfi, yang tertidur selama 309 tahun sehingga ditertawakan orang di seluruh pasar dunia tatkala hendak dipakai untuk menjadi nilai tukar.

    *

    Paket yang saya sodorkan itu misalnya begini.

    Pertama, kalau mau tanya soal grafik “harga diri” rupiah di tengah dunia persilatan ekonomi global — jangan hanya temui Pak Saleh Afif, Pak Mar’ie Muhammad, Pak Sudradjad Djiwandono. Jangan pula malah menanyakan ke Majlis Ulama atau Lajnah I’lai Darrojati Rubiah organisasi Islam manapun.

    Tanyakan juga kepada Kepala Negara Dajjal yang batas kekuasaannya tidak dihalangi oleh garis perbatasan geografis dan politis apa pun.

    Dajjal bukan dunia fantasi. Bukan science fiction. Bukan mitologi. Bukan klenik. Bukan metafora bahasa agama — meskipun memang sampeyan perlu shalat kasyful hijab dua rakaat untuk memohon berjumpa dengan Baginda Sulaiman ‘alaihissalam — untuk mendapatkan informasi dan wacana mengenai tugas-tugas dan strategi global Dajjal di bumi.

    *

    Lebih jelasnya, kedua, terbanglah juga ke kantor-kantor rahasia negeri dan millennium israiliyat, yang berpusat justru tidak di Timur Tengah yang ribut melulu di dunia maupun akhirat. Melainkan di balik meja-meja dan di bawah taplak-taplak kantor pemerintahan negara adikuasa, semi adikuasa, maupun yang rela ataupun tak rela menjadi pekatik-pekatik dari keadikuasaan mereka.

    Anda tidak cukup hanya berpikir ada spekulan, ada petualang, ada kecurangan-kecurangan tersembunyi di mana negeri-negeri Asia Tenggara di-plekotho kali ini, sehingga Bung Mahathir yang berani gagah itu menantangnya. Harus diperjelas piranti lunak dan piranti keras daulah mereka di muka bumi ini, yang tidak pernah disebut-sebut oleh koran dan segala macam media massa.

    *

    Ketiga, kita digangguin dan dirongrong dari luar, tapi kita juga mengganggu dan merongrong diri kita sendiri.


  • Kita ikut mengizinkan konglomerasi sampai ke titik sangat optimum, yang hampir sama sekali tidak memungkinkan penataan kesejahteraan nasional yang adil dan maksimal. Kemudian di-kemplang dengan tak bisa dielakkannya milik-milik mereka ke mancanegara.

    Untung Tuhan bikin alam negeri ini kaya-raya, termasuk “kearifan kultur kemiskinannya di antara rakyat” sedemikian rupa sehingga masih bisa dihindarkan situasi collapse nasional.

    Itu pun sesungguhnya kita masih memiliki sangat-sangat banyak warisan harta dari tokoh nasionalis zuhud yang menjadi kekasih pertama bangsa Indonesia. Tanyakan kepada tetanggamu hal-hal mengenai Dana Ampera (jangan dijerumuskan oleh istilah “Dana Revolusi” yang memang dipasang untuk mengelabui pengetahuan dan perhatian Anda).

    Sekurang-kurangnya cari tahu siapa itu yang rampal untune di sebuah kota kecil di tengah-tengah sana gara-gara bersumpah seperti “Bilal” di depan Umayyah — tidak akan bersedia melepaskan warisan yang (sebagian) diamanatkan ke genggaman tangannya untuk dibagi 60% untuk “penodong resmi”-nya dan hanya 40% untuk rakyat kecil.

    *

    Panjang kalau saya teruskan. Sekarang sudah jam 22.45. Hampir deadline. Tulisan ini saya persingkat.

    Paketnya saya tambahi satu lagi saja: bagi orang-orang yang tidak begitu punya rupiah seperti sampeyan dan saya, naik turunnya maqam rupiah sebenarnya akan berakibat mirip-mirip saja. Rupiah naik kita yang menderita. Rupiah turun ya menderita.

    Pokoke bekupon omahe doro, melok Kliwon tambah sengsoro.

    Arsip dan Dokumentasi Progress.
    Tulisan ini dipubilkasikan di Harian Jawa Pos, 24 Agustus 1997, dengan tajuk: Analisis “Moneter Ashabul Kahfi” Emha Ainun Nadjib.

Comment

    No comments yet. Write yours!